Thursday, August 29, 2019

Sedekah Bumi Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa




Sedekah bumi dikenal di masyarakat Jawa pada umumnya. Sedekah bumi sebagai salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam mensyukuri hasil bumi. Suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi, kesehatan, serta keselamatan kepada masyarakat setempat, serta memohon keselamatan untuk waktu yang akan datang. Masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai petani menyebutnya dengan Sedekah Bumi, sementara nelayan biasanya disebut Sedekah Laut. Tradisi ini biasanya dilakukan setiap satu tahun satu kali.
Pada acara sedekah bumi ini biasanya digunakan masyarakat sebagai ajang pesta. Syukuran bisa diadakan di lapangan, sumber air, balai desa, tergantung dari masing-masing kebiasaan desa. Syukuran dilakukan dalam bentuk membawa makanan hasil bumi ke tempat yang telah disepakati untuk kemudian didoakan oleh pemimpin adat/keagamaan atau salah satu perangkat desa. Sedekah bumi juga dapat sebagai ajang bersih-bersih Desa atau tempat-tempat yang digunakan sebagai acara kegiatan. Selain itu biasanya dalam acara sedekah bumi menjadi sarana komunikasi kepala desa atau perangkat desa kepada masyarakat desa dan sekitarnya. Makanan dihimpun di tengah-tengah area menjadi satu, lalu didoakan oleh pemimpin adat/keagamaan. Barulah setelah itu sebagai acara makan besar bersama dan masing-masing orang membawa pulang kembali makanan yang telah saling tukar untuk dibagi ke sanak family di rumah. Doa dalam sedekah bumi tersebut umumnya dipimpin oleh sesepuh kampung yang sudah sering dan terbiasa mamimpin jalannya ritual tersebut.
Selain upacara adat biasanya warga juga mengadakan event, dapat berupa perlombaan ataupun menggelar kesenian rakyat. Seperti ; Barong Blora, Ketoprak, Wayang Kulit, Campursari, ataupun yang lebih ke anak muda seperti Dangdut, dll. Dengan dibentuk kepanitiaan serta penggalangan dana dari masyarakat berupa iuran atau bisa juga hasil kekayaan desa, sumbangan dan sumber lainnya. Barong Blora seakan menjadi kesenian wajib dalam sedekah bumi di wilayah kabupaten Blora karena kebanyakan dalam pelaksanaannya selalu ada Barong Blora dengan kekhasannya sendiri, berbeda dengan Barong Bali ataupun Reog Ponorogo.
Selain hanya didoakan di tempat yang telah disepakati, dalam acara sedekah bumi juga warga membagikan makanan kepada sanak saudara di luar desa tersebut. Bugis, Pasung, Dumbeg menjadi makanan khas dalam acara sedekah bumi, dan persebarannya masing-masing. Untuk daerah Blora bagian barat jarang ditemukan atau bahkan sama sekali tidak ada Dumbeg. Tapi di daerah Blora tengah atau timur dapat ditemui. Selain itu juga makanan-makanan hasil bumi setempat, misalnya buah-buahan, sayuran dan lainnya.
Dikutip dari NU Online “Yang dilarang itu perayaan atau pesta memperingati alam jin. Kalau sedekah bumi dan sedekah laut, itu budaya ekologis yang disertai doa kepada Allah SWT,” jelas Kiai Luqman dikutip NU Online, Jumat (19/10) lewat twitternya. Terbit pada 19 Oktober 2018 dan diakses 29 Agustus 2019.
Jika disimpulkan, kepercayaan dalam Sedekah Bumi jika ini bertujuan sebagai pesta memperingati alam Jin ataupun meminta perlindungan kepada Jin maka tentu saja ini dapat diharamkan tetapi apabila sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memohon keselamatan dari Allah, tentu budaya ini harus dilestaikan. Sedekah Bumi ataupun Sedekah Laut tetaplah harus dilestarikan sebagai warisan budaya dan bisa dimasukkan unsur-unsur yang lain seperti : tidak hanya sebagai pesta makanan tetapi sebagai acara sedekah untuk kaun fakir miskin.
Dalam bentuk perayaannya sayangnya ada beberapa tempat yang pernah penulis lihat saling melempar atau membuang-buang makanan. Jika ini ada maka sebaiknya hal ini tidak dilakukan karena seharusnya ada bentuk mengungkapkan rasa syukur yang lebih baik dari itu.

Referensi :

Friday, March 22, 2019

Asal-Usul dan Sejarah Cepu



Cepu (“tjepoe”), salah satu kecamatan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur dengan sungai Bengawan Solo sebagai pemisahnya. Cepu lebih dikenal sebagai salah satu penghasil minyak di Indonesia (Blok Cepu), juga sebagai wilayah Blora penghasil kayu Jati. Asal muasal nama kota Cepu sendiri tidak banyak diketahui. Begitu juga kapan tepatnya kota ini didirikan. Keterangan asal muasal nama kota Cepu lebih banyak berdasarkan legenda rakyat yaitu berupa tradisi lisan.
Ada beberapa cerita yang saya temui berdasar sumber yang saya dapat, mungkin masih ada cerita lainnya, pengunjung bisa tambahkan di komentar atau kirim kan ke email kami ya.
Versi 1
Nama Cepu sebelum ada Kadipaten  Jipang Panolan, yaitu PLUNTURAN
Nama Plunturan konon  diceritakan antara stasiun cepu kota/ngareng dan pertigaan Semangat dulu ada seorang laki-laki tua yang mata pencahariannya membuat tali/dadung, yang cara membuat nyadiplunturi (bahasa Jawa) yaitu membuat tali dengan menggulungnya di bagian kaki. Akhirnya orang ini meninggal di pertigaan semangat dan orang menjulukinya Mbah Pluntur. Makam Mbah pluntur ini di percaya masyarakat sekitar ada di desa Menggung berdampingan dengan mbah Singoyudo. Nama Plunturan ini di tulis oleh Prof. Suripan dalam bukunya Tradisi dari Blora
Versi 2
Nama Cepu pada masa Kadipaten Jipang Panolan
Pada masa ini  berhubungan dengan kemelut di Kerajaan Demak Bintoro sepeninggal SultanTrenggono yang gugur setelah berusaha menaklukan Pasuruan pada tahun 1546. Perebutan tatah antara anak Pangeran Sekar  yaitu Haryo penangsang yang merasa berhak atas tahta Kerajaan Demak. Yang dilakukannya dengan membunuh Pangeran Prawoto anak Sultan Trenggono sebagai balas dendam akan dibunuhnya pangeran Sekar Sedo Lepen.Arya Penangsang naik tahta sekitar tahun 1546-1568 sebagai Sultan yang ke – 4, kemudian Haryo Penangsang memindahkan pusat kerajaan Demak ke Kadipaten Jipang Panolan ( Cepu ). Pada masa inilah nama Cepu  muncul yaitu  peristiwa di seretnya Raden Romo oleh Pengeran Benowo  dengan mengunakan Kuda, yang talinya terbuat dari  bambu yang akhirnya di tolong oleh kakaknya yaitu Raden Ronggo. Kejadian ini berakibat kaki atau paha/pupu ( bhs jawa ) dari Raden Romo penuh tertancap serpihan pecahan bambu, kemudian di berilah nama Cepu dari asal kata bahasa Jawa Mancep Neng Pupu.
Versi 3
Konon pernah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Adipati Cepu kepada Raden Brawijaya dari Majapahit. Penyerangan ini dilakukan setelah runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak, ini artinya sekitar abad ke-15 sampai dengan abad ke-16. Dalam penyerangan ini, Adipati Cepu berhasil memaksa Raden Brawijaya untuk melarikan diri ke Gunung Lawu. Karena itulah ada kepercayaan masyarakat yang menyebutkan bahwa Raden Brawijaya mengucapkan kutukan , keturunan adipati Cepu "diharamkan" untuk mendaki ke Gunung Lawu. kalaupun ada yang nekat mendaki, maka ia tidak akan sampai puncak atau terkena sial.
Versi 4
Cerita rakyat yang satu ini, melegenda, mengisahkan asal-usul nama Cepu bermula dari peristiwa peperangan antara dua Adipati Tedjo Bendoro (Adipati Tuban) dengan Adipati Djati Koesoema (Adipati Bojonegoro). Tuban yang jaman merupakan pelabuhan dan salah satu kekuatan legenda pada masa Majapahit, tentu memiliki kekuatan Militer yang lebih kuat disbanding Bojonegoro yang posisinya agak di pedalaman. Alkisah Bojonegoro kalah dalam perang ini, dan sudah menjadi adat terikat tempo dulu pihak yang kalah harus menyerahkan semua kekayaannya, ini sangat normal di jaman modern pun pihak yang kalah harus mengganti kerugian perang. Semua putri harus diserahkan termasuk putri tercantik, Retno Sari. Tetapi, Retno Sari keberatan, dia melanggar janji dan kesapakatan adat, ia melarikan diri. Dari kisah pelarian putri rupawan ini, lahir nama-nama punden, dukuh, desa dan lokasi seperti Tuk Buntung dan lainnya. Dalam pelarian ini Sang Adipati Tuban terpaksa melepas senjata mirip panah kearah sang putri, pusakan andalannya itu tepat menancap (nancep) di paha (pupu) sang putri. Maka timbullah kata Cepu.,
Versi lain
Dan beberapa legenda yang lain seperti perebutan Putri Dumilah dari Madiun serta pertarungan antara Jipang Panolan dan Pajang. Juga koonon nama Cepu berasal dari kata CEPUK(bahasa jawa) yaitu tempat menyimpan uang atau barang kecil.

Sepertinya memang tidak atau belum ada literatur sejarah yang menyinggung tentang keberadaan kota ini, kecuali setelah masuknya penjajahan Belanda di Nusantara, yaitu dengan keberadaan sumur minyak pertama di negeri ini.
Pada masa kolonial Belanda, Cepu merupakan kota penting, karena kandungan minyak dan hutan jati . Di Cepu dapat ditemukan banyak bangunan peninggalan Belanda yang masih ada hingga sekarang. Antara lain : Rumah Pertemuan Sasono SOS, Suko Loji Klunthung dan Pemakaman Belanda terletak di Desa Wonorejo Kecamatan Cepu. Nama Cepu semakin dikenal dengan eksplorasi Blok Cepu. Blok ini mencakup wilayah Cepu dan Bojonegoro dengan kandungan minyak diperkirakan akan mencapai jutaan barel. Ada dua operator besar yang terlibat dalam eksplorasi minyak, yakni Exxon Mobile dan Pertamina. Pihak lain yang terlibat adalah Pemerintah Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Blora, dan Pemerintah Bojonegoro.
Cepu juga memiliki potensi lainnya. Yakni, aset pariwisata yang dapat dipasarkan, baik dalam bentuk warisan dan keindahan alam. Selain wisata budaya, Cepu juga memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik, unik, dan menawan. Berbagai tempat pariwisata menarik banyak wisatawan domestik dan luar negeri. Artinya, sumur minyak tua dan gas yang tersebar di wilayah sekitar Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo. Jumlah sumur tua yang telah mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi minyak. Sumur minyak di Cepu ini pertama kali ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian berganti nama menjadi Shell. Sebagian besar sumur-sumur tua secara tradisional ditambang oleh masyarakat setempat. Mereka menggunakan tali dan ember ditarik oleh sekitar 15 orang atau menggunakan sapi untuk menderek.
Sumur tua umumnya terletak di daerah perbukitan dan di tengah-tengah hutan jati. Dengan demikian, upaya ekstra harus mampu untuk melihatnya. Agak seperti sedikit petualangan. Ada juga wisata Loko Tour Tua di Cepu yang menarik sebagai tempat berfoto ria.
 Beberapa potret Cepu lainnya





Sumber :
5.         Sumber gambar : instagram @potretblora
6.         Sumber diambil pada 22 Maret 19 jam 14:02

Thursday, March 21, 2019

Daftar Nama-Nama Bupati Blora dari Masa ke Masa

foto : Djoko Nugroho, Bupati Blora 2010-sekarang(2019)
Blora, sejak tahun 1749, yang artinya sekarang sudah lebih dari 269 tahun. 2019 ini akan menjadi ke 270, dengan perjalanan panjang ini Blora telah melewati banyak pergantian pemimpin, sejak Tumenggung hingga Bupati. Setidaknya lebih dari 25 Bupati yang pernah menjabat sebagai pemimpi Blora.

Berikut adalah Daftar Bupati Blora dari masa ke masa.
No
Nama
Mulai Jabatan
Akhir Jabatan
Masa Jabatan
1.
 13 Tahun
2.
 20 Tahun
3.
 30 Tahun
4.
 11 Tahun
5.
 19 Tahun
6.
 1 Tahun
7.
 4 Tahun
8.
 10 Tahun
9.
 29 Tahun
10.
 26 Tahun
11.
 14 Tahun
12.
 12 Tahun
13.
 4 Tahun
14.
 3 Tahun
15.
 3 Tahun
16.
 1 Tahun
17.
 3 Tahun
18.
 5 Tahun
19.
 3 Tahun
20.
 7 Tahun
21.
 6 Tahun
22.
 6 Tahun
23.
 10 Tahun
24.
 10 Tahun
25.
 8 Tahun
26.
 3 Tahun
27.

28
Ir. Ihwan Sudrajat
Pejabat Bupati;
Hanya beberapa bulan
29.


Jika dilihat maka Bupati yang pernah menjabat terlama adalah RT Tirtakoesoema selama hampir 30 tahun, dan itu terjadi sebelum kemerdekaan Indonesia. Sedangkan setelah Kemerdekaan Indonesia jabatan terlama hanya 10 Tahun, mungkin pak Djoko sekarang juga akan termasuk yang pernah menjabat selama 10 tahun itu dan mungkin tidak mungkin lebih lama karena telah terbentur dengan peraturan.


Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Bupati_Blora
http://tabloidinfoku.blogspot.com/2016/03/jawaban-bupati-mengapa-blora-belum-maju.html


Artikel Terbaru