Wednesday, November 9, 2022

Festival Barongan Nusantara Kembali hadir dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Blora ke-273

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Blora ke-273 Festival Barongan tingkat Nasional kembali digelar. Rencana pagelaran Festival Barongan Tingkat Nasional dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 November 2022. Ini merupakan rangkaian acara dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Blora yang jatuh pada 11 Desember.

Kegiatan ini disambut baik Ketua Paguyuban Seni Barongan Adi Wibowo, seperti dilansir dari lingkarjateng.com. Ari Wibowo sangat mendukung dan siap memeriahkan festival tersebut. Kesenian barongan sendiri telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO.


Festival Barong Nusantara 2022

Gambar : Poster Festival Barongan Nusantara

Acara Festival Barongan Nusantara dijadwalkan digelar mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 11.00 malam WIB. Untuk rute Festival Barongan Nusantara dari Jalan Pemuda Blora, sebagian Jalan Ahmad Yani sampai ke Lapangan Kridosono Blora.

Rangkaian acara Festival Barongan Nusantara terdiri dari Parade Barongan Blora, Rancak Rampak 1000 Barongan hingga Malam Puncak Anugerah Festival Barongan Nusantara Jawa-Bali 2022.

Dikutip dari blorakab.go.id Festival Barongan Nusantara 2022 akan diikuti 40 grup. Masing-masing dari 40 grup ini ada 8 kepala Barongan.

Acara ini tentu akan mendukung industry ekonomi kreatif serta pariwisata Kabupaten Blora, lebih dari itu acara ini juga bagian untuk melestarikan seni tradisional karena Barongan Blora adalah peninggalan leluhur yang harus kelestariannya dan mempunyai ciri khas tersendiri. Di dalam Barongan Blora mengandung sifat-sifat kerakyatan masyarakat seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, kasar, keras, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran.

Saturday, September 10, 2022

Watak Tembang Macapat dan Tahapan Kehidupan Manusia

 

Macapat adalah salah satu bentuk karya sastra  yang berbentuk puisi yang dapat ditembangkan atau dinyanyikan sebagai sebuah ciri khas kesusastraan Timur. Macapat juga dapat dikategorikan masuk dalam kelompok seni membaca atau resitasi. Istilah macapat atau dapat disamakan dengan macapot dan macapet sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak sekitar 1500 tahun SM atau masa pra sejarah. Tembang macapat memiliki ciri khas dalam setiap jenisnya yakni adanya aturan guru lagu, guru gatra, dam guru wilangan. 11 jenis tembang macapat itu yakni Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom. Asmarandhana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung.

Setiap tembang macapat memiliki watak sendiri-sendiri dan merupakan gambaran dari tahapan kehidupan manusia. Tembang macapat memiliki makna filosofi yang sangat dalam, maka dari itu sekarang kami akan mengulas sedikit tentang watak-watak tembang macapat dan tahapan dalam kehidupan manusia.

Maskumambang

Tahapan pertama diawali dengan tembang Maskumambang dengan 12i, 6a, 8i, 8a. Tembang Maskumambang mengandung filosofi hidup manusia dari awal penciptaannya, jadi Tembang Maskumambang menggambarkan tahap awal penciptaan manusia sebagai embrio yang sedang bertumbuh dalam Rahim ibu dan masih belum diketahui jati dirinya, belum juga dapat dikatakan dan diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan.

Tembang Maskumambang menggambarkan watak kesedihan atau duka, serta suasana hati yang nelangsa, laram prihatin, mengiba, gundah, resah atau bisa juga digambarkan mengambang.

Mijil

Tembang Mijil dengan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u memiliki filosofi penggambaran bentuk dari biji atau benih yang telah lahir di dunia. Jadi mijil merupakan perlambangan awal mula perjalanan manusia di dunia, sebagai awal permulaan perjalanan manusia yang masih suci dan begitu lemah sehingga membutuhkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya. Mijil juga dapat diartikan sebagai keluar, masih ada hubungannya dengan kata Wijil yang merupakan persamaan kata dari lawing atau pintu.

Watak tembang Mijil ini sesuai untuk menyampaikan nasehat, cerita-cerita, dan tentang asmara, berwatak terbuka. Mijil cocok untuk menghantarkan nasehat, melahirkan rasa sedih atau rasa sendu.


Kinanthi

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Kinanthi yakni 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i berasal dari kata ‘kanthi’ yang berarti menggandeng atau menuntun. Tembang Kinanthi menggambarkan kehidupan manusia ketika masih anak-anak, anak kecil yang masih perlu dituntun hingga nantinya dapat berjalan sendiri dengan baik di dunia.

Watak tembang Kinanthi yakni memberikan nuansa kasih sayang, kebahagiaan, serta keteladanan hidup. Lirik tembang Kinanthi cocok untuk menyampaikan wejangan, nasehat hidup, serta seputar ungkapan cinta atau kasih sayang.

Sinom

Tembang Sinom dengan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a mempunyai arti pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Tembang Sinom mengandung filosofi penggambaran sebagai manusia yang mulai beranjak dewasa, telah menjadi seorang pemuda / remaja yang bersemi. Sebagai seorang pemuda juga menjadi tanggung jawab dan tugasnya untuk menuntut ilmu sebaik dan setinggi mungkin.

Tembang Sinom memiliki watak  tresna asih, canthas, trengginas, luwes, grapyak, dan senang mencari pengelambana atau berpetualang.

Asmarandhana

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Asmaradana yakni 8i, 8a, 8e/o, 8a, 7a, 8u, 8a, berasal dari kata ‘asmara’ yang dapat diartikan sebagai cinta kasih dan dana berarti api, dapat dikatakan berarti api asmara. Filosofi tembang Asmarandana mengenai perjalanan hidup seseorang yang telah tiba waktunya untuk cinta kasih bersama pasangan hidup. Pada hakikatnya kehidupan cinta merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai kaidah penciptaan yang berpasang-pasangan. Asmarandana cocok untuk mengungkapkan rasa rindu, rayuan disertai juga dengan rasa pilu atau sedih.

Gambuh

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Gambuh yakni 7u, 10u, 12i, 8u, 8o dan Tembang Gambuh mengandung arti menyambungkan, ada juga yang mengatakan sama dengan kata ‘Jambuh’ atau cocok. Tembang Gambuh dapat digambarkan tentang perjalanan hidup manusia yang telah menemukan pasangan yang cocok untuk dirinya. Tembang Gambuh mengandung rasa akrab dan bagus untuk menyampaikan nasehat yang bersungguh-sungguh, atau santai dan akrab.

Tembang Gambuh memiliki watak kerukunan, kekeluargaan, dan kebersamaan makhluk sosial.

Dhandhanggula

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Dhandhanggula yakni 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a berasal dari dua kata ‘dhandhang’ dan ‘gula’. Dhandhanggula dapat diartikan sebagai tempat sesuatu tempat yang manis. Tembang Dhandhanggula mengisahkan tentang kehidupan dengan pasangan baru yang tengah berbahagia karena telah mendapatkan yang dicita-citakan. Tembang Dhandhanggula tembang yang bermakna serba manis, menyampaikan suasana serba manis, menyenangkan dan mengasikkan. Dhandhanggula melahirkan suasana perasaan yang menyenangkan, menghantarkan ajaran yang baik, mengasikkan dan mengungkapkan rasa kasih, melukiskan rasa keindahan dan keselarasan.

Watak Tembang Dhandhanggula bersifat universal dan luwes serta merasuk ke dalam hati.

Durma

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Durma yakni 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i dari kata Durma memiliki arti pemberian. Tembang Gambuh memiliki filosofi yang mengisahkan kehidupan yang suatu ketika dapat mengalami duka, selisih, serta kekurangan akan suatu hal. Sementara menurut Hardjowirogo kata Durma berarti sima atau harimau yang mempunyai watak kasar, bengis dan bernuansa keras karena merupakan hewan pemakan daging.

Watak tembang Durma ini melukiskan suasana keras, tegang, ungkapan kemarahan, gambaran pertikaian yang serba tegang atau nasehat yang keras.

Pangkur

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pangkur yakni 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i. Tembang Pangkur berasal dari kata ‘mangkur’ berarti pergi atau meninggalkan. Filosofi tembang Pangkur merupakan penggambaran kehidupan yang seharusnya dapat menghindari berbagai hawa nafsu dan angkara murka serta sifat buruk.

Watak Tembang Pangkur bernuansa pitutur(nasehat), pertemanan, dan cinta. Dalam tembang ini mengisahkan manusia yang telah menginjak usia senja, orang itu mulai mangkur atau mengundurkan diri dari hal-hal keduniawian. Tembang Pangkur juga ada menurut Hardjowirogo berarti buntut atau ekor. Ini bermakna ujung yang dapat mengacu pada puncak.

Megatruh

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Megatruh yakni 12u, 8i, 8u, 8i, 8o. Tembang Megatruh berasal dari dua kata ‘megat’ dan ‘roh’ diartikan sebagai putus rohnya atau terlepasnya roh. Filosofi tembang ini adalah tentang perjalanan hidup manusia yang telah selesai di dunia atau telah berpulang pada yang pencipta. Ini merupakan sebuah keniscayaan bahwa roh manusia pasti akan dan harus putus dari raganya dan pada saatnya itulah harus kembali menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Singkatnya dapat dikatakan tembang ini bermakna mati atau meninggal dunia. Tembang ini mengisyaratkan suasana sedih, sendu, duka, sesal, pedih, dan merana.

Watak tembang Megatruh yakni kesedihan dan kedukaan.

Pocung

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pucung yakni 12u, 6a, 8i, 12a. Tembang Pocung berasal dari kata ‘pocong’ yang merupakan kondisi seseorang yang telah meninggal yang dibungkus kain kafan dan dipocong sebelum dikebumikan. Filosofi Tembang Pocung menggambarkan adanya ritual dalam melepaskan kepergian seseorang, yakni upacara pemakaman. Sementara dalam pendapat lain kata pocung berarti buah keluak. Menurut tradisi tutur, buah keluak ini dapat digunakan sebagai obat mencegah penyakit darah tinggi serta mengurangi ketegangan. Maka dari itu tembang Pocung cocok untuk menciptakan suasana santai, tidak tegang, jenaka dan riang, serta nasehat yang akrab.

Watak tembang ini lebih santai dan disampaikan dengan cara menghibur.

 

 

Friday, July 1, 2022

Sedekah Bumi, Bangkitkan Semangat Gotong Royong dan Pelestarian Seni Tradisi

Ratusan warga dukuh Glagahan Desa Jepangrejo Kec/Kab. Blora tak beranjak dari tempat duduk menyaksikan pertunjukan wayang kulit, Selasa (28/6/2022) malam.



Kerinduan menonton seni tradisional tinggalan leluhur seakan terobati setelah dua tahun terjeda akibat pandemi COVID-19.

Warga setempat secara gotong royong, iuran untuk menampilkan pertunjukan musik dan wayang kulit dalam rangka sedekah bumi.

Acara yang digelar di halaman depan rumah Kepala Desa Jepangrejo Sugito, diawali dengan laporan ketua panitia sedekah bumi dukuh Glagahan.

"Kami menyampaikan terimakasih kepada semua warga dukuh Glagahan yang ikhlas menyisihkan rejeki sehingga acara bisa terlaksana. Ini adalah puncak tasyakuran sedekah bumi dukuh Glagahan, siangnya tadi ada pentas musik," kata Ahmad Kasturi, ketua panitia.

Pihaknya, mengapresiasi keguyuban panitia yang telah bekerja maksimal, terutama dalam penggalangan dana.

Dalam laporannya, Kasturi menyampaikan satu persatu perolehan dana baik dari perseorangan, pengusaha, PNS, sejumlah RT dan RW serta perangkat desa di wilayah dukuh Glagahan.

"Jadi ini secara transparan dan profesional kami sampaikan," ucapnya.

Ia menyebut, bahwa wayang kulit yang ditampilkan dalang Sujiarto Jreng, tidak hanya sebagai tontonan, melainkan sebagai tuntunan dan tatanan.

Kepala Desa Jepangrejo Sugito, dalam sambutannya antara lain mengatakan pertunjukan wayang kulit yang ditampilkan sebagai wujud ungkapan syukur kepada Allah SWT atas berkah, kesehatan serta rezeki, sehingga secara bersama, sukarela dan guyub rukun warga Glagahan bisa menggelar acara musik dan wayang kulit.

"Wayang kulit ini ditampilkan sekaligus sebagai upaya sesarerangan melestarikan seni tradisi, yang sekaligus mengedukasi pendidikan budi pekerti serta kepribadian," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Sugito mohon doa dan restu, akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekkah bersama istri.

Sementara itu H. Ansori, sebelum memimpin doa, menyampaikan arahan terkait pelaksanaan ibadah haji dan sekilas tentang tradisi sedekah bumi.

Ia mengajak warga Glagahan untuk saling mendoakan supaya selalu dalam lindungan Allah SWT.

Pertunjukan wayang kulit dengan lakon Sesaji Rajasuyo (Pandawa Syukur) diawali dengan penyerahan tokoh wayang oleh Kamituwo Glagahan Supardi kepada Dalang Sujiarto Jreng.

Pagelaran wayang kulit pun berjalan lancar dan sukses hingga selesai.

Hadir pada acara itu, Sekcam Blora Setyo Pujiono, S.Sn., mewakili Camat Blora Drs. Bambang Sugianto,MM.
Turut hadir sejumlah Kades dan perangkat desa sekitar serta Babinkamtibmas dan Babinsa wilayah setempat.

Sumber : www.blorakab.go.id

Saturday, September 11, 2021

Tembang Macapat, Guru Lagu, Guru Gatra, lan Guru Wilangan

Tembang Macapat, Guru Lagu, Guru Gatra, lan Guru Wilangan

 

Tembang Macapat yaiku puisi bertembang karena pembacaannya ditembangkan. Jadi, pembacaan harus sesuai dengan susunan titilaras atau notasi yang sama dengan pakemnya.

Bagi masyarakat jawa, tembang macapat yaiku salah sawijining tembang kang ngrembaka ing tlatah Jawa kang nduweni sawehening paugeran. Terdapat 11 jenis tembang macapat yang dikenal oleh masyarakat Jawa.

Setiap tembang macapat memiliki aturan masing-masing, tembang macapat juga memiliki arti dan watak yang berbeda. Aturan-aturan dalam Tembang Macapat yakni adanya guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra. Guru lagu yakni merupakan persamaan bunyi sajak pada akhir kata dalam setiap baris, bunyi lagu pada setiap akhir baris yakni (a,i,u,e,o) disebut dong dinge swara. Sementara guru wilangan adalah jumlah suku kata pada setiap baris, dan guru gatra sendiri adalah cacahing larik utawa baris saben bait, jadi guru gatra adalah jumlah baris dalam setiap lagu.

Contohnya misalnya dalam tembang Pucung yang memiliki aturan guru gatra 4 dan guru wilangan 12,6,8,12 dan dengan guru lagu u, a, i, a. jadi tembang Pucung terdiri dari 4 baris dengan aturan dibaris pertama 12 suku kata dengan akhiran u, 6 suku kata dengan akhiran a, 8 suku kata dengan akhiran I, 12 suku kata dengan akhiran a, jika diimplementasikan jadi seperti ini contohnya.

Ngelmu niku kelakone kanthi laku

Lekasse lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya budaya pangekese dur angkara


Sementara itu ada 11 jenis tembang Macapat. 11 jenis Tembang Macapat itu adalah

  • Maskumambang

Maskumambang berasal dari dua kata, yakni mas dan kumambang yang dalam bahasa Indonesia artinya emas terapung. Tembang macapat maskumbang menceritakan tahap pertama dalam perjalanan hidup manusia.

Maskumambang melambangkan anak yang masih dalam kandungan. Tembang macapat maskumambang banyak berisi nasehat kepada seorang anak agar selalu berbakti kepada orang tua.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Maskumambang yakni 12i, 6a, 8i, 8a. contoh tembang Maskumambang adalah

Wong tan manut pitutur wong tuwo ugi…

Ha nemu durhaka…

Ing dunyo tumekeng akhir…

Tan wurung kasurang-surang…


  • Mijil

Mijil berasal dari kata bahasa Jawa wijil yang bermakna keluar. Tembang mijil memiliki makna saat anak manusia terlahir ke dunia dari rahim ibunya. Tembang mijil ini sering digunakan untuk memberi nasihat dan ajaran kepada manusia agar selalu kuat serta tabah dalam menjalani kehidupan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Mijil yakni 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u

Contohnya

Wulang estri kang wus palakrami

Lamun pinitados

Amengkoni mring balewismane

Among putra marusentanabdi

Den angati-ati

Ing sadurungipun


  • Sinom

Sinom berarti daun yang muda. Sinom juga berarti isih enom (masih muda). Tembang macapat sinom melukiskan masa muda, masa yang indah, serta masa penuh dengan harapan dan angan-angan. Tembang macapat sinom berisi nasihat, rasa persahabatan, dan keramahtahamahan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Sinom yakni 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a

Contohnya

Pangéran kang sipat murah

Njurungi kajating dasih

Ingkang temen tinemenan

Pan iku ujaring dalil

Nyatané ana ugi

Iya Kiyageng ing Tarub

Wiwitané nenedha

Tan pedhot tumekèng siwi

Wayah buyut canggah warèngé kang tampa


  • Kinanthi

Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun ‘bimbing’ yang berarti bahwa kita membutuhkan tuntunan atau bimbingan. Tembang kinanti mengisahkan kehidupan seorang anak yang membutuhkan tuntunan untuk menuju jalan yang benar. Tembang kinanti digunakan untuk menyampaikan suatu cerita yang berisi nasihat yang baik serta kasih sayang.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Kinanthi yakni 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i

Contohnya

Pangasahe sepi samun…

Aywa esah ing salami…

Samangsa wis kawistara…

Lalandhepe mingis mingis…

Pasa wukir reksamuka…

Kekes srabedaning budi…


  • Asmaradana

Tembang asmarandana berasal dari kata asmara ‘asmara’ dan dahana ‘api’ yang berarti ‘api asmara’ atau ‘cinta kasih’. Tembang ini mengisahkan perjalanan hidup manusia yang berada pada tahap memadu cinta kasih dengan pasangan hidupnya. Tembang asmarandana menggambarkan perasaan hati yang berbahagia atau rasa pilu dan sedih karena dirundung cinta.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Asmaradana yakni 8i, 8a, 8e/o, 8a, 7a, 8u, 8a

Contohnya

Sang dyah sukune mung siji

Atenggak datanpa sirah

Ciri bengkah pranajane

Tinalenan jangganira

Sinendhal ngasta kiwa

Ngaru ara denya muwus

Sarwi kekejek kekitrang

 

  • Gambuh

Gambuh memiliki arti cocok atau jodoh. Tembang gambuh ini menceritakan seseorang yang telah bertemu pasangan hidupnya. Gambuh digunakan untuk menyampaikan cerita dan nasihat kehidupan, seperti rasa persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Gambuh yakni 7u, 10u, 12i, 8u, 8o

Contohnya

Aja kakehan sanggup

Durung weruh tuture agupruk

Tutur nempil panganggepe wruh pribadi

Pangrasane keh kang nggunggung

Kang wus weruh amalengos.

 

  • Dhandhanggula

Kata dhandhanggula berasal dari kata ‘dhangdhang ‘berharap’ atau ‘mengharapkan’, tetapi ada pula yang mengatakan berasal dari kata gegadhangan yang berarti ‘cita-cita’, ‘angan-angan’, atau ‘harapan’. Kata gula menggambarkan rasa manis, indah, atau bahagia.

Dengan demikian, tembang macapat dhandhanggula memiliki makna ‘berharap sesuatu yang manis’ atau ‘mengharapkan yang indah’. Tembang ini digunakan sebagai tembang pembuka yang menjabarkan berbagai ajaran kebaikan serta ungkapan rasa cinta dan kebahagiaan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Dhandhanggula yakni 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a

Contohnya

Dha makarya kanthi ikhlas ati

Bebarengan saha tangga-tangga

Saha sanak sadulure

Mengko dadi sadulur

Seneng yen padha kerja bakti

Atine ora susah

Iku gugur gunung

Mugia tansah ngrembaka

Ora oncat saka ati sanubari

Muga bisa piguna


  • Durma

Tembang macapat durma biasanya digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat amarah, berontak, dan nafsu untuk berperang. Tembang ini menunjukkan watak manusia yang sombong, angkuh, serakah, suka mengumbar hawa nafsu, mudah emosi, dan berbuat semena-mena terhadap sesamanya.

Dalam istilah Jawa keadaan semacam itu disebut dengan munduring tata karma (durma) ‘berkurangnya atau hilangnya tata krama’. Tembang durma sering berisi nasehat agar berhati-hati dalam meniti kehidupan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Durma yakni 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i

Contohnya

Paman-paman, apa wartane ing dalan,

ing dalan akeh pepati

mati kena apa

mati pinedhang ligan

ing jaja terusing gigir

akari raga

badan kari gluminting

 

  • Pangkur

Pangkur bisa disamakan dengan kata mungkur yang artinya ‘undur diri’. Tembang pangkur menggambarkan manusia yang sudah tua dan sudah mulai banyak kemunduran dalam fisiknya. Badannya mulai lemah dan tidak sekuat pada saat usia muda. Tembang pangkur sering digunakan oleh orang Jawa sebagai pitutur (nasehat) yang disampaikan dengan kasih sayang.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pangkur yakni 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i

Contohnya

Sekar Pangkur kang Winarna,

Lelabuhan kang kangge wong aurip,

Ala lan becik punika,

Prayoga kawruhana,

Adat waton punika dipun kadulu,

Miwah ingkang tatakrama,

Den kaesthi siyang ratri

 

  • Megatruh

Kata megatruh berasal dari kata megat ‘pisah’ dan ruh ‘nyawa’ sehingga megatruh dapat diartikan ‘berpisahnya ruh dari tubuh manusia’. Makna yang terkandung dalam tembang megatruh adalah saat manusia mengalami kematian.

Tembang megatruh berisi nasehat agar setiap orang mempersiapkan diri menuju alam baka yang kekal dan abadi. Tembang ini biasanya digunakan untuk menggambarkan rasa penyesalan, duka cita, atau kesedihan. 

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Megatruh yakni 12u, 8i, 8u, 8i, 8o

Contohnya

Karo dhawuh sadalan-sadalan anempuh,

Omah-omah diobongi,

Uwonge padha kon teluk,

Yen lumuh njur dirampungi,

Kabehe uwis kalakon.


  • Pucung

Kata pucung atau pocong ditafsirkan sebagai orang meninggal yang sudah berada di alam kubur. Tembang macapat pucung diibaratkan tahapan terakhir dalam kehidupan manusia, yaitu berada di alam baka.

Tembang pucung biasanya menceritakan hal-hal yang lucu atau berisi tebak-tebakan untuk menghibur hati. Meskipun bersifat jenaka, isi tembang pucung ini mengandung nasihat bijak untuk menyelaraskan kehidupan antara manusia, alam, lingkungan, dan Tuhan Sang Pencipta.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pucung yakni 12u, 6a, 8i, 12a

Contohnya

Mandheg mangu si kancil ing lampahipun,

sakedhap angungak,

sigra denira andhelik,

ngulap-ulap si kancil sadangunira.

 

Diambil dari berbagai sumber

Sunday, August 22, 2021

Asal-usul dan Legenda Kesongo

Legenda kesongo erat kaitannya dengan cerita Aji Saka dan Jaka Linglung. Kita bisa memulai cerita dari Jaka Linglung yang mengaku anak Aji Saka yang merupakan raja kerajaan Medhangkamulan. Cerita mengenai kelahiran Jaka Linglung dan cerita Aji Saka dapat dibaca di cerita lain. Jaka Linglung sendiri berwujud ular, oleh karena itu Aji Saka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai putranya. Akan tetapi hal ini tidak dikatakan secara langsung bahwa Aji Saka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai putranya. Maka dari itu Aji Saka menolak secara halus dengan mengajukan syarat kepada Jaka Linglung. Syarat dari Aji Saka itu adalah untuk menumpas Bajul Putih (siluman buaya) yang menebar terror di pantai selatan Jawa. Bajul Putih sendiri merupakan jelmaan Dewata Cengkar yang merupakan musuh Aji Saka di masa lalu.

Berangkatlah Jaka Linglung untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh Aji Saka.singkat cerita bertarunglah Jaka Linglung dengan Bajul Putih. Dalam pertempuran itu Jaka Linglung berhasil membunuh Bajul Putih dan membawa kepalanya kepada Aji Saka.


Ada cerita yang menyebutkan bahwa Aji Saka langsung mengajukan syarat kedua. Sementara itu di sisi lain ada yang menyebutkan bahwa Aji Saka sudah mengakui Jaka Linglung sebagai anaknya dan Jaka Linglung diijinkan tinggal di kerajaan Medhangkamulan.

Setelah tinggal di kerajaan medhangkamulan karena Jaka Linglung berwujud ular maka makanannya sendiri adalah unggas atau hewan ternak. Pada mulanya tidak terlalu sering, tapi seiring dengan berjalannya waktu karena tubuh Jaka Linglung yang semakin besar dan porsi makannya semakin banyak. Hamper setiap hari ada penduduk yang melaporkan kepada Aji Saka bahwa ternak mereka dimakan oleh Jaka Linglung. Hal ini membuat penduduk resah dan tidak tentram.

Karena Aji Saka adalah seorang Raja maka sudah sewajarnya dia memperhatikan rakyatnya. Dikarenakan laporan warga tersebut Aji Saka memanggil Jaka Linglung "Wahai putraku Jaka Linglung, akhir-akhir ini kamu telah membuat masyarakat Medhangkamulan resah, karena ternak mereka kamu makan". "Sebagai hukuman atas perbuatanmu, aku perintahkan engkau bertapa di hutan, dan jangan makan apapun kecuali mangsa itu datang sendiri" demikian perintah Aji Saka. Mendengar hal itu dan demi menunjukkan bhakti kepada orang tuanya Jaka Linglung segera melaksanakannya. Jaka Linglung berangkat bertapa di hutan.

Jaka Linglung mematuhi segala perintah Aji Saka dengan bertapa di hutan dan tidak makan apa-apa kecuali jika mangsa itu datang sendiri. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun Jaka Linglung masih melaksanakan perintah Aji Saja untuk bertapa di hutan. Tubuhnya yang besar dan karena telah lama dia bertapa, sampai akhirnya menyerupai goa. Ada yang mengatakan bahwa Jaka Linglung bertapa dan membuka mulutnya berlangsung hingga ratusan tahun.

Lalu pada suatu hari dikisahkan ada 10 anak sedang menggembala kambing. Cuaca secara tidak terduga berubah awan menjadi gelap dan turun hujan deras disertai petir. Meskipun telah sebagian terlanjur kebasahan anak-anak itu mencari tempat berteduh. Secara tidak sengaja anak itu menemukan sebuah goa. 10 anak gembala itu pun berteduh di sana. Ada satu anak dari sepuluh anak tersebut menderita penyakit kulit(gundhik), karena basah terkena hujan penyakit kulit itu menimbulkan bau anyir. Oleh Sembilan anak lainnya anak itu diusir dari dalam goa karena baunya yang mengganggu anak lainnya. Karena tidak bisa melawan anak itu keluar dari goa. Tak lama setelah dia keluar dari goa, secara tiba-tiba goa itu menutup. Ternyata goa itu adalah Jaka Linglung yang berwujud ular besar. Anak itu lalu lari demi menyelamatkan diri dan mengabarkan kepada penduduk desa tentang peristiwa itu.

Untuk memperingati peristiwa itu, tempat hilangnya Sembilan anak penggembala kambing itu dinamakan pesongo (kesongo). Kesongo sekarang masuk wilayah Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sekarang kesongo menjadi tempat wisata yang terletak di area perhutani KPH Randublatung berada di sebelah utara Desa Gabusan kurang lebih 1,5 KM dari Dukuh Sucen Desa Gabusan.

Referensi :
https://www.bloranews.com/kesongo-belajar-dari-kepatuhan-jaka-linglung/
https://dlh.grobogan.go.id/2-uncategorised/869-legenda-kesongo
https://www.kompasiana.com/gneoga/550ee21aa33311ad2dba8234/aji-saka-part-iii-kesongo
https://www.liputan6.com/regional/read/4341405/legenda-jaka-linglung-dan-bergolaknya-oro-oro-kesongo-blora
https://www.murianews.com/2020/08/29/194443/ada-kisah-ular-raksasa-jaka-linglung-di-kesongo-blora-yang-terkenal-karena-semburan-lumpur.html
https://regional.kompas.com/read/2020/09/01/10052841/legenda-di-balik-lumpur-kesongo-yang-telan-17-ekor-kerbau-kisah-ular-raksasa?page=all
gambar : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5152693/letusan-kawah-oro-oro-kesongo-fakta-dan-legenda-tragis-di-baliknya


 

Wednesday, August 26, 2020

Mengenal lebih dekat dengan Kesenian Tayub Blora

Bangsa Indonesia memiliki beragam budaya, memiliki beragam bahasa,karena perbedaan sukunya. Inilah keragaman Indonesia yang hidup dan bersatu sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia. Salah satunya dapat dilihat dari beragamnya kesenian, mulai dari seni music, seni rupa, seni tari, dan seni lainnya. Berbicara tentang seni tari salah satu kesenian khas daerah Blora adalah Tayub. Tayub merupakan seni pertunjukan tari yang dapat digolongkan sebagai tari rakyat tradisional. Di dalam Tayub sifat kerakyatan sangat menonjol, sebagai gambaran dan jiwa masyarakat pedesaan yakni sifat spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, rancak, dan penuh rasa humor. Yang tidak hanya di Blora, Kesenian Tayub juga sebagai kesenian khas daerah lainnya seperti Bojonegoro, Tuban, Nganjuk, Ngawi, Tulungagung hingga Madiun.

Pada awalnya kesenian Tayub adalah sebagai ritual tarian, yakni ritual untuk kesuburan pertanian. Sebelum berkembang sebagai seni pertunjukan kesenian Tayub diselenggarakan bersamaan dengan Upacara kesuburan pertanian, diaman ini dilangsungkan saat mulai panen dengan harapan pada musim tanam berikutnya kan mendapat hasil yang melimpah lagi. Tidak hanya itu, Tayub juga diadakan hampir di seluruh upacara seperti upacara bedah bumi.

Dalam acara bedah bumi, pengibing atau pejoget yang tampil pertama bersama penari tayub adalah tetua desa. Pasangan antara tetua desa dan penari ini disebuk bedah atau membedah bumi. Tarian berpasangan ini dilangbangkan sebagai hubungan pria dan wanita dengan tanah yang dibedah atau dibelah hendak ditanami padi.

Seiring perkembangan zaman tidak hanya dalam ritual kesuburan pertanian, sebagaimana pentas seni lain seperti Barong, wayang atau Ketoprak, pertunjukan Tayub juga untuk upacara adat lainnya. Ataupun pada saat pesta perkawinan, khitan, orang memiliki nadzar dan lain sebagianya.

Pertunjukan seni Tayub diselenggarakan secara ramai dan bersama-sama. Unsur-unsur utama di dalamnya adalah ledek atau penari tayub dan gamelan. Serta penayub atau pejoget.

Walaupun pada awalnya kesenian Tayub terkesan dengan unsur tidak senonoh, akan tetapi karena tuntutan zaman sudah seharusnya kesenian Tayub menjadi lebih baik. Dengan memperhatikan norma dan kebiasaan yang ada di masyarakat saat ini. Seperti penghilangan unsur minuman keras dalam pertunjukan Tayub.

Sebagai kesenian dan warisan budaya nenek moyang, sebagai generasi muda juga hendaknya mengenal budaya tayub. Juga untuk melestarikan agar tidak punah dimakan zaman.

  






Referensi            :

https://blorakab.go.id

https://etnis.id/mengenal-tarian-tayub-dari-blora/

 

Sumber Gambar :

https://www.netralnews.com/news/singkapsejarah/read/138250/dilema-penari-tayub-dari-kemben-sampai-ngilu-hati-1-

https://radarsemarang.com/2017/08/22/penari-tayub-perempuan-harus-dari-luar-dusun/

http://misteri.detikone.com/berita/detail/balada-penari-tayub-tuban

 

Wednesday, January 1, 2020

Barong Blora, Kesenian sarat Sejarah Perjuangan




Kesenian barong atau lebih dikenal dengan kesenian barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah Kabupaten Blora dan berkembang luas di kabupaten Blora dan sekitarnya. Seni barong merupakan salah satu kesenian rakyat yang popular dikalangan masyarakat Blora, terutamaa masyarakat pedesaan. Seni barong tercemin dari sifat-sifat kerakyatan masyarakat Blora, seperti sifat : spontanitas, kekeluagaan, kesederhanaan, keras, dan kebenaran yang dilandasi kebenaran.
Barongan dalam kesenian barongan adalah suatu pelengkapan yang dibuat menyerupai Singo Barong atau Singa besar sebagai penguasa hutan angker dan sangat buas. Adapun tokoh Singo barong dalam cerita barongan disebut juga GEMBONG AMIJOYO yang berarti harimau besar yang berkuasa. Kesenian Barongan berbentuk tarian kelompok, yang menirukan keperkasaan gerak seekor Singa Raksasa. Peranan Singo Barong secara totalitas didalam penyajian merupakan tokoh yang sangat dominan, disamping ada beberapa tokoh yang tidak dapat dipisahkan yaitu : Bujangganong / Pujonggo Anom Joko Lodro / Gendruwo Pasukan berkuda / reog Noyontoko Untub.
Selain tokoh tersebut diatas pementasan kesenian barongan juga dilengkapi beberapa perlengkapan yang berfungsi sebagai instrumen musik antara lain : Kendang,Gedhuk, Bonang, Saron, Demung dan Kempul. Seiring dengan perkembangan jaman ada beberapa penambahan instrumen modern yaitu berupa Drum, Terompet, Kendang besar dan Keyboards. Adakalanya dalam beberapa pementasan sering dipadukan dengan kesenian campur sari.
Kesenian barongan bersumber dari hikayat Panji, yaitu suatu cerita yang diawali dari iring-iringan prajurit berkuda mengawal Raden Panji Asmarabangun / Pujonggo Anom dan Singo Barong.
Adapun secara singkat dapat diceritakan sebagai berikut : Prabu Klana Sawandana dari Kabupaten Bantarangin jatuh cinta kepada Dewi Sekartaji putri dari Raja Kediri, maka diperintahlah Patih Bujangganong / Pujonggo Anom untuk meminangnya. Keberangkatannya disertai 144 prajurit berkuda yang dipimpin oleh empat orang perwira diantaranya : Kuda Larean, Kuda Panagar, Kuda Panyisih dan Kuda sangsangan. Sampai di hutan Wengkar rombongan Prajurit Bantarangin dihadang oleh Singo Barong sebagai penjelmaan dari Adipati Gembong Amijoyo yang ditugasi menjaga keamanan di perbatasan. Terjadilah perselisihan yang memuncak menjadi peperangan yang sengit. Semua Prajurit dari Bantarangin dapat ditaklukkan oleh Singo Barong, akan tetapi keempat perwiranya dapat lolos dan melapor kepada Sang Adipati Klana Sawandana.
Pada saat itu juga ada dua orang Puno Kawan Raden Panji Asmara Bangun dari Jenggala bernama Lurah Noyontoko dan Untub juga mempunyai tujuan yang sama yaitu diutus R. Panji untuk melamar Dewi Sekar Taji. Namun setelah sampai dihutan Wengker, Noyontoko dan Untub mendapatkan rintangan dari Singo Barong yang melarang keduanya utuk melanjutkan perjalanan, namun keduanya saling ngotot sehingga terjadilah peperangan. Namun Noyontoko dan Untub merasa kewalahan sehingga mendatangkan saudara sepeguruannya yaitu Joko Lodro dari Kedung Srengenge. Akhirnya Singo Barong dapat ditaklukkan dan dibunuh. Akan tetapi Singo Barong memiliki kesaktian. Meskipun sudah mati asal disumbari ia dapat hidup kembali. Peristiwa ini kemudian dilaporkan ke R. Panji, kemudian berangkatlah R. Panji dengan rasa marah ingin menghadapi Singo Barong. Pada saat yang hampir bersamaan Adipati Klana Sawendono juga menerima laporan dari Bujangganong (Pujang Anom) yang dikalahkan oleh Singo Barong. Dengan rasa amarah Adipati Klana Sawendada mencabut pusaka andalannya, yaitu berupa Pecut Samandiman dan berangkat menuju hutan Wengker untuk membunuh Singo Barong. Setelah sampai di Hutan Wengker dan ketemu dengan Singo Barong, maka tak terhindarkan pertempuran yang sengit antara Adipati Klana Sawendana melawan Singo Barong.
Dengan senjata andalannya Adipati Klana Sawendana dapat menaklukkan Singo Barong dengan senjata andalannya yang berupa Pecut Samandiman. Singo Barong kena Pecut Samandiman menjadi lumpuh tak berdaya. Akan tetapi berkat kesaktian Adipati Klana Sawendana kekuatan Singo Barong dapat dipulihkan kembali, dengan syarat Singo Barong mau mengantarkan ke Kediri untuk melamar Dewi Sekartaji. Setelah sampai di alun-alun Kediri pasukan tersebut bertemu dengan rombongan Raden Panji yang juga bermaksud untuk meminang Dewi Sekartaji. Perselisihanpun tak terhindarkan, akhirnya terjadilah perang tanding antara Raden Panji dengan Adipati Klana Sawendano, yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Panji.
Adipati Klana Sawendana berhasil dibunuh sedangkan Singo Barong yang bermaksud membela Adipati Klana Sawendana dikutuk oleh Raden Panji dan tidak dapat berubah wujud lagi menjadi manusia ( Gembong Amijoyo ) lagi. Akhrnya Singo Barong Takhluk dan mengabdikan diri kepada Raden Panji, termasuk prajurit berkuda dan Bujangganong dari Kerajaan Bantarangin. Kemudian rombongan yang dipimpin Raden Panji melanjutkan perjalanan guna melamar Dewi Sekartaji. Suasana arak-arakan yang dipimpin oleh Singo Barong dan Bujangganong inilah yang menjadi latar belakang keberadaan kesenian Barongan.
Menurut beberapa sumber, tokoh Singo Barong (singa raksasa) yang merupakan tokoh utama dalam kesenian barongan, merupakan visualisasi dari semangat para pejuang itu. Boleh jadi para pejuang terinspirasi oleh keberanian dan ideologi Gembong Amijoyo yang merupakan figur asli dari jelmaan Singo Barong. Lirik selanjutnya dari pantun kilat tersebut, barongan moto beling merupakan gambaran sepasang mata Singo Barong yang dibuat dari kelereng berukuran besar dan berbahan dasar kaca.
Parikan ini ingin menyatakan bahwa semangat perjuangan anak bangsa tak mengenal kompromi dalam melawan penjajah Belanda. Hal ini semakin jelas apabila kita mendengar lirik selanjutnya ndhas pethak ditempiling. Menggambarkan semangat para seniman yang waktu itu ingin sekali menempeleng kepala para pejabat Belanda yang kebanyakan berkepala botak.
Barongan Blora sendiri dibawa dan dikembangkan oleh Samin Surosentiko setelah tinggal di Sumoroto, Ponorogo , tempat leluhurnya dimana nama Reyog di sumoroto saat itu lebih populer dikenal Barongan. dari segi bentuk saat itu juga kepala Reyog dengan mulut terbuka dengan mahkota merak yang besar, namun saat di Blora sangat sulit untuk mendapatkan bulu merak, sehingga di ganti dengan bahan ijuk yang di bentuk seperti dadak merak dan di selipkan beberapa bulu merak saja di ijuk sebagai rambut barongan blora.
Samin Surosentiko ke Sumoroto atas perintah ayahnya untuk menemui saudaranya disaat namanya masih Raden Kohar. selama di Sumoroto, Surosentiko berganti nama yang sebelumnya raden kohar atas saran saudaranya, serta mendapatkan berbagai pengetahuan seperti bertani, kebathinan, bela diri, barongan serta pemahaman masyarakat Sumoroto yang anti Belanda, terutama kalangan warok. Barongan dari Sumoroto dibawa ke Blora sebagai media menarik simpati rakyat Blora untuk hidup lebih mandiri dan menolak kesewenangan yang merugikan rakyat, kini pola pikir tersebut dikenal dengan ajaran Samin.
Dalam perkembangannya, propreti Barongan Blora selalu mengikuti propreti Barongan Ponorogo, dari busana, gerakan, dan sebagaian musik. seperti barongan yang di perankan oleh dua orang, kini hanya di lakukan satu orang saja serta kepala barongan yang botak di tengah. Pemerintah Blora mendeklarasikan Barongan Blora sabagai kesenian Khas Blora, meskipun di kota Jawa Tengah lainnya sendiri masih banyak terdapat group Barongan yang diperankan oleh dua orang, alias Reyog Tradisonal.
Pertunjukan atau pargelaran kesenian barong biasanya digunakan di acara dalam memperingati hari kemerdekaan bukan hanya itu saja tetapi bisa untuk mengisi acara seperti khitan, pernikahan, dan acara-acara lainnya.
Adapun pagelaran atau pementasan  kesenian barong yaitu yang pertama pembukaan ditampilkan sebuah tarian tradisional yang biasanya itu tarian gambyong.
Tari gambyong merupakan salah satu tari adat yang berasal dari daerah sekitar Surakarta, Jawa Tengah. Tari ini awal mulanya hanyalah sebuah tarian jalanan atau tarian rakyat dan merupakan tari kreasi baru dari perkembangan Tari Tayub. Tarian ini tidak ada kaitannya dengan kesenian barong tetapi dalam pembukaan ini merupakaan sebuah hiburan untuk mencintai kesenian-kesenian yang berada di Indonesia salah satunya tari-tarian tradisional yang punah atau yang telah digantikan oleh tarian dari barat yang sekarang lebih popular dikalangan remaja maupun anak-anak.
Pertunjukan selanjutnya yaitu aksi-aksi dari warok, warok merupakan pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam kesenian. Warok tua adalah tokoh pengayom, sedangkan warok muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu, bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok.
Pakaian warok yaitu dengan memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, muka dengan warna hitam maupun merah melambangkan keberanian dan kekuatan gaib. Warok memiliki kesaktian dan gemblakan menurut sesepuh warok. Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunandan perlindungan tanpa pamrih.”Warok itu berasal dari kata wawarah” artinya, orang yang mampu memberi petunjuk.
Kemudian dilanjutkan oleh barong itu sendiri sekarang bukan hanya satu barong kadang 5 sampai 6 barong tampil  secara bersamaan  sehingga menimbulkan seseuatu meriah. Suatu gerakan barong biasanya membentuk formasi sehingga tidak hanya begitu tampil saja.
Dan sebagai puncak atau penutupan yaitu sebuah sulap yang dimainkan oleh salah satu pemain dengan berbagai atraksi biasanya hal tersebut bertujuan sebagai penutupan yang berkesan.
Jika dilihat dari cerita sejarah, Barong Blora memiliki kedekatan sejarah dengan saudaranya di Ponorogo. Juga terkhusus di Blora sarat sejarah karena sebagai salah satu media dalam melawan penjajah. Seperti yang kita tahu masyarakat samin di Blora juga dilatarbelakangi oleh perlawanan terhadap kolonial.
gambar-gambar lainnya-

 Barong Blora
 Barong Blora
 bujangganong
 tari gambyong
warok
sumber gambar:

Thursday, August 29, 2019

Sedekah Bumi Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa




Sedekah bumi dikenal di masyarakat Jawa pada umumnya. Sedekah bumi sebagai salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam mensyukuri hasil bumi. Suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi, kesehatan, serta keselamatan kepada masyarakat setempat, serta memohon keselamatan untuk waktu yang akan datang. Masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai petani menyebutnya dengan Sedekah Bumi, sementara nelayan biasanya disebut Sedekah Laut. Tradisi ini biasanya dilakukan setiap satu tahun satu kali.
Pada acara sedekah bumi ini biasanya digunakan masyarakat sebagai ajang pesta. Syukuran bisa diadakan di lapangan, sumber air, balai desa, tergantung dari masing-masing kebiasaan desa. Syukuran dilakukan dalam bentuk membawa makanan hasil bumi ke tempat yang telah disepakati untuk kemudian didoakan oleh pemimpin adat/keagamaan atau salah satu perangkat desa. Sedekah bumi juga dapat sebagai ajang bersih-bersih Desa atau tempat-tempat yang digunakan sebagai acara kegiatan. Selain itu biasanya dalam acara sedekah bumi menjadi sarana komunikasi kepala desa atau perangkat desa kepada masyarakat desa dan sekitarnya. Makanan dihimpun di tengah-tengah area menjadi satu, lalu didoakan oleh pemimpin adat/keagamaan. Barulah setelah itu sebagai acara makan besar bersama dan masing-masing orang membawa pulang kembali makanan yang telah saling tukar untuk dibagi ke sanak family di rumah. Doa dalam sedekah bumi tersebut umumnya dipimpin oleh sesepuh kampung yang sudah sering dan terbiasa mamimpin jalannya ritual tersebut.
Selain upacara adat biasanya warga juga mengadakan event, dapat berupa perlombaan ataupun menggelar kesenian rakyat. Seperti ; Barong Blora, Ketoprak, Wayang Kulit, Campursari, ataupun yang lebih ke anak muda seperti Dangdut, dll. Dengan dibentuk kepanitiaan serta penggalangan dana dari masyarakat berupa iuran atau bisa juga hasil kekayaan desa, sumbangan dan sumber lainnya. Barong Blora seakan menjadi kesenian wajib dalam sedekah bumi di wilayah kabupaten Blora karena kebanyakan dalam pelaksanaannya selalu ada Barong Blora dengan kekhasannya sendiri, berbeda dengan Barong Bali ataupun Reog Ponorogo.
Selain hanya didoakan di tempat yang telah disepakati, dalam acara sedekah bumi juga warga membagikan makanan kepada sanak saudara di luar desa tersebut. Bugis, Pasung, Dumbeg menjadi makanan khas dalam acara sedekah bumi, dan persebarannya masing-masing. Untuk daerah Blora bagian barat jarang ditemukan atau bahkan sama sekali tidak ada Dumbeg. Tapi di daerah Blora tengah atau timur dapat ditemui. Selain itu juga makanan-makanan hasil bumi setempat, misalnya buah-buahan, sayuran dan lainnya.
Dikutip dari NU Online “Yang dilarang itu perayaan atau pesta memperingati alam jin. Kalau sedekah bumi dan sedekah laut, itu budaya ekologis yang disertai doa kepada Allah SWT,” jelas Kiai Luqman dikutip NU Online, Jumat (19/10) lewat twitternya. Terbit pada 19 Oktober 2018 dan diakses 29 Agustus 2019.
Jika disimpulkan, kepercayaan dalam Sedekah Bumi jika ini bertujuan sebagai pesta memperingati alam Jin ataupun meminta perlindungan kepada Jin maka tentu saja ini dapat diharamkan tetapi apabila sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memohon keselamatan dari Allah, tentu budaya ini harus dilestaikan. Sedekah Bumi ataupun Sedekah Laut tetaplah harus dilestarikan sebagai warisan budaya dan bisa dimasukkan unsur-unsur yang lain seperti : tidak hanya sebagai pesta makanan tetapi sebagai acara sedekah untuk kaun fakir miskin.
Dalam bentuk perayaannya sayangnya ada beberapa tempat yang pernah penulis lihat saling melempar atau membuang-buang makanan. Jika ini ada maka sebaiknya hal ini tidak dilakukan karena seharusnya ada bentuk mengungkapkan rasa syukur yang lebih baik dari itu.

Referensi :

Friday, March 22, 2019

Asal-Usul dan Sejarah Cepu



Cepu (“tjepoe”), salah satu kecamatan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur dengan sungai Bengawan Solo sebagai pemisahnya. Cepu lebih dikenal sebagai salah satu penghasil minyak di Indonesia (Blok Cepu), juga sebagai wilayah Blora penghasil kayu Jati. Asal muasal nama kota Cepu sendiri tidak banyak diketahui. Begitu juga kapan tepatnya kota ini didirikan. Keterangan asal muasal nama kota Cepu lebih banyak berdasarkan legenda rakyat yaitu berupa tradisi lisan.
Ada beberapa cerita yang saya temui berdasar sumber yang saya dapat, mungkin masih ada cerita lainnya, pengunjung bisa tambahkan di komentar atau kirim kan ke email kami ya.
Versi 1
Nama Cepu sebelum ada Kadipaten  Jipang Panolan, yaitu PLUNTURAN
Nama Plunturan konon  diceritakan antara stasiun cepu kota/ngareng dan pertigaan Semangat dulu ada seorang laki-laki tua yang mata pencahariannya membuat tali/dadung, yang cara membuat nyadiplunturi (bahasa Jawa) yaitu membuat tali dengan menggulungnya di bagian kaki. Akhirnya orang ini meninggal di pertigaan semangat dan orang menjulukinya Mbah Pluntur. Makam Mbah pluntur ini di percaya masyarakat sekitar ada di desa Menggung berdampingan dengan mbah Singoyudo. Nama Plunturan ini di tulis oleh Prof. Suripan dalam bukunya Tradisi dari Blora
Versi 2
Nama Cepu pada masa Kadipaten Jipang Panolan
Pada masa ini  berhubungan dengan kemelut di Kerajaan Demak Bintoro sepeninggal SultanTrenggono yang gugur setelah berusaha menaklukan Pasuruan pada tahun 1546. Perebutan tatah antara anak Pangeran Sekar  yaitu Haryo penangsang yang merasa berhak atas tahta Kerajaan Demak. Yang dilakukannya dengan membunuh Pangeran Prawoto anak Sultan Trenggono sebagai balas dendam akan dibunuhnya pangeran Sekar Sedo Lepen.Arya Penangsang naik tahta sekitar tahun 1546-1568 sebagai Sultan yang ke – 4, kemudian Haryo Penangsang memindahkan pusat kerajaan Demak ke Kadipaten Jipang Panolan ( Cepu ). Pada masa inilah nama Cepu  muncul yaitu  peristiwa di seretnya Raden Romo oleh Pengeran Benowo  dengan mengunakan Kuda, yang talinya terbuat dari  bambu yang akhirnya di tolong oleh kakaknya yaitu Raden Ronggo. Kejadian ini berakibat kaki atau paha/pupu ( bhs jawa ) dari Raden Romo penuh tertancap serpihan pecahan bambu, kemudian di berilah nama Cepu dari asal kata bahasa Jawa Mancep Neng Pupu.
Versi 3
Konon pernah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Adipati Cepu kepada Raden Brawijaya dari Majapahit. Penyerangan ini dilakukan setelah runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak, ini artinya sekitar abad ke-15 sampai dengan abad ke-16. Dalam penyerangan ini, Adipati Cepu berhasil memaksa Raden Brawijaya untuk melarikan diri ke Gunung Lawu. Karena itulah ada kepercayaan masyarakat yang menyebutkan bahwa Raden Brawijaya mengucapkan kutukan , keturunan adipati Cepu "diharamkan" untuk mendaki ke Gunung Lawu. kalaupun ada yang nekat mendaki, maka ia tidak akan sampai puncak atau terkena sial.
Versi 4
Cerita rakyat yang satu ini, melegenda, mengisahkan asal-usul nama Cepu bermula dari peristiwa peperangan antara dua Adipati Tedjo Bendoro (Adipati Tuban) dengan Adipati Djati Koesoema (Adipati Bojonegoro). Tuban yang jaman merupakan pelabuhan dan salah satu kekuatan legenda pada masa Majapahit, tentu memiliki kekuatan Militer yang lebih kuat disbanding Bojonegoro yang posisinya agak di pedalaman. Alkisah Bojonegoro kalah dalam perang ini, dan sudah menjadi adat terikat tempo dulu pihak yang kalah harus menyerahkan semua kekayaannya, ini sangat normal di jaman modern pun pihak yang kalah harus mengganti kerugian perang. Semua putri harus diserahkan termasuk putri tercantik, Retno Sari. Tetapi, Retno Sari keberatan, dia melanggar janji dan kesapakatan adat, ia melarikan diri. Dari kisah pelarian putri rupawan ini, lahir nama-nama punden, dukuh, desa dan lokasi seperti Tuk Buntung dan lainnya. Dalam pelarian ini Sang Adipati Tuban terpaksa melepas senjata mirip panah kearah sang putri, pusakan andalannya itu tepat menancap (nancep) di paha (pupu) sang putri. Maka timbullah kata Cepu.,
Versi lain
Dan beberapa legenda yang lain seperti perebutan Putri Dumilah dari Madiun serta pertarungan antara Jipang Panolan dan Pajang. Juga koonon nama Cepu berasal dari kata CEPUK(bahasa jawa) yaitu tempat menyimpan uang atau barang kecil.

Sepertinya memang tidak atau belum ada literatur sejarah yang menyinggung tentang keberadaan kota ini, kecuali setelah masuknya penjajahan Belanda di Nusantara, yaitu dengan keberadaan sumur minyak pertama di negeri ini.
Pada masa kolonial Belanda, Cepu merupakan kota penting, karena kandungan minyak dan hutan jati . Di Cepu dapat ditemukan banyak bangunan peninggalan Belanda yang masih ada hingga sekarang. Antara lain : Rumah Pertemuan Sasono SOS, Suko Loji Klunthung dan Pemakaman Belanda terletak di Desa Wonorejo Kecamatan Cepu. Nama Cepu semakin dikenal dengan eksplorasi Blok Cepu. Blok ini mencakup wilayah Cepu dan Bojonegoro dengan kandungan minyak diperkirakan akan mencapai jutaan barel. Ada dua operator besar yang terlibat dalam eksplorasi minyak, yakni Exxon Mobile dan Pertamina. Pihak lain yang terlibat adalah Pemerintah Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Blora, dan Pemerintah Bojonegoro.
Cepu juga memiliki potensi lainnya. Yakni, aset pariwisata yang dapat dipasarkan, baik dalam bentuk warisan dan keindahan alam. Selain wisata budaya, Cepu juga memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik, unik, dan menawan. Berbagai tempat pariwisata menarik banyak wisatawan domestik dan luar negeri. Artinya, sumur minyak tua dan gas yang tersebar di wilayah sekitar Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo. Jumlah sumur tua yang telah mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi minyak. Sumur minyak di Cepu ini pertama kali ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian berganti nama menjadi Shell. Sebagian besar sumur-sumur tua secara tradisional ditambang oleh masyarakat setempat. Mereka menggunakan tali dan ember ditarik oleh sekitar 15 orang atau menggunakan sapi untuk menderek.
Sumur tua umumnya terletak di daerah perbukitan dan di tengah-tengah hutan jati. Dengan demikian, upaya ekstra harus mampu untuk melihatnya. Agak seperti sedikit petualangan. Ada juga wisata Loko Tour Tua di Cepu yang menarik sebagai tempat berfoto ria.
 Beberapa potret Cepu lainnya





Sumber :
5.         Sumber gambar : instagram @potretblora
6.         Sumber diambil pada 22 Maret 19 jam 14:02

Artikel Terbaru