Thursday, March 7, 2019

Legenda Kuda "Gagak Rimang"


Sejarah Kuda Gagak Rimang, Kuda Perkasa Tunggangan Arya Penangsang
(ilustrasi)
Kuda Gagak Rimang adalah kuda tunggangan andalan Arya Penangsang. Menurut cerita tutur yang berkembang di lingkungan masyarakat Kabupaten Blora, khususnya di sekitar wilayah Jipang dan Panolan, konon asal-usul kuda Gagak Rimang adalah kuda milik Riman. Riman adalah anak Soreng Pati, Penggede di Desa Kasiman. Konon kuda tersebut menghilang pada saat tuannya, yaitu Riman bertarung melawan Siman, anak Soreng Rangkut, Penggede di Desa Sambeng, dalam memperebutkan Rara Swari.
Kisah dibalik penamaan serta asal-usul Kuda Gagak Rimang berdasarkan cerita turtur adalah kurang lebih seperti ini.
Pada suatu ketika, Riman bertarung dengan Siman untuk memperebutkan Rara Swari gadis pujaan mereka, dalam sumber lain mengatakan ada masalah hutang piutang. Sampai pada saat pertarungan selesai dengan tewasnya Riman, kuda Riman yang berwarna hitam sepenuhnya itu lari sampai tidak diketahui, konon telah masuh hutan.
Pada suatu waktu Arya Penangsang yang merupakan seorang Adipati Jipang Panolan melakukan pelawatan dan jalan-jalan untuk memeriksa daerah kekuasaannya serta memikirkan masalah kadipaten. Dalam lawatan ini beliau ditemani patihnya yakni Patih Metaun/Matahun. Dalam perjalanan tersebut sampailah beliau pada rerumputan yang segar, daerah dengan rerumputan hijau, lalu tampaklah oleh beliau seekor kuda hitam yang mulus pancal panggung sedang berlari mendekatinya. Anehnya, kuda tersebut tampak jinak seolah-olah minta dikasihani oleh sang Adipati. Ia menggaruk-garukkan kakinya ke tanah, yang seolah-olah meminta perlindungan. Melihat hal itu Arya Penangsang lalu mendekatinya dan kuda tersebut langsung jinak kepada Arya Penangsang. Seketika itu beliau pun merasa tertarik kepada kuda tersebut dan bermaksud ingin memilikinya. Lalu beliau naik ke punggungnya, di atas kuda yang baru ditemukannya itu Arya Penangsang nampak sangat gagah dan anggun. Beliau lalu mengajak sang patih untuk mencari pemilik kuda tersebut. Untuk mencarinya Adipati dan patihnya berjalan ke arah utara. Akhirnya beliau sampai di suatu tempat Soreng Pati dan Soreng Rangkut bertarung. Konon setelah kematian Riman, Soreng Pati yang merupakan ayah dari Riman membalas dendam terhadap Siman akibat kematian anaknya, lalu setelah itu Soreng Rangkut yang tidak terima oleh kematian anaknya membalas dendam kepada Soreng Pati tetapi pertarungan seimbang. Lalu pada saat itu kedua jagoan sudah menyadari perbuatan salahnya itu dan sedang merenungi peristiwa yang baru saja mereka alami, yang memakan korban anak-anak yang sangat mereka cintai. Mereka berdua merasa sangat menyesal, baru kemudian berkat nasihat gurunya yakni Ki Gede Senori akhirnya mereka bisa menerima dengan ikhlas apa yang telah menimpa mereka.

Arya Penangsang begitu sampai di tempat itu segera menghampiri keempat orang yang sedang duduk termangu tersebut. Begitu melihat kuda tunggangan anaknya ditunggangi oleh orang lain, Soreng Pati seketika hatinya yang semula sudah agak reda langsung kembali membara karena teringat akan Riman. Dia langsung berdiri dengan marah menghampiri sang penunggang kuda, begitu pula saudara saudaranya, Soreng Rangkut dan Soreng Rana, mereka mengira orang tersebut telah merampas kuda milik Riman. Mereka belum sadar bahwa yang sedang dihadapi adalah Adipatinya sendiri, dan setelah beberapa gerakan dan merasakan aura bukan orang sembarangan mereka baru tersadar bahwa yang duduk di kuda itu adalah Adipatinya sendiri, Arya Penangsang. Seketika mereka duduk menghormat dan memohon ampun kepada Arya Penangsang. Arya Penangsang menerima permohonan ampun mereka dan menanyakan perihal kuda yang ditemukannya itu, tentang siapa pemilik kuda tersebut. Lalu keempatnya serentak menjawab bahwa kuda tersebut milik Riman. Setelah mendengar jawaban tersebut Arya Penangsang memberi nama kuda yang ditungganginya tersebut dengan sebutan “Gagak Riman” karena kuda tersebut berbulu hitam pada seluruh badannya sehingga laksana Gagak dan untuk menghormati pemiliknya yakni Riman. Dalam perkembangan selanjutnya karena tersebar dari mulut ke mulut dari “Gagak Riman” menjadi “Gagak Rimang”. Dalam hukumnya kuda tersebut seharusnya adalah milik Soreng Pati karena sebelumnya adalah milik anaknya, tetapi mengetahui Adipatinya menyukai kuda tersebut, Soreng Pati menyerahkan kuda tersebut kepada Arya Penangsang sebagai persembahan. Lalu keempat guru dan murid itu diminta oleh Arya Penangsang untuk menjadi pengikutnya, prajuritnya dengan diberi pangkat Wedana Prajurit.
Dalam cerita selanjutnya Kuda Gagak Rimang menjadi kuda pribadi dan kebanggaan Arya Penangsang karena badannya yang gagah. Hingga sampai tewasya Arya Penangsang dalam medan perang, karena begitu menyenanginya Arya Penangsang kepada Gagak Rimang, tetap berangkat ke medan perang dengan kuda Gagak Rimang, kuda jantan yang gagah. Padahal dalam nasihat gurunya yakni Sunan Kudus, Arya Penangsang disuruh untuk ke medan perang dengan kuda betina. Karena memakai Kuda jantan inilah Arya Penangsang menyebrangi sungai yang pantang seharusnya dalam pertempuran di daerah itu. Bisa dibaca dalam cerita “Gugurnya Arya Penangsang”.
Dalam pertarungan Riman dan Siman sebenarnya mereka tidak mengetahui bahwa bapak dari mereka adalah merupakan saudara, jika digambarkan dalam cerita bahwa Soreng Pati, Soreng Rangkut dan Soreng Rana adalah satu guru yakni Ki Gede Senori. Bisa jadi disebut saudara ini adalah karena saudara satu guru, sehingga anak-anak mereka dapat tidak mengetahuinya.
Konon, adapun tempat menemukannya kuda Gagak Rimang sekarang menjadi nama sebuah desa yakni Desa Gagakan. Dan jika kita melihat bahwa Soreng Rana adalah pembesar dari desa Sambeng, sampai sekarang ada yang namanya Desa Sambeng di kecamatan Todanan, dan Desa Gagakan di kecamatan Kunduran di Kabupaten Blora. Adapun sekarang nama Gagak Rimang di Blora ataupun di Jawa pada umumnya menjadi nama-nama berbagai sesuatu(tempat, komunitas, dll). Di Blora sendiri ada Terminal Gagak Rimang, Radio Gagak Rimang, dan lambang Persikaba (klub sepak bola di Kabupaten Blora).
logo Persikaba











                                    :Twitter : @persikabaBlora (https://twitter.com/persikabablora)
Sumber        :
2.       Wahyuni, Tri dan Umi Farida, Desi Ari Pressanti. 2017. Cerita Rakyat Jawa Tengah Kabupaten Blora. Semarang : Balai Bahasa Jawa Tengah.


Sunday, March 3, 2019

Sejarah Blora, Sejarah berdirinya Blora

Blora merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah, terletak di ujung timur berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur, merupakan salah satu penghasil kayu Jati terbaik di dunia. Berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati di utara, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di selatan, serta Kabupaten Grobogan di barat.
 
 

Gambar : Alun-Alun Blora

 
 
Menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata BELOR yang berarti Lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama BLORA. Secara etimologi Blora berasal dari kata WAI + LORAH. Wai berarti air, dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah.. Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B(contoh lain : Wengi dan Bengi), tanpa menyebabkan perubahan arti kata.Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata WAILORAH menjadi BAILORAH, dari BAILORAH menjadi BALORA dan kata BALORA akhirnya menjadi BLORA. Jadi nama BLORA berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur.
 
 
Pada abad ke XVI Blora masuk ke dalam Pemerintahan Kadipaten Jipang, yang pada saat itu masih di bawah Kadipaten Demak. Adipati Jipang pada saat itu bernama Arya Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah Kekuasaannya meliputi : Pati, Lasem, Blora dan Jipang sendiri.  Akan tetapi setelah jaka Tingkir (Hadiwijaya) mewarisi tahta Demak, dengan gegernya dengan Arya Penangsang hingga meninggalnya Arya Penangsang, lalu pusat pemerintahan di pindahkan ke Pajang. Dengan demikian Blora masuk Kerajaan Pajang.

 
Kerajaan Pajang tidak lama memerintah, karena direbut oleh Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mataram bagian timur atau daerah Bang Wetan. Pada masa Pemerintahan Paku Buwana I (1704-1719) daerah Blora diberikan kepada putranya yang bernama Pangeran Blitar dan diberi gelar Adipati. Luas Blora pada saat itu 3.000 karya (1 karya=3/4 hektar). Pada tahun 1719-1727 Kerajaan mataram dipimpin oleh Amangkurat IV sehingga sejak saat itu Blora berada di bawah pemerintahan Amangkurat IV.
 
Pada saat Mataram di bawah Pakubuwana II (1727-1749) terjadi pembrontakan yang dipimpin oleh Mangkubumi dan Mas sahid, Mangkubumi berhasil menguasai Sukawati, Grobogan, Demak, Blora, dan Yogyakarta. Akhirnya Mangkubumi diangkat oleh rakyatnya menjadi raja di Yogyakarta.
 
Berita dari Babad Giyanti dan Serat Kuntharatama menyatakan bahwa Mangkubumi menjadi raja pada tanggal 1 Sura tahun Alib 1675, atau 11 Desember 1749. Bersamaan dengan diangkatnya Mangkubumi menjadi raja, maka diangkat pula para pejabat yang lain, diantaranya adalah pemimpin prajurit Mangkubumen, yaitu Wilatikta menjadi Bupati Blora.
 
Sampai sekarang 11 Desember diperingati sebagai hari jadi Blora, secara tidak langsung ini mengakui bahwa 11 Desember 1749 adalah hari lahirnya Blora.

Sumber         :
1.         Pangesti, Fida. 2018. Perubahan Bunyi Bahasa Jawa: Kajian Linguistik Diakronis Bahasa Jawa Kawi—Jawa Baru. Jurnal. FKIP-UMM.
2.         http://www.blorakab.go.id/index.php/public/profil/index/165
3.         http://goasentono.blogspot.com/2011/02/sejarah-kabupaten-blora.html

sumber gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Alun_alun_Blora.jpg

Sejarah Desa Todanan


Ada 2 versi cerita yang saya dapatkan tentang sejarah desa Todanan setidaknya berdasarkan dari cerita tutur.
Versi yang pertama
Pada dahulu diceritakan bahwa ada 2 orang kakak beradik datang dari pesisir utara jawa dengan berjalan kaki, kakak beradik ini laki-laki dan perempuan. Diceritakan bahwa kakak beradik ini sedang mencari sebuah tempat tinggal baru atau berkelana. Dalam perjalanan itu sendiri kakak beradik ini sampailah di wilayah desa Todanan yang sekarang dan mereka kehabisan bekal makanan, akhirnya kedua orang tersebut meminta tolong kepada warga sekitar untuk memberi makan, pada akhirnya mereka diberi banyak sekali makanan oleh warga sekitar yang memang baik. Karena suka nya kedua orang tersebut, sehingga kedua orang itu menanyakan nama desa itu, tetapi tak ada orang desa yang menjawab pertanyaan itu karena wilayah tersebut belum ada namanya, akhirnya karena kakak beradik tersebut ingin memberikan nama. Sang kakak memberi nama Tedhanan yang artinya makanan karena banyaknya makanan yang diberikan kepada kakak beradik ini. Akhirnya nama ini pun meluas akan tetapi orang orang selanjutnya mendengarnya adalah Todanan karena jarak yang jauh antara orang yang membeti tahu dengan yang lain, karena dengungan dengungan itu maka sekarang menjadi desa Todanan.

Versi yang kedua
Cerita ini berkaitan erat dengan cerita orang Dalangan, dimana saya mendapatkan cerita ini. Bahwa dikisahkan dahulu ada dua orang perempuan dan laki-laki, kedua orang ini ingin membuka lahan baru dikarenakan wilayah ini masih ditumbuhi hutan yang lebat, pada akhirnya laki-laki dan perempuan itu menebang pohon untuk membuka lahan. Akhirnya laki-laki karena kekuatannya lebih besar mendapat wilayah yang lebih luas sebenarnya tetapi dikarenakan sang perempuan hanya mendapat wilayah yang kecil, perempuan itu meminta tolong kepada lelaki untuk memberikan sedikit wilayah tebangannya untuk perempuan. Pada awalnya laki-laki ini menolak dan bilang bahwa harus pada kerja masing-masing tetapi setelah dibujuk akhirnya laki-laki ini pun mau menerima tetapi dengan ketentuan yang dibuat oleh laki-laki, perempuan itu pun menerimanya. Akhirmya, dibuatlah ketentuan bahwa dikarenakan banyaknya ranting yang menjadi sampah dan perlu dibakar dibuatlah ketentuan bahwa wilayah si perempuan hanya pada seberapa luas tempat abu pembakaran ranting ranting itu dan wilayah lainnya adalah milik laki-laki. Perempuan pun menerima ketentuan itu, akhirnya dibakarlah ranting-ranting itu, akan tetapi waktu itu ada angin yang kencang sehingga berhamburanlah abu dari pembakaran itu sehingga mendapatkan wilayah yang lebih luas dan subur, sekarang menjadi wilayah desa Todanan dan wilayah laki-laki sekarang menjadi desa Dalangan
Sejarah Desa Todanan, kec. Todanan, Blora ini saya ambil dari cerita orang orang

Artikel Terbaru