Saturday, February 15, 2020

Arya Penangsang dan Kisah Penuntutan Haknya sebagai pewaris Demak



Arya Penangsang atau Arya Jipang atau Ji Pang Kang adalah Raja Adipati Jipang yang memerintah pada pertengahan abad ke-15. Kisah yang paling terkenal adalah perebutan kekuasaan terhadap tahta Demak hingga cerita tentang tewasnya Arya Penangsang dalam medan pertempuran.
Menurut Serat Kanda, Ayah dari Arya Penangsang adalah Surowiyoto atau Raden Kikin atau sering disebut juga sebagai Pangeran Sekar, ia adalah putra Raden Patah raja Demak pertama. Ibu Raden Kikin adalah putri Raja Jipang. Sehingga Arya Penangsang bisa mewarisi kedudukan kakeknya sebagai Penguasa Jipang.
Dalam Kerajaan Demak sendiri, system suksesi kepemimpinan adalah melalui keturunan seperti system kerajaan monarki lainnya. Sehingga secara hukum ada 3 pihak yang berkemungkinan sebagai penerus tahkta kerajaan Demak. Dalam urutan dari tertua yakni Raden Surya(Putra pertama, yang akan lebih dikenal sebagai Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor) dan yang kedua adalah Raden Kikin dan anak yang lebih muda dari Raden Kikin yakni Raden Trenggono (yang menjadi Raja Demak ketiga-Sultan Trenggono).
Pada masa pemerintahan Raden Patah pada tahun 1512 memerintahkan agar membebaskan Malaka dari Portugis. Adipati Unus memimpin pasukan penyerangan itu yang lebih dikenal sebagai Ekspedisi Jilid 1. Sepeninggal Raden Patah, tampuk kekuasaan dilanjutkan kepada Raden Surya yang lebih dikenal sebagai Adipati Unus dengan wasiat sendiri dari Raden Patah. Dalam sebuah riwayat ada yang mengatakan bahwa Pati Unus adalah menantu dari Raden Patah. Setelah Adipati Unus atau dikenal juga Pangeran Sabrang Lor berkuasa beliau melanjutkan ekspedisi untuk mengusir Portugis dari Malaka yang pernah mengalami kegagalan dan mempersiapkan penyerangan yang lebih matang. Adipati Unus ingin membebaskan Malaka dari Portugis sehingga memimpin sendiri pasukan itu. Dalam Ekspedisi kedua ini Adipati Unus tewas dalam medan pertempuran pada tahun 1521. Nantinya di kemudian hari Portugis dan bangsa Eropa lainnya menjadi penjajah atas bangsa-bangsa di Nusantara selama berabad abad.
Terjadi kekosongan kekuasaan dalam Kerajaan Demak, sehingga terjadilah perebutan kekuasaan antara Raden Kikin dan Raden Trenggono. Karena tidak ada keturunan dari Adipati Unus(dalam cerita lain disebutkan bahwa anaknya yakni Raden Abdullah masih sangat kecil dan berada di Banten, karena alasan keamanan tetap tinggal di Banten tidak ke Demak). Dalam kisah selanjutnya dimana terjadi perebutan kekuasaan atas kedua pihak, Raden Kikin yang mempiliki 2 orang putra yakni Arya Penangsang dan Arya Mataram, sedangkan Raden Trenggana memiliki putra yang bernama Raden Mukmin yang disebut juga Sunan Prawata. Ayah Arya Penangsang tewas dibunuh di tepi Sungai sepulang shalat Jumat. Para pengawalnya sempat membunuh Ki Sunyata. Sejak saat itu dikenal lah dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lapen (Bunga yang gugur di sungai). Dan dengan bukti ini lah dapat disimpulkan bahwa pembunuhan atas Raden Kikin adalah tanggung jawab Sunan Prawata. Dengan ini maka Sultan Trenggono naik tahta dan memimpin Kerajaan Demak. Tahun 1521 Sultan Trenggana naik takhta dan pemerintahannya berakhir pada 1546 saat ia gugur dalam upaya penakhlukan Panarukan dan Situbondo (Sekarang masuk wilayah Jawa Timur).
Sementara itu sepeninggal Raden kikin Arya Penangsang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Jipang. Saat itu usianya masih anak-anak, sehingga pemerintahannya diwakili Patih Matahun. Ia dibantu oleh salah satu senapati Kadipaten Jipang yang terkenal bernama Tohpati. Wilayah Jipang sendiri saat ini terletak di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Arya Penangsang yang ayahnya dibunuh menjadi dendam dengan Sultan Trenggono. Dendam itu terus terpelihara hingga pengikut Arya Penangsang melakukan pembunuhan terhadap Sunan Prawoto pada tahun 1549 sebagai balas dendam karena Sunan Prawoto telah membunuh P. Surowiyoto (Sekar), Bapak dari P. Arya Penangsang demi menaikkan Trenggana (Bapak Sunan Prawoto) menjadi Raja Demak ke 3.  Setelah membunuh Sunan Prawoto Arya Penangsang lalu menjadi raja Demak ke 5 atau Penguasa terakhir Kerajaan Demak dan memindahkan pusat Pemerintahan nya ke Jipang, sehingga pada masa itu dikenal dengan sebutan Demak Jipang. Namun pada tahun 1554 Arya penangsang tewas dibunuh Pasukan pemberontak kiriman Hadiwijaya, penguasa Pajang. Riwayat mengenai Arya Penangsang tercantum dalam beberapa serat dan babad yang ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19), seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Arya Penangsang juga terkenal sakti mandraguna serta memiliki kepribadian yang tegas dan kukuh, baginya tidak ada kata kompromi dalam membela dan mempertahankan kebenaran. Sifat yang demikian ternyata telah membuat gerah banyak pihak, alhasil entah siapa yang mengomandoi para generasi penulis sejarah ini sehingga secara keroyokan telah menghakimi sejarah P. Arya Penangsang. Disebutkan dalam tulisan sejarahnya bahwa Arya Penangsang adalah orang yang punya kepribadian kurang baik, pemberontak dan pembunuh, tempramental serta kurang sabar dalam melakukan sesuatu.
Ratu Kalinyamat, adik Sunan Prawoto, menemukan bukti kalau Sunan Kudus terlibat pembunuhan kakaknya. Ia datang ke Kudus meminta pertanggungjawaban. Namun jawaban Sunan Kudus bahwa Sunan Prawoto mati karena karma,pernyataan sunan ini membuat Ratu Kalinyamat kecewa. Ratu Kalinyamat bersama suaminya pulang ke Jepara. Di tengah jalan mereka diserbu anak buah Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos, sedangkan suaminya, yang bernama Pangeran Hadari, terbunuh. Arya Penangsang kemudian mengirim empat orang utusan untuk membunuh Hadiwijaya , menantu Raden Trenggana yang menjadi Adipati Pajang, namun ke empat utusan itu dapat dikalahkan Hadiwijaya dan dipulangkan secara hormat bahkan di beri hadiah pakaian Prajurit oleh Hadiwijaya.
Kemudian Hadiwijaya ganti mendatangi Arya Penangsang untuk mengembalikan keris Kyai Setan Kober. Keduanya lalu terlibat pertengkaran dan didamaikan Sunan Kudus. pada kesempatan itu sunan kudus memberikan tuah rajah yang sedianya disiapkan untuk tempat duduk Hadiwijaya, akan tetapi atas nasihat dari salah satu punggawanya adipati Pajang Hadiwijaya tidak menempati nya yang lalu diduduki oleh Arya Penangsang, padahal sebelumnya telah di wanti-wanti oleh sunan kudus agar tidak menempati tempat yang telah di beri Tuah rajah Kalacakra itu.
Setelah Hadiwijaya pulang Sunan Kudus menyuruh Arya Penangsang melakukan puasa 40 hari untuk menghilangkan Tuah Rajah Kalacakra. Dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Adipati Pajang Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya agar segera membunuh Arya Penangsang, dirinya yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Hadiwijaya menang.
Hadiwijaya segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena merasa dirinya hanya sebagai mantu keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Mataram. Kedua kakak angkat Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara itu.demikian juga putra kandung ki ageng pemanahan yang bernama Sutawijaya ikut pula mendaftar dalam sayembara. Oleh karenanya Hadiwijaya mengerahkan pasukan Pajang dan memberikan Tombak Kyai Plered, untuk membantu Ki Ageng Pemanahan dan putra kandung nya, yaitu Sutawijaya untuk mengalahkan Sultan Demak 5 Arya penangsang .
Ketika pasukan Pajang datang menyerang Kotaraja Jipang, saat itu P. Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan adik Arya Penangsang ( Arya Mataram), Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.
Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Sore. dalam perang itu perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian kesaktian yang dimiliki oleh Arya Penangsang membuatnya tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang.
Arya Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong sehingga menyebabkan kematiannya. Dalam pertempuran itu Ki Matahun, patih Jipang tewas pula, sedangkan Arya Mataram berhasil meloloskan diri.
Dampak budaya
Ada yang berpendapat bahwa untaian bunga melati dalam keris pengantin pria jawa diibaratkan sebagai laki-laki harus sabar dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Akan tetapi bagi masyarakat di Kabupaten Blora maupun Kabupaten Bojonegoro berpendapat lain. Untaian bunga melati pada keris pengantin pria Jawa diibaratkan sebagai lambang kegagahan Arya Penangsang. Meskipun telah terburai isi perutnya, namun Arya Penangsang tetap masih mampu tegap berdiri hingga titik darah penghabisan. Dari perlambang itu, diharapkan sang pengantin laki-laki kelak bisa menjaga kemakmuran, kebahagiaan, keutuhan dan kehormatan rumah tangga meski dalam keadaan kritis seperti apa pun. Seperti halnya Arya Penangsang yang tetap memegang prinsip hingga ajal tiba.

Referensi       :

Previous Post
Next Post

0 komentar:

Artikel Terbaru