Wednesday, November 9, 2022

Festival Barongan Nusantara Kembali hadir dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Blora ke-273

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Blora ke-273 Festival Barongan tingkat Nasional kembali digelar. Rencana pagelaran Festival Barongan Tingkat Nasional dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 November 2022. Ini merupakan rangkaian acara dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Blora yang jatuh pada 11 Desember.

Kegiatan ini disambut baik Ketua Paguyuban Seni Barongan Adi Wibowo, seperti dilansir dari lingkarjateng.com. Ari Wibowo sangat mendukung dan siap memeriahkan festival tersebut. Kesenian barongan sendiri telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO.


Festival Barong Nusantara 2022

Gambar : Poster Festival Barongan Nusantara

Acara Festival Barongan Nusantara dijadwalkan digelar mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 11.00 malam WIB. Untuk rute Festival Barongan Nusantara dari Jalan Pemuda Blora, sebagian Jalan Ahmad Yani sampai ke Lapangan Kridosono Blora.

Rangkaian acara Festival Barongan Nusantara terdiri dari Parade Barongan Blora, Rancak Rampak 1000 Barongan hingga Malam Puncak Anugerah Festival Barongan Nusantara Jawa-Bali 2022.

Dikutip dari blorakab.go.id Festival Barongan Nusantara 2022 akan diikuti 40 grup. Masing-masing dari 40 grup ini ada 8 kepala Barongan.

Acara ini tentu akan mendukung industry ekonomi kreatif serta pariwisata Kabupaten Blora, lebih dari itu acara ini juga bagian untuk melestarikan seni tradisional karena Barongan Blora adalah peninggalan leluhur yang harus kelestariannya dan mempunyai ciri khas tersendiri. Di dalam Barongan Blora mengandung sifat-sifat kerakyatan masyarakat seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, kasar, keras, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran.

Saturday, September 10, 2022

Watak Tembang Macapat dan Tahapan Kehidupan Manusia

 

Macapat adalah salah satu bentuk karya sastra  yang berbentuk puisi yang dapat ditembangkan atau dinyanyikan sebagai sebuah ciri khas kesusastraan Timur. Macapat juga dapat dikategorikan masuk dalam kelompok seni membaca atau resitasi. Istilah macapat atau dapat disamakan dengan macapot dan macapet sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak sekitar 1500 tahun SM atau masa pra sejarah. Tembang macapat memiliki ciri khas dalam setiap jenisnya yakni adanya aturan guru lagu, guru gatra, dam guru wilangan. 11 jenis tembang macapat itu yakni Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom. Asmarandhana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung.

Setiap tembang macapat memiliki watak sendiri-sendiri dan merupakan gambaran dari tahapan kehidupan manusia. Tembang macapat memiliki makna filosofi yang sangat dalam, maka dari itu sekarang kami akan mengulas sedikit tentang watak-watak tembang macapat dan tahapan dalam kehidupan manusia.

Maskumambang

Tahapan pertama diawali dengan tembang Maskumambang dengan 12i, 6a, 8i, 8a. Tembang Maskumambang mengandung filosofi hidup manusia dari awal penciptaannya, jadi Tembang Maskumambang menggambarkan tahap awal penciptaan manusia sebagai embrio yang sedang bertumbuh dalam Rahim ibu dan masih belum diketahui jati dirinya, belum juga dapat dikatakan dan diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan.

Tembang Maskumambang menggambarkan watak kesedihan atau duka, serta suasana hati yang nelangsa, laram prihatin, mengiba, gundah, resah atau bisa juga digambarkan mengambang.

Mijil

Tembang Mijil dengan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u memiliki filosofi penggambaran bentuk dari biji atau benih yang telah lahir di dunia. Jadi mijil merupakan perlambangan awal mula perjalanan manusia di dunia, sebagai awal permulaan perjalanan manusia yang masih suci dan begitu lemah sehingga membutuhkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya. Mijil juga dapat diartikan sebagai keluar, masih ada hubungannya dengan kata Wijil yang merupakan persamaan kata dari lawing atau pintu.

Watak tembang Mijil ini sesuai untuk menyampaikan nasehat, cerita-cerita, dan tentang asmara, berwatak terbuka. Mijil cocok untuk menghantarkan nasehat, melahirkan rasa sedih atau rasa sendu.


Kinanthi

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Kinanthi yakni 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i berasal dari kata ‘kanthi’ yang berarti menggandeng atau menuntun. Tembang Kinanthi menggambarkan kehidupan manusia ketika masih anak-anak, anak kecil yang masih perlu dituntun hingga nantinya dapat berjalan sendiri dengan baik di dunia.

Watak tembang Kinanthi yakni memberikan nuansa kasih sayang, kebahagiaan, serta keteladanan hidup. Lirik tembang Kinanthi cocok untuk menyampaikan wejangan, nasehat hidup, serta seputar ungkapan cinta atau kasih sayang.

Sinom

Tembang Sinom dengan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a mempunyai arti pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Tembang Sinom mengandung filosofi penggambaran sebagai manusia yang mulai beranjak dewasa, telah menjadi seorang pemuda / remaja yang bersemi. Sebagai seorang pemuda juga menjadi tanggung jawab dan tugasnya untuk menuntut ilmu sebaik dan setinggi mungkin.

Tembang Sinom memiliki watak  tresna asih, canthas, trengginas, luwes, grapyak, dan senang mencari pengelambana atau berpetualang.

Asmarandhana

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Asmaradana yakni 8i, 8a, 8e/o, 8a, 7a, 8u, 8a, berasal dari kata ‘asmara’ yang dapat diartikan sebagai cinta kasih dan dana berarti api, dapat dikatakan berarti api asmara. Filosofi tembang Asmarandana mengenai perjalanan hidup seseorang yang telah tiba waktunya untuk cinta kasih bersama pasangan hidup. Pada hakikatnya kehidupan cinta merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai kaidah penciptaan yang berpasang-pasangan. Asmarandana cocok untuk mengungkapkan rasa rindu, rayuan disertai juga dengan rasa pilu atau sedih.

Gambuh

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Gambuh yakni 7u, 10u, 12i, 8u, 8o dan Tembang Gambuh mengandung arti menyambungkan, ada juga yang mengatakan sama dengan kata ‘Jambuh’ atau cocok. Tembang Gambuh dapat digambarkan tentang perjalanan hidup manusia yang telah menemukan pasangan yang cocok untuk dirinya. Tembang Gambuh mengandung rasa akrab dan bagus untuk menyampaikan nasehat yang bersungguh-sungguh, atau santai dan akrab.

Tembang Gambuh memiliki watak kerukunan, kekeluargaan, dan kebersamaan makhluk sosial.

Dhandhanggula

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Dhandhanggula yakni 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a berasal dari dua kata ‘dhandhang’ dan ‘gula’. Dhandhanggula dapat diartikan sebagai tempat sesuatu tempat yang manis. Tembang Dhandhanggula mengisahkan tentang kehidupan dengan pasangan baru yang tengah berbahagia karena telah mendapatkan yang dicita-citakan. Tembang Dhandhanggula tembang yang bermakna serba manis, menyampaikan suasana serba manis, menyenangkan dan mengasikkan. Dhandhanggula melahirkan suasana perasaan yang menyenangkan, menghantarkan ajaran yang baik, mengasikkan dan mengungkapkan rasa kasih, melukiskan rasa keindahan dan keselarasan.

Watak Tembang Dhandhanggula bersifat universal dan luwes serta merasuk ke dalam hati.

Durma

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Durma yakni 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i dari kata Durma memiliki arti pemberian. Tembang Gambuh memiliki filosofi yang mengisahkan kehidupan yang suatu ketika dapat mengalami duka, selisih, serta kekurangan akan suatu hal. Sementara menurut Hardjowirogo kata Durma berarti sima atau harimau yang mempunyai watak kasar, bengis dan bernuansa keras karena merupakan hewan pemakan daging.

Watak tembang Durma ini melukiskan suasana keras, tegang, ungkapan kemarahan, gambaran pertikaian yang serba tegang atau nasehat yang keras.

Pangkur

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pangkur yakni 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i. Tembang Pangkur berasal dari kata ‘mangkur’ berarti pergi atau meninggalkan. Filosofi tembang Pangkur merupakan penggambaran kehidupan yang seharusnya dapat menghindari berbagai hawa nafsu dan angkara murka serta sifat buruk.

Watak Tembang Pangkur bernuansa pitutur(nasehat), pertemanan, dan cinta. Dalam tembang ini mengisahkan manusia yang telah menginjak usia senja, orang itu mulai mangkur atau mengundurkan diri dari hal-hal keduniawian. Tembang Pangkur juga ada menurut Hardjowirogo berarti buntut atau ekor. Ini bermakna ujung yang dapat mengacu pada puncak.

Megatruh

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Megatruh yakni 12u, 8i, 8u, 8i, 8o. Tembang Megatruh berasal dari dua kata ‘megat’ dan ‘roh’ diartikan sebagai putus rohnya atau terlepasnya roh. Filosofi tembang ini adalah tentang perjalanan hidup manusia yang telah selesai di dunia atau telah berpulang pada yang pencipta. Ini merupakan sebuah keniscayaan bahwa roh manusia pasti akan dan harus putus dari raganya dan pada saatnya itulah harus kembali menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Singkatnya dapat dikatakan tembang ini bermakna mati atau meninggal dunia. Tembang ini mengisyaratkan suasana sedih, sendu, duka, sesal, pedih, dan merana.

Watak tembang Megatruh yakni kesedihan dan kedukaan.

Pocung

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pucung yakni 12u, 6a, 8i, 12a. Tembang Pocung berasal dari kata ‘pocong’ yang merupakan kondisi seseorang yang telah meninggal yang dibungkus kain kafan dan dipocong sebelum dikebumikan. Filosofi Tembang Pocung menggambarkan adanya ritual dalam melepaskan kepergian seseorang, yakni upacara pemakaman. Sementara dalam pendapat lain kata pocung berarti buah keluak. Menurut tradisi tutur, buah keluak ini dapat digunakan sebagai obat mencegah penyakit darah tinggi serta mengurangi ketegangan. Maka dari itu tembang Pocung cocok untuk menciptakan suasana santai, tidak tegang, jenaka dan riang, serta nasehat yang akrab.

Watak tembang ini lebih santai dan disampaikan dengan cara menghibur.

 

 

Friday, July 1, 2022

Sedekah Bumi, Bangkitkan Semangat Gotong Royong dan Pelestarian Seni Tradisi

Ratusan warga dukuh Glagahan Desa Jepangrejo Kec/Kab. Blora tak beranjak dari tempat duduk menyaksikan pertunjukan wayang kulit, Selasa (28/6/2022) malam.



Kerinduan menonton seni tradisional tinggalan leluhur seakan terobati setelah dua tahun terjeda akibat pandemi COVID-19.

Warga setempat secara gotong royong, iuran untuk menampilkan pertunjukan musik dan wayang kulit dalam rangka sedekah bumi.

Acara yang digelar di halaman depan rumah Kepala Desa Jepangrejo Sugito, diawali dengan laporan ketua panitia sedekah bumi dukuh Glagahan.

"Kami menyampaikan terimakasih kepada semua warga dukuh Glagahan yang ikhlas menyisihkan rejeki sehingga acara bisa terlaksana. Ini adalah puncak tasyakuran sedekah bumi dukuh Glagahan, siangnya tadi ada pentas musik," kata Ahmad Kasturi, ketua panitia.

Pihaknya, mengapresiasi keguyuban panitia yang telah bekerja maksimal, terutama dalam penggalangan dana.

Dalam laporannya, Kasturi menyampaikan satu persatu perolehan dana baik dari perseorangan, pengusaha, PNS, sejumlah RT dan RW serta perangkat desa di wilayah dukuh Glagahan.

"Jadi ini secara transparan dan profesional kami sampaikan," ucapnya.

Ia menyebut, bahwa wayang kulit yang ditampilkan dalang Sujiarto Jreng, tidak hanya sebagai tontonan, melainkan sebagai tuntunan dan tatanan.

Kepala Desa Jepangrejo Sugito, dalam sambutannya antara lain mengatakan pertunjukan wayang kulit yang ditampilkan sebagai wujud ungkapan syukur kepada Allah SWT atas berkah, kesehatan serta rezeki, sehingga secara bersama, sukarela dan guyub rukun warga Glagahan bisa menggelar acara musik dan wayang kulit.

"Wayang kulit ini ditampilkan sekaligus sebagai upaya sesarerangan melestarikan seni tradisi, yang sekaligus mengedukasi pendidikan budi pekerti serta kepribadian," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Sugito mohon doa dan restu, akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekkah bersama istri.

Sementara itu H. Ansori, sebelum memimpin doa, menyampaikan arahan terkait pelaksanaan ibadah haji dan sekilas tentang tradisi sedekah bumi.

Ia mengajak warga Glagahan untuk saling mendoakan supaya selalu dalam lindungan Allah SWT.

Pertunjukan wayang kulit dengan lakon Sesaji Rajasuyo (Pandawa Syukur) diawali dengan penyerahan tokoh wayang oleh Kamituwo Glagahan Supardi kepada Dalang Sujiarto Jreng.

Pagelaran wayang kulit pun berjalan lancar dan sukses hingga selesai.

Hadir pada acara itu, Sekcam Blora Setyo Pujiono, S.Sn., mewakili Camat Blora Drs. Bambang Sugianto,MM.
Turut hadir sejumlah Kades dan perangkat desa sekitar serta Babinkamtibmas dan Babinsa wilayah setempat.

Sumber : www.blorakab.go.id

Saturday, September 11, 2021

Tembang Macapat, Guru Lagu, Guru Gatra, lan Guru Wilangan

Tembang Macapat, Guru Lagu, Guru Gatra, lan Guru Wilangan

 

Tembang Macapat yaiku puisi bertembang karena pembacaannya ditembangkan. Jadi, pembacaan harus sesuai dengan susunan titilaras atau notasi yang sama dengan pakemnya.

Bagi masyarakat jawa, tembang macapat yaiku salah sawijining tembang kang ngrembaka ing tlatah Jawa kang nduweni sawehening paugeran. Terdapat 11 jenis tembang macapat yang dikenal oleh masyarakat Jawa.

Setiap tembang macapat memiliki aturan masing-masing, tembang macapat juga memiliki arti dan watak yang berbeda. Aturan-aturan dalam Tembang Macapat yakni adanya guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra. Guru lagu yakni merupakan persamaan bunyi sajak pada akhir kata dalam setiap baris, bunyi lagu pada setiap akhir baris yakni (a,i,u,e,o) disebut dong dinge swara. Sementara guru wilangan adalah jumlah suku kata pada setiap baris, dan guru gatra sendiri adalah cacahing larik utawa baris saben bait, jadi guru gatra adalah jumlah baris dalam setiap lagu.

Contohnya misalnya dalam tembang Pucung yang memiliki aturan guru gatra 4 dan guru wilangan 12,6,8,12 dan dengan guru lagu u, a, i, a. jadi tembang Pucung terdiri dari 4 baris dengan aturan dibaris pertama 12 suku kata dengan akhiran u, 6 suku kata dengan akhiran a, 8 suku kata dengan akhiran I, 12 suku kata dengan akhiran a, jika diimplementasikan jadi seperti ini contohnya.

Ngelmu niku kelakone kanthi laku

Lekasse lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya budaya pangekese dur angkara


Sementara itu ada 11 jenis tembang Macapat. 11 jenis Tembang Macapat itu adalah

  • Maskumambang

Maskumambang berasal dari dua kata, yakni mas dan kumambang yang dalam bahasa Indonesia artinya emas terapung. Tembang macapat maskumbang menceritakan tahap pertama dalam perjalanan hidup manusia.

Maskumambang melambangkan anak yang masih dalam kandungan. Tembang macapat maskumambang banyak berisi nasehat kepada seorang anak agar selalu berbakti kepada orang tua.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Maskumambang yakni 12i, 6a, 8i, 8a. contoh tembang Maskumambang adalah

Wong tan manut pitutur wong tuwo ugi…

Ha nemu durhaka…

Ing dunyo tumekeng akhir…

Tan wurung kasurang-surang…


  • Mijil

Mijil berasal dari kata bahasa Jawa wijil yang bermakna keluar. Tembang mijil memiliki makna saat anak manusia terlahir ke dunia dari rahim ibunya. Tembang mijil ini sering digunakan untuk memberi nasihat dan ajaran kepada manusia agar selalu kuat serta tabah dalam menjalani kehidupan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Mijil yakni 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u

Contohnya

Wulang estri kang wus palakrami

Lamun pinitados

Amengkoni mring balewismane

Among putra marusentanabdi

Den angati-ati

Ing sadurungipun


  • Sinom

Sinom berarti daun yang muda. Sinom juga berarti isih enom (masih muda). Tembang macapat sinom melukiskan masa muda, masa yang indah, serta masa penuh dengan harapan dan angan-angan. Tembang macapat sinom berisi nasihat, rasa persahabatan, dan keramahtahamahan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Sinom yakni 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a

Contohnya

Pangéran kang sipat murah

Njurungi kajating dasih

Ingkang temen tinemenan

Pan iku ujaring dalil

Nyatané ana ugi

Iya Kiyageng ing Tarub

Wiwitané nenedha

Tan pedhot tumekèng siwi

Wayah buyut canggah warèngé kang tampa


  • Kinanthi

Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun ‘bimbing’ yang berarti bahwa kita membutuhkan tuntunan atau bimbingan. Tembang kinanti mengisahkan kehidupan seorang anak yang membutuhkan tuntunan untuk menuju jalan yang benar. Tembang kinanti digunakan untuk menyampaikan suatu cerita yang berisi nasihat yang baik serta kasih sayang.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Kinanthi yakni 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i

Contohnya

Pangasahe sepi samun…

Aywa esah ing salami…

Samangsa wis kawistara…

Lalandhepe mingis mingis…

Pasa wukir reksamuka…

Kekes srabedaning budi…


  • Asmaradana

Tembang asmarandana berasal dari kata asmara ‘asmara’ dan dahana ‘api’ yang berarti ‘api asmara’ atau ‘cinta kasih’. Tembang ini mengisahkan perjalanan hidup manusia yang berada pada tahap memadu cinta kasih dengan pasangan hidupnya. Tembang asmarandana menggambarkan perasaan hati yang berbahagia atau rasa pilu dan sedih karena dirundung cinta.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Asmaradana yakni 8i, 8a, 8e/o, 8a, 7a, 8u, 8a

Contohnya

Sang dyah sukune mung siji

Atenggak datanpa sirah

Ciri bengkah pranajane

Tinalenan jangganira

Sinendhal ngasta kiwa

Ngaru ara denya muwus

Sarwi kekejek kekitrang

 

  • Gambuh

Gambuh memiliki arti cocok atau jodoh. Tembang gambuh ini menceritakan seseorang yang telah bertemu pasangan hidupnya. Gambuh digunakan untuk menyampaikan cerita dan nasihat kehidupan, seperti rasa persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Gambuh yakni 7u, 10u, 12i, 8u, 8o

Contohnya

Aja kakehan sanggup

Durung weruh tuture agupruk

Tutur nempil panganggepe wruh pribadi

Pangrasane keh kang nggunggung

Kang wus weruh amalengos.

 

  • Dhandhanggula

Kata dhandhanggula berasal dari kata ‘dhangdhang ‘berharap’ atau ‘mengharapkan’, tetapi ada pula yang mengatakan berasal dari kata gegadhangan yang berarti ‘cita-cita’, ‘angan-angan’, atau ‘harapan’. Kata gula menggambarkan rasa manis, indah, atau bahagia.

Dengan demikian, tembang macapat dhandhanggula memiliki makna ‘berharap sesuatu yang manis’ atau ‘mengharapkan yang indah’. Tembang ini digunakan sebagai tembang pembuka yang menjabarkan berbagai ajaran kebaikan serta ungkapan rasa cinta dan kebahagiaan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Dhandhanggula yakni 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a

Contohnya

Dha makarya kanthi ikhlas ati

Bebarengan saha tangga-tangga

Saha sanak sadulure

Mengko dadi sadulur

Seneng yen padha kerja bakti

Atine ora susah

Iku gugur gunung

Mugia tansah ngrembaka

Ora oncat saka ati sanubari

Muga bisa piguna


  • Durma

Tembang macapat durma biasanya digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat amarah, berontak, dan nafsu untuk berperang. Tembang ini menunjukkan watak manusia yang sombong, angkuh, serakah, suka mengumbar hawa nafsu, mudah emosi, dan berbuat semena-mena terhadap sesamanya.

Dalam istilah Jawa keadaan semacam itu disebut dengan munduring tata karma (durma) ‘berkurangnya atau hilangnya tata krama’. Tembang durma sering berisi nasehat agar berhati-hati dalam meniti kehidupan.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Durma yakni 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i

Contohnya

Paman-paman, apa wartane ing dalan,

ing dalan akeh pepati

mati kena apa

mati pinedhang ligan

ing jaja terusing gigir

akari raga

badan kari gluminting

 

  • Pangkur

Pangkur bisa disamakan dengan kata mungkur yang artinya ‘undur diri’. Tembang pangkur menggambarkan manusia yang sudah tua dan sudah mulai banyak kemunduran dalam fisiknya. Badannya mulai lemah dan tidak sekuat pada saat usia muda. Tembang pangkur sering digunakan oleh orang Jawa sebagai pitutur (nasehat) yang disampaikan dengan kasih sayang.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pangkur yakni 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i

Contohnya

Sekar Pangkur kang Winarna,

Lelabuhan kang kangge wong aurip,

Ala lan becik punika,

Prayoga kawruhana,

Adat waton punika dipun kadulu,

Miwah ingkang tatakrama,

Den kaesthi siyang ratri

 

  • Megatruh

Kata megatruh berasal dari kata megat ‘pisah’ dan ruh ‘nyawa’ sehingga megatruh dapat diartikan ‘berpisahnya ruh dari tubuh manusia’. Makna yang terkandung dalam tembang megatruh adalah saat manusia mengalami kematian.

Tembang megatruh berisi nasehat agar setiap orang mempersiapkan diri menuju alam baka yang kekal dan abadi. Tembang ini biasanya digunakan untuk menggambarkan rasa penyesalan, duka cita, atau kesedihan. 

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Megatruh yakni 12u, 8i, 8u, 8i, 8o

Contohnya

Karo dhawuh sadalan-sadalan anempuh,

Omah-omah diobongi,

Uwonge padha kon teluk,

Yen lumuh njur dirampungi,

Kabehe uwis kalakon.


  • Pucung

Kata pucung atau pocong ditafsirkan sebagai orang meninggal yang sudah berada di alam kubur. Tembang macapat pucung diibaratkan tahapan terakhir dalam kehidupan manusia, yaitu berada di alam baka.

Tembang pucung biasanya menceritakan hal-hal yang lucu atau berisi tebak-tebakan untuk menghibur hati. Meskipun bersifat jenaka, isi tembang pucung ini mengandung nasihat bijak untuk menyelaraskan kehidupan antara manusia, alam, lingkungan, dan Tuhan Sang Pencipta.

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pucung yakni 12u, 6a, 8i, 12a

Contohnya

Mandheg mangu si kancil ing lampahipun,

sakedhap angungak,

sigra denira andhelik,

ngulap-ulap si kancil sadangunira.

 

Diambil dari berbagai sumber

Sunday, August 22, 2021

Asal-usul dan Legenda Kesongo

Legenda kesongo erat kaitannya dengan cerita Aji Saka dan Jaka Linglung. Kita bisa memulai cerita dari Jaka Linglung yang mengaku anak Aji Saka yang merupakan raja kerajaan Medhangkamulan. Cerita mengenai kelahiran Jaka Linglung dan cerita Aji Saka dapat dibaca di cerita lain. Jaka Linglung sendiri berwujud ular, oleh karena itu Aji Saka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai putranya. Akan tetapi hal ini tidak dikatakan secara langsung bahwa Aji Saka enggan mengakui Jaka Linglung sebagai putranya. Maka dari itu Aji Saka menolak secara halus dengan mengajukan syarat kepada Jaka Linglung. Syarat dari Aji Saka itu adalah untuk menumpas Bajul Putih (siluman buaya) yang menebar terror di pantai selatan Jawa. Bajul Putih sendiri merupakan jelmaan Dewata Cengkar yang merupakan musuh Aji Saka di masa lalu.

Berangkatlah Jaka Linglung untuk memenuhi syarat yang diajukan oleh Aji Saka.singkat cerita bertarunglah Jaka Linglung dengan Bajul Putih. Dalam pertempuran itu Jaka Linglung berhasil membunuh Bajul Putih dan membawa kepalanya kepada Aji Saka.


Ada cerita yang menyebutkan bahwa Aji Saka langsung mengajukan syarat kedua. Sementara itu di sisi lain ada yang menyebutkan bahwa Aji Saka sudah mengakui Jaka Linglung sebagai anaknya dan Jaka Linglung diijinkan tinggal di kerajaan Medhangkamulan.

Setelah tinggal di kerajaan medhangkamulan karena Jaka Linglung berwujud ular maka makanannya sendiri adalah unggas atau hewan ternak. Pada mulanya tidak terlalu sering, tapi seiring dengan berjalannya waktu karena tubuh Jaka Linglung yang semakin besar dan porsi makannya semakin banyak. Hamper setiap hari ada penduduk yang melaporkan kepada Aji Saka bahwa ternak mereka dimakan oleh Jaka Linglung. Hal ini membuat penduduk resah dan tidak tentram.

Karena Aji Saka adalah seorang Raja maka sudah sewajarnya dia memperhatikan rakyatnya. Dikarenakan laporan warga tersebut Aji Saka memanggil Jaka Linglung "Wahai putraku Jaka Linglung, akhir-akhir ini kamu telah membuat masyarakat Medhangkamulan resah, karena ternak mereka kamu makan". "Sebagai hukuman atas perbuatanmu, aku perintahkan engkau bertapa di hutan, dan jangan makan apapun kecuali mangsa itu datang sendiri" demikian perintah Aji Saka. Mendengar hal itu dan demi menunjukkan bhakti kepada orang tuanya Jaka Linglung segera melaksanakannya. Jaka Linglung berangkat bertapa di hutan.

Jaka Linglung mematuhi segala perintah Aji Saka dengan bertapa di hutan dan tidak makan apa-apa kecuali jika mangsa itu datang sendiri. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun Jaka Linglung masih melaksanakan perintah Aji Saja untuk bertapa di hutan. Tubuhnya yang besar dan karena telah lama dia bertapa, sampai akhirnya menyerupai goa. Ada yang mengatakan bahwa Jaka Linglung bertapa dan membuka mulutnya berlangsung hingga ratusan tahun.

Lalu pada suatu hari dikisahkan ada 10 anak sedang menggembala kambing. Cuaca secara tidak terduga berubah awan menjadi gelap dan turun hujan deras disertai petir. Meskipun telah sebagian terlanjur kebasahan anak-anak itu mencari tempat berteduh. Secara tidak sengaja anak itu menemukan sebuah goa. 10 anak gembala itu pun berteduh di sana. Ada satu anak dari sepuluh anak tersebut menderita penyakit kulit(gundhik), karena basah terkena hujan penyakit kulit itu menimbulkan bau anyir. Oleh Sembilan anak lainnya anak itu diusir dari dalam goa karena baunya yang mengganggu anak lainnya. Karena tidak bisa melawan anak itu keluar dari goa. Tak lama setelah dia keluar dari goa, secara tiba-tiba goa itu menutup. Ternyata goa itu adalah Jaka Linglung yang berwujud ular besar. Anak itu lalu lari demi menyelamatkan diri dan mengabarkan kepada penduduk desa tentang peristiwa itu.

Untuk memperingati peristiwa itu, tempat hilangnya Sembilan anak penggembala kambing itu dinamakan pesongo (kesongo). Kesongo sekarang masuk wilayah Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sekarang kesongo menjadi tempat wisata yang terletak di area perhutani KPH Randublatung berada di sebelah utara Desa Gabusan kurang lebih 1,5 KM dari Dukuh Sucen Desa Gabusan.

Referensi :
https://www.bloranews.com/kesongo-belajar-dari-kepatuhan-jaka-linglung/
https://dlh.grobogan.go.id/2-uncategorised/869-legenda-kesongo
https://www.kompasiana.com/gneoga/550ee21aa33311ad2dba8234/aji-saka-part-iii-kesongo
https://www.liputan6.com/regional/read/4341405/legenda-jaka-linglung-dan-bergolaknya-oro-oro-kesongo-blora
https://www.murianews.com/2020/08/29/194443/ada-kisah-ular-raksasa-jaka-linglung-di-kesongo-blora-yang-terkenal-karena-semburan-lumpur.html
https://regional.kompas.com/read/2020/09/01/10052841/legenda-di-balik-lumpur-kesongo-yang-telan-17-ekor-kerbau-kisah-ular-raksasa?page=all
gambar : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5152693/letusan-kawah-oro-oro-kesongo-fakta-dan-legenda-tragis-di-baliknya


 

Wednesday, August 26, 2020

Mengenal lebih dekat dengan Kesenian Tayub Blora

Bangsa Indonesia memiliki beragam budaya, memiliki beragam bahasa,karena perbedaan sukunya. Inilah keragaman Indonesia yang hidup dan bersatu sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia. Salah satunya dapat dilihat dari beragamnya kesenian, mulai dari seni music, seni rupa, seni tari, dan seni lainnya. Berbicara tentang seni tari salah satu kesenian khas daerah Blora adalah Tayub. Tayub merupakan seni pertunjukan tari yang dapat digolongkan sebagai tari rakyat tradisional. Di dalam Tayub sifat kerakyatan sangat menonjol, sebagai gambaran dan jiwa masyarakat pedesaan yakni sifat spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, rancak, dan penuh rasa humor. Yang tidak hanya di Blora, Kesenian Tayub juga sebagai kesenian khas daerah lainnya seperti Bojonegoro, Tuban, Nganjuk, Ngawi, Tulungagung hingga Madiun.

Pada awalnya kesenian Tayub adalah sebagai ritual tarian, yakni ritual untuk kesuburan pertanian. Sebelum berkembang sebagai seni pertunjukan kesenian Tayub diselenggarakan bersamaan dengan Upacara kesuburan pertanian, diaman ini dilangsungkan saat mulai panen dengan harapan pada musim tanam berikutnya kan mendapat hasil yang melimpah lagi. Tidak hanya itu, Tayub juga diadakan hampir di seluruh upacara seperti upacara bedah bumi.

Dalam acara bedah bumi, pengibing atau pejoget yang tampil pertama bersama penari tayub adalah tetua desa. Pasangan antara tetua desa dan penari ini disebuk bedah atau membedah bumi. Tarian berpasangan ini dilangbangkan sebagai hubungan pria dan wanita dengan tanah yang dibedah atau dibelah hendak ditanami padi.

Seiring perkembangan zaman tidak hanya dalam ritual kesuburan pertanian, sebagaimana pentas seni lain seperti Barong, wayang atau Ketoprak, pertunjukan Tayub juga untuk upacara adat lainnya. Ataupun pada saat pesta perkawinan, khitan, orang memiliki nadzar dan lain sebagianya.

Pertunjukan seni Tayub diselenggarakan secara ramai dan bersama-sama. Unsur-unsur utama di dalamnya adalah ledek atau penari tayub dan gamelan. Serta penayub atau pejoget.

Walaupun pada awalnya kesenian Tayub terkesan dengan unsur tidak senonoh, akan tetapi karena tuntutan zaman sudah seharusnya kesenian Tayub menjadi lebih baik. Dengan memperhatikan norma dan kebiasaan yang ada di masyarakat saat ini. Seperti penghilangan unsur minuman keras dalam pertunjukan Tayub.

Sebagai kesenian dan warisan budaya nenek moyang, sebagai generasi muda juga hendaknya mengenal budaya tayub. Juga untuk melestarikan agar tidak punah dimakan zaman.

  






Referensi            :

https://blorakab.go.id

https://etnis.id/mengenal-tarian-tayub-dari-blora/

 

Sumber Gambar :

https://www.netralnews.com/news/singkapsejarah/read/138250/dilema-penari-tayub-dari-kemben-sampai-ngilu-hati-1-

https://radarsemarang.com/2017/08/22/penari-tayub-perempuan-harus-dari-luar-dusun/

http://misteri.detikone.com/berita/detail/balada-penari-tayub-tuban

 

Artikel Terbaru