Sunday, August 22, 2021

Asal-usul dan Legenda Kesongo

 


Legenda kesongo erat kaitannya dengan cerita Aji Saka dan Jaka Linglung. Kita bisa memulai cerita dari Jaka Linglung yang mengaku anak Aji Saka yang merupakan raja kerajaan Medhangkamulan. Cerita mengenai kelahiran Jaka Linglung dan cerita Aji Saka dapat dibaca di cerita lain. Jaka Linglung sendiri berwujud ular, oleh karena itu Aji Saka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai putranya. Akan tetapi hal ini tidak dikatakan secara langsung bahwa Aji Saka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai putranya. Maka dari itu Aji Saka menolak secara halus dengan mengajukan syarat kepada Jaka Linglung. Syarat dari Aji Saka itu adalah untuk menumpas Bajul Putih (siluman buaya) yang menebar terror di pantai selatan Jawa. Bajul Putih sendiri merupakan jelmaan Dewata Cengkar yang merupakan musuh Aji Saka di masa lalu.

Berangkatlah Jaka Linglung untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh Aji Saka.singkat cerita bertarunglah Jaka Linglung dengan Bajul Putih. Dalam pertempuran itu Jaka Linglung berhasil membunuh Bajul Putih dan membawa kepalanya kepada Aji Saka.

Ada cerita yang menyebutkan bahwa Aji Saka langsung mengajukan syarat kedua. Sementara itu di sisi lain ada yang menyebutkan bahwa Aji Saka sudah mengakui Jaka Linglung sebagai anaknya dan Jaka Linglung diijinkan tinggal di kerajaan Medhangkamulan.

Setelah tinggal di kerajaan medhangkamulan karena Jaka Linglung berwujud ular maka makanannya sendiri adalah unggas atau hewan ternak. Pada mulanya tidak terlalu sering, tapi seiring dengan berjalannya waktu karena tubuh Jaka Linglung yang semakin besar dan porsi makannya semakin banyak. Hamper setiap hari ada penduduk yang melaporkan kepada Aji Saka bahwa ternak mereka dimakan oleh Jaka Linglung. Hal ini membuat penduduk resah dan tidak tentram.

Karena Aji Saka adalah seorang Raja maka sudah sewajarnya dia memperhatikan rakyatnya. Dikarenakan laporan warga tersebut Aji Saka memanggil Jaka Linglung "Wahai putraku Jaka Linglung, akhir-akhir ini kamu telah membuat masyarakat Medhangkamulan resah, karena ternak mereka kamu makan". "Sebagai hukuman atas perbuatanmu, aku perintahkan engkau bertapa di hutan, dan jangan makan apapun kecuali mangsa itu datang sendiri" demikian perintah Aji Saka. Mendengar hal itu dan demi menunjukkan bhakti kepada orang tuanya Jaka Linglung segera melaksanakannya. Jaka Linglung berangkat bertapa di hutan.

Jaka Linglung mematuhi segala perintah Aji Saka dengan bertapa di hutan dan tidak makan apa-apa kecuali jika mangsa itu datang sendiri. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun Jaka Linglung masih melaksanakan perintah Aji Saja untuk bertapa di hutan. Tubuhnya yang besar dan karena telah lama dia bertapa, sampai akhirnya menyerupai goa. Ada yang mengatakan bahwa Jaka Linglung bertapa dan membuka mulutnya berlangsung hingga ratusan tahun.

Lalu pada suatu hari dikisahkan ada 10 anak sedang menggembala kambing. Cuaca secara tidak terduga berubah awan menjadi gelap dan turun hujan deras disertai petir. Meskipun telah sebagian terlanjur kebasahan anak-anak itu mencari tempat berteduh. Secara tidak sengaja anak itu menemukan sebuah goa. 10 anak gembala itu pun berteduh di sana. Ada satu anak dari sepuluh anak tersebut menderita penyakit kulit(gundhik), karena basah terkena hujan penyakit kulit itu menimbulkan bau anyir. Oleh Sembilan anak lainnya anak itu diusir dari dalam goa karena baunya yang mengganggu anak lainnya. Karena tidak bisa melawan anak itu keluar dari goa. Tak lama setelah dia keluar dari goa, secara tiba-tiba goa itu menutup. Ternyata goa itu adalah Jaka Linglung yang berwujud ular besar. Anak itu lalu lari demi menyelamatkan diri dan mengabarkan kepada penduduk desa tentang peristiwa itu.

Untuk memperingati peristiwa itu, tempat hilangnya Sembilan anak penggembala kambing itu dinamakan pesongo (kesongo). Kesongo sekarang masuk wilayah Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sekarang kesongo menjadi tempat wisata yang terletak di area perhutani KPH Randublatung berada di sebelah utara Desa Gabusan kurang lebih 1,5 KM dari Dukuh Sucen Desa Gabusan.

Referensi :
https://www.bloranews.com/kesongo-belajar-dari-kepatuhan-jaka-linglung/
https://dlh.grobogan.go.id/2-uncategorised/869-legenda-kesongo
https://www.kompasiana.com/gneoga/550ee21aa33311ad2dba8234/aji-saka-part-iii-kesongo
https://www.liputan6.com/regional/read/4341405/legenda-jaka-linglung-dan-bergolaknya-oro-oro-kesongo-blora
https://www.murianews.com/2020/08/29/194443/ada-kisah-ular-raksasa-jaka-linglung-di-kesongo-blora-yang-terkenal-karena-semburan-lumpur.html
https://regional.kompas.com/read/2020/09/01/10052841/legenda-di-balik-lumpur-kesongo-yang-telan-17-ekor-kerbau-kisah-ular-raksasa?page=all
gambar : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5152693/letusan-kawah-oro-oro-kesongo-fakta-dan-legenda-tragis-di-baliknya


 

Previous Post
Next Post

0 komentar:

Artikel Terbaru