Wednesday, December 25, 2019

Waduk greneng, waduk sejak zaman kolonial yang mempesona





Waduk greneng adalah waduk yang terletak di dukuh greneng, desa Tunjungan, Tunjungan, Blora. Kurang lebih 12 km dari pusat kota Blora kea rah barat laut, jalur paling umum yang dilalui adalah lewat Jalan Gatot Subroto Blora, dan dari perempatan Maguan berbelok ke utara menuju desa Tunjungan. Waduk greneng mempunyai pesona pemandangan yang indah dengan hamparan kurang lebih 45 Ha berlatar belakang hutan jati KPH Mantingan. Waduk Greneng merupakan waduk terbesar kedua di Blora.
Waduk yang katanya dibangun pada tahun 1919 pada masa kolonial Belanda ini memiliki fungsi utama sebagai irigasi pertanian. Dengan manfaat irigasi luas lahan mencapai 251 Ha, waduk greneng menjadi sangat penting untuk pertanian bagi area persawahan daerah waduk.
Selain sebagai waduk irigasi, pemandangannya yang indah juga dapat dijadikan tempat wisata. Apalagi sekarang dengan pengembangan daerah wisata Cemoro pitu dan kebun buah Greneng. Juga dengan adanya jukung dan speedboat yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk menyebrang ke cemoro pitu ataupun berkeliling waduk. Selain wisata menikmati indahnya alam, pengunjung juga dapat menyalurkan hobi memancingnya di sini.
Memang sayangnya waduk ini belum terkoneksi dengan kendaraan umum. Jadi untuk mencapai kawasan waduk Greneng harus dengan kendaraan pribadi, baik kendaraan roda dua ataupun roda empat. Walaupun begitu perjalanan akan menyenangkan karena di sekitar waduk ada hamparan sawah yang luas dan asri sehingga dapat menghilangkan kejenuhan-kejenuhan dalam diri. Untuk mencapai waduk Greneng juga tidak susah, sekarang dengan adanya google maps anda dapat mencapai waduk greneng dengan lebih mudah. Selain itu jika ingin bertanya kepada warga Blora yang ramah juga pasti akan diberi tahu dengan senyuman. Ayo dolan Blora.
Referensi :
1.        Blorakab.go.id
2.        Bloranews.com


Wednesday, December 11, 2019

Mengenal Lebih Dekat Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar Asli Blora



Tentu kita tahu trailer film Bumi Manusia yang dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan yang trailernya per 13 Juli 2019 telah ditonton lebih dari 4,2 juta kali. Bumi Manusia? Terdengar asing sebelumnya atau sudah mulai familiar? Merupakan buku pertama dari rangkaian Tetralogi Buru dan sampai dengan tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Merupakan buku karangan Pramoedya Ananta Toer.
Pramoedya Ananta Mastoer nama asli dari Pramoedya Ananta Toer. Salah satu pengarang paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pram sapaan akrabnya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan lebih dari 42 bahasa asing. Pramoedya dilahirkan di Blora, Jawa tengah 6 Februari 1925. Sebagai anak sulung dari 9 bersaudara, walaupun sebenarnya Pram adalah anak kedua namun karena anak pertama meninggal dalam kandungan makan Pram dianggap sebagai anak sulung. Ayahnya Pak Mastoer adalah seorang guru dan ibunya adalah seorang penjual nasi. Nama keluarganya Mastoer dirasa terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan ‘Mas’ dari nama tersebut dan hanya menggunakan “Toer” sebagai nama keluarga. Pram menempuh pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatlan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Pram menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1948. Pada 1950-an Pram tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan saat kembali ke Indonesia Pram menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisanna berubah pada masa ini, seperti dalam karyanya Korupsi , fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara Pram dengan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan Pram ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan dan akhirnya di pulau Buru kawasan Indonesia Timur. Di semacam penjara konsentrasi terhadap kasus-kasus politik Komunisme pada masa itu.
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan (13 Oktober 1965 – Juli 1969, Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru, November – 21 Desember 1979 di Magelang). Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun masih dapat menyusun serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, 4 seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, bercermin pada pengalaman RM Tirto Adhi Soerjo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Prijaji dan media resmi sebagai sarana advokasi, Medan Prijaji yang diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara lisan kepada rekan-rekan di Unit III Wanayasa, Buru, sebelum dia mendapatkan kesempatan untuk menuliskan kisahnya di mana naskah-naskahnya diselundupkan lewat tamu-tamu yang berkunjung ke Buru.
Pram akhirnya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapat surat pembebasan tidak bersalah secara hokum serta tidak terlobat dalam Gerakan 30 September, akan tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia merampungkan penulisan Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir.
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufiq Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya pada tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama. Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis. Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggung jawaban Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran. Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada, sejak dipindahkan dari Unit III ke Markas Komando atau Mako. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup lebih baik dalam penahanan itu. Pramoedya kerap kali menjadi 'bintang' ketika ada tamu dari luar negeri yang berkunjung, karena reputasinya di Internasional sangat dihargai.
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, berakhir tinggal di sana dan tidak kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menceritakan pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong GedeBogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjaljantung, dan diabetes. Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya. Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00. Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram. Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor SitumorangErry Riyana HardjapamekasNurul Arifin dan suami, Usman HamidPutu WijayaGoenawan MohamadGus SolahRatna SarumpaetBudiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI PerjuanganDewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.
Sumber :

Thursday, August 29, 2019

Sedekah Bumi Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa




Sedekah bumi dikenal di masyarakat Jawa pada umumnya. Sedekah bumi sebagai salah satu tradisi masyarakat Jawa dalam mensyukuri hasil bumi. Suatu upacara adat yang melambangkan rasa syukur manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki melalui bumi berupa segala bentuk hasil bumi, kesehatan, serta keselamatan kepada masyarakat setempat, serta memohon keselamatan untuk waktu yang akan datang. Masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai petani menyebutnya dengan Sedekah Bumi, sementara nelayan biasanya disebut Sedekah Laut. Tradisi ini biasanya dilakukan setiap satu tahun satu kali.
Pada acara sedekah bumi ini biasanya digunakan masyarakat sebagai ajang pesta. Syukuran bisa diadakan di lapangan, sumber air, balai desa, tergantung dari masing-masing kebiasaan desa. Syukuran dilakukan dalam bentuk membawa makanan hasil bumi ke tempat yang telah disepakati untuk kemudian didoakan oleh pemimpin adat/keagamaan atau salah satu perangkat desa. Sedekah bumi juga dapat sebagai ajang bersih-bersih Desa atau tempat-tempat yang digunakan sebagai acara kegiatan. Selain itu biasanya dalam acara sedekah bumi menjadi sarana komunikasi kepala desa atau perangkat desa kepada masyarakat desa dan sekitarnya. Makanan dihimpun di tengah-tengah area menjadi satu, lalu didoakan oleh pemimpin adat/keagamaan. Barulah setelah itu sebagai acara makan besar bersama dan masing-masing orang membawa pulang kembali makanan yang telah saling tukar untuk dibagi ke sanak family di rumah. Doa dalam sedekah bumi tersebut umumnya dipimpin oleh sesepuh kampung yang sudah sering dan terbiasa mamimpin jalannya ritual tersebut.
Selain upacara adat biasanya warga juga mengadakan event, dapat berupa perlombaan ataupun menggelar kesenian rakyat. Seperti ; Barong Blora, Ketoprak, Wayang Kulit, Campursari, ataupun yang lebih ke anak muda seperti Dangdut, dll. Dengan dibentuk kepanitiaan serta penggalangan dana dari masyarakat berupa iuran atau bisa juga hasil kekayaan desa, sumbangan dan sumber lainnya. Barong Blora seakan menjadi kesenian wajib dalam sedekah bumi di wilayah kabupaten Blora karena kebanyakan dalam pelaksanaannya selalu ada Barong Blora dengan kekhasannya sendiri, berbeda dengan Barong Bali ataupun Reog Ponorogo.
Selain hanya didoakan di tempat yang telah disepakati, dalam acara sedekah bumi juga warga membagikan makanan kepada sanak saudara di luar desa tersebut. Bugis, Pasung, Dumbeg menjadi makanan khas dalam acara sedekah bumi, dan persebarannya masing-masing. Untuk daerah Blora bagian barat jarang ditemukan atau bahkan sama sekali tidak ada Dumbeg. Tapi di daerah Blora tengah atau timur dapat ditemui. Selain itu juga makanan-makanan hasil bumi setempat, misalnya buah-buahan, sayuran dan lainnya.
Dikutip dari NU Online “Yang dilarang itu perayaan atau pesta memperingati alam jin. Kalau sedekah bumi dan sedekah laut, itu budaya ekologis yang disertai doa kepada Allah SWT,” jelas Kiai Luqman dikutip NU Online, Jumat (19/10) lewat twitternya. Terbit pada 19 Oktober 2018 dan diakses 29 Agustus 2019.
Jika disimpulkan, kepercayaan dalam Sedekah Bumi jika ini bertujuan sebagai pesta memperingati alam Jin ataupun meminta perlindungan kepada Jin maka tentu saja ini dapat diharamkan tetapi apabila sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memohon keselamatan dari Allah, tentu budaya ini harus dilestaikan. Sedekah Bumi ataupun Sedekah Laut tetaplah harus dilestarikan sebagai warisan budaya dan bisa dimasukkan unsur-unsur yang lain seperti : tidak hanya sebagai pesta makanan tetapi sebagai acara sedekah untuk kaun fakir miskin.
Dalam bentuk perayaannya sayangnya ada beberapa tempat yang pernah penulis lihat saling melempar atau membuang-buang makanan. Jika ini ada maka sebaiknya hal ini tidak dilakukan karena seharusnya ada bentuk mengungkapkan rasa syukur yang lebih baik dari itu.

Referensi :

Friday, March 22, 2019

Asal-Usul dan Sejarah Cepu



Cepu (“tjepoe”), salah satu kecamatan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur dengan sungai Bengawan Solo sebagai pemisahnya. Cepu lebih dikenal sebagai salah satu penghasil minyak di Indonesia (Blok Cepu), juga sebagai wilayah Blora penghasil kayu Jati. Asal muasal nama kota Cepu sendiri tidak banyak diketahui. Begitu juga kapan tepatnya kota ini didirikan. Keterangan asal muasal nama kota Cepu lebih banyak berdasarkan legenda rakyat yaitu berupa tradisi lisan.
Ada beberapa cerita yang saya temui berdasar sumber yang saya dapat, mungkin masih ada cerita lainnya, pengunjung bisa tambahkan di komentar atau kirim kan ke email kami ya.
Versi 1
Nama Cepu sebelum ada Kadipaten  Jipang Panolan, yaitu PLUNTURAN
Nama Plunturan konon  diceritakan antara stasiun cepu kota/ngareng dan pertigaan Semangat dulu ada seorang laki-laki tua yang mata pencahariannya membuat tali/dadung, yang cara membuat nyadiplunturi (bahasa Jawa) yaitu membuat tali dengan menggulungnya di bagian kaki. Akhirnya orang ini meninggal di pertigaan semangat dan orang menjulukinya Mbah Pluntur. Makam Mbah pluntur ini di percaya masyarakat sekitar ada di desa Menggung berdampingan dengan mbah Singoyudo. Nama Plunturan ini di tulis oleh Prof. Suripan dalam bukunya Tradisi dari Blora
Versi 2
Nama Cepu pada masa Kadipaten Jipang Panolan
Pada masa ini  berhubungan dengan kemelut di Kerajaan Demak Bintoro sepeninggal SultanTrenggono yang gugur setelah berusaha menaklukan Pasuruan pada tahun 1546. Perebutan tatah antara anak Pangeran Sekar  yaitu Haryo penangsang yang merasa berhak atas tahta Kerajaan Demak. Yang dilakukannya dengan membunuh Pangeran Prawoto anak Sultan Trenggono sebagai balas dendam akan dibunuhnya pangeran Sekar Sedo Lepen.Arya Penangsang naik tahta sekitar tahun 1546-1568 sebagai Sultan yang ke – 4, kemudian Haryo Penangsang memindahkan pusat kerajaan Demak ke Kadipaten Jipang Panolan ( Cepu ). Pada masa inilah nama Cepu  muncul yaitu  peristiwa di seretnya Raden Romo oleh Pengeran Benowo  dengan mengunakan Kuda, yang talinya terbuat dari  bambu yang akhirnya di tolong oleh kakaknya yaitu Raden Ronggo. Kejadian ini berakibat kaki atau paha/pupu ( bhs jawa ) dari Raden Romo penuh tertancap serpihan pecahan bambu, kemudian di berilah nama Cepu dari asal kata bahasa Jawa Mancep Neng Pupu.
Versi 3
Konon pernah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Adipati Cepu kepada Raden Brawijaya dari Majapahit. Penyerangan ini dilakukan setelah runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak, ini artinya sekitar abad ke-15 sampai dengan abad ke-16. Dalam penyerangan ini, Adipati Cepu berhasil memaksa Raden Brawijaya untuk melarikan diri ke Gunung Lawu. Karena itulah ada kepercayaan masyarakat yang menyebutkan bahwa Raden Brawijaya mengucapkan kutukan , keturunan adipati Cepu "diharamkan" untuk mendaki ke Gunung Lawu. kalaupun ada yang nekat mendaki, maka ia tidak akan sampai puncak atau terkena sial.
Versi 4
Cerita rakyat yang satu ini, melegenda, mengisahkan asal-usul nama Cepu bermula dari peristiwa peperangan antara dua Adipati Tedjo Bendoro (Adipati Tuban) dengan Adipati Djati Koesoema (Adipati Bojonegoro). Tuban yang jaman merupakan pelabuhan dan salah satu kekuatan legenda pada masa Majapahit, tentu memiliki kekuatan Militer yang lebih kuat disbanding Bojonegoro yang posisinya agak di pedalaman. Alkisah Bojonegoro kalah dalam perang ini, dan sudah menjadi adat terikat tempo dulu pihak yang kalah harus menyerahkan semua kekayaannya, ini sangat normal di jaman modern pun pihak yang kalah harus mengganti kerugian perang. Semua putri harus diserahkan termasuk putri tercantik, Retno Sari. Tetapi, Retno Sari keberatan, dia melanggar janji dan kesapakatan adat, ia melarikan diri. Dari kisah pelarian putri rupawan ini, lahir nama-nama punden, dukuh, desa dan lokasi seperti Tuk Buntung dan lainnya. Dalam pelarian ini Sang Adipati Tuban terpaksa melepas senjata mirip panah kearah sang putri, pusakan andalannya itu tepat menancap (nancep) di paha (pupu) sang putri. Maka timbullah kata Cepu.,
Versi lain
Dan beberapa legenda yang lain seperti perebutan Putri Dumilah dari Madiun serta pertarungan antara Jipang Panolan dan Pajang. Juga koonon nama Cepu berasal dari kata CEPUK(bahasa jawa) yaitu tempat menyimpan uang atau barang kecil.

Sepertinya memang tidak atau belum ada literatur sejarah yang menyinggung tentang keberadaan kota ini, kecuali setelah masuknya penjajahan Belanda di Nusantara, yaitu dengan keberadaan sumur minyak pertama di negeri ini.
Pada masa kolonial Belanda, Cepu merupakan kota penting, karena kandungan minyak dan hutan jati . Di Cepu dapat ditemukan banyak bangunan peninggalan Belanda yang masih ada hingga sekarang. Antara lain : Rumah Pertemuan Sasono SOS, Suko Loji Klunthung dan Pemakaman Belanda terletak di Desa Wonorejo Kecamatan Cepu. Nama Cepu semakin dikenal dengan eksplorasi Blok Cepu. Blok ini mencakup wilayah Cepu dan Bojonegoro dengan kandungan minyak diperkirakan akan mencapai jutaan barel. Ada dua operator besar yang terlibat dalam eksplorasi minyak, yakni Exxon Mobile dan Pertamina. Pihak lain yang terlibat adalah Pemerintah Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Blora, dan Pemerintah Bojonegoro.
Cepu juga memiliki potensi lainnya. Yakni, aset pariwisata yang dapat dipasarkan, baik dalam bentuk warisan dan keindahan alam. Selain wisata budaya, Cepu juga memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik, unik, dan menawan. Berbagai tempat pariwisata menarik banyak wisatawan domestik dan luar negeri. Artinya, sumur minyak tua dan gas yang tersebar di wilayah sekitar Cepu, Nglobo, Ledok, dan Wonocolo. Jumlah sumur tua yang telah mencapai 648 buah dengan 112 di antaranya masih aktif memproduksi minyak. Sumur minyak di Cepu ini pertama kali ditemukan pada tahun 1890 oleh Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM), sebuah perusahaan minyak dari Belanda, yang kemudian berganti nama menjadi Shell. Sebagian besar sumur-sumur tua secara tradisional ditambang oleh masyarakat setempat. Mereka menggunakan tali dan ember ditarik oleh sekitar 15 orang atau menggunakan sapi untuk menderek.
Sumur tua umumnya terletak di daerah perbukitan dan di tengah-tengah hutan jati. Dengan demikian, upaya ekstra harus mampu untuk melihatnya. Agak seperti sedikit petualangan. Ada juga wisata Loko Tour Tua di Cepu yang menarik sebagai tempat berfoto ria.
 Beberapa potret Cepu lainnya





Sumber :
5.         Sumber gambar : instagram @potretblora
6.         Sumber diambil pada 22 Maret 19 jam 14:02

Thursday, March 21, 2019

Daftar Nama-Nama Bupati Blora dari Masa ke Masa

foto : Djoko Nugroho, Bupati Blora 2010-sekarang(2019)
Blora, sejak tahun 1749, yang artinya sekarang sudah lebih dari 269 tahun. 2019 ini akan menjadi ke 270, dengan perjalanan panjang ini Blora telah melewati banyak pergantian pemimpin, sejak Tumenggung hingga Bupati. Setidaknya lebih dari 25 Bupati yang pernah menjabat sebagai pemimpi Blora.

Berikut adalah Daftar Bupati Blora dari masa ke masa.
No
Nama
Mulai Jabatan
Akhir Jabatan
Masa Jabatan
1.
 13 Tahun
2.
 20 Tahun
3.
 30 Tahun
4.
 11 Tahun
5.
 19 Tahun
6.
 1 Tahun
7.
 4 Tahun
8.
 10 Tahun
9.
 29 Tahun
10.
 26 Tahun
11.
 14 Tahun
12.
 12 Tahun
13.
 4 Tahun
14.
 3 Tahun
15.
 3 Tahun
16.
 1 Tahun
17.
 3 Tahun
18.
 5 Tahun
19.
 3 Tahun
20.
 7 Tahun
21.
 6 Tahun
22.
 6 Tahun
23.
 10 Tahun
24.
 10 Tahun
25.
 8 Tahun
26.
 3 Tahun
27.

28
Ir. Ihwan Sudrajat
Pejabat Bupati;
Hanya beberapa bulan
29.


Jika dilihat maka Bupati yang pernah menjabat terlama adalah RT Tirtakoesoema selama hampir 30 tahun, dan itu terjadi sebelum kemerdekaan Indonesia. Sedangkan setelah Kemerdekaan Indonesia jabatan terlama hanya 10 Tahun, mungkin pak Djoko sekarang juga akan termasuk yang pernah menjabat selama 10 tahun itu dan mungkin tidak mungkin lebih lama karena telah terbentur dengan peraturan.


Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Bupati_Blora
http://tabloidinfoku.blogspot.com/2016/03/jawaban-bupati-mengapa-blora-belum-maju.html


Artikel Terbaru