Saturday, May 21, 2022

2 Atlet Blora Berhasil Meraih Perak dan Perunggu di SEA Games Vietnam

Kabar gembira datang dari gelaran Sea Games Vietnam, pasalnya atlet asal Blora berhasil memenangkan medali. Kabar itu datang dari canag olah raga angkat besi pada kemarin Jumat(20/5/22). Lifter asal Blora Mohammad Yasin berhasil sabet medali perak di kelas 67 kg Putra.


Mohammad Yasin nyaris meraih emas pada kesempatan perdana tampil di ajang SEA Games. Moh Yasin mampu tampil meyakinkan dan bersaing ketat dengan lifter tangguh asal Thailand, Chantri Witsanu, lifter asal Vietnam Xuan Hoang Dinh, serta asal Filipina, Nestor Landag Colonia.

Pada angkatan Snatch, Moh Yasin unggul dengan angkatan seberat 141 kg, sementara lifter lain asal tuan rumah Vietnam, Xuan Hoang Dinh berhasil mengangkat beban 140 kg dan lifter asal Thailan, Chantri Witsanu hanya mampu mengangkat beban sebesar 136 kg.

Persaingan ketat terjadi pada angkatan Clean and Jerk. Moh Yasin membuka angkatan pertama Clean and Jerk dengan beban seberat 150 kg. sementara dua lifter pesaing yakni Chantri Witsanu menambah jumlah beban angkatannya dan berhasil mengangkat beban 166 kg dan lifter tuan rumah Xuang Hoang Dinh berhasil mengangkat beban seberat 167 kg.

Gambar : Mohammad Yasin dan Siti Nafisatul Horiroh, Atlet asal Blora


Dalam kesempatan kedua, Mohammad Yasin menaikkan angkatan bebannya seberat 167 kg, dan dia berhasil mengangkatnya. Melihat keberhasilan itu Chantri Witsanu mencoba menambah 5 kg menjadi 172 kg, namun ia gagal mengangkat beban itu pada kesempatan kedua. Sedangkan lifter tuan rumah Vietnam Xuang Hoang Dinh juga gagal mengangkat beban seberat 170 kg.

Pada kesempatan selanjutnya Mohammad Yasin mencoba menaikkan angkatannya menjadi 172 kg, ia berhasil mengangkat beban itu, namun angkatannya dinyatakan tidak sah oleh juri.



Di hari sebelumnya pada kamis (19/5/22) lifter asal Blora lainnya Siti Nafisatul Hariroh (20 tahun) berhasil meraih medali perunggu pada cabang olahraga Angkat Besi kelas 45 kg putri.



Hal ini tentu sangat membanggakan, khususnya bagi warga Blora. Apresiasi diberikan Bupati Blora melalui akun instgramnya @ariefrohman838

“ALHAMDULILLAH BLORA BANGGA.....!!

Dua atlet angkat besi asal Blora berhasil sumbangkan medali untuk Indonesia dalam SEA GAMES Vietnam….”

Sebagai informasi tambahan Mohammad Yasin atlet angkat besi asal Desa Blungun, Kecamatan Jepon, Blora sementara Siti Nafisatul Hariroh asal Dluwangan, Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora.

Hingga saat ini(21/5/22) pagi perolehan mendali Indoensia seperti dapat dilihat di situs resmi SEA Games 2021 https://seagames-en.vnanet.vn/bang-xep-hang.html berada di peringkat 3 dengan 49 medali emas, 70 medali perak, dan 63 medali perunggu. Tertinggal cukup jauh dari peringkat 1 dan 2 yakni Vietnam dan Thailand. Vietnam unggul jauh dengan 165 medali emas, 97 medali perak, dan 97 medali perunggu. Sementara Thailand meraih 67 medali emas, 77 medali perak, dan 109 medali perunggu. Indonesia juga ditempel ketat oleh Singapura dan Filipina yang perolehan medali emasnya masing-masing 47 dan 43.

Thursday, December 2, 2021

Mengenal Sejarah Sunan Pojok


Makan Sunan Pojok yang berada di pusat kota Blora atau lebih tepatnya selatan alun-alun kota Blora sekarang menjadi tempat wisata religius sekaligus tempat wisata sejarah. Lalu siapa sebenarnya Sunan Pojok dan bagaimana kiprahnya di Blora?


Gambar : Makan Sunan Pojok

Dari berbagai sumber Sunan Pojok memiliki beberapa nama yakni Pangeran Pojok, Wali Pojok Blora, Pangeran Surabaya, Pangeran Surabahu, Pangeran Sedah, Syaikh Amirullah Abdurrochim. Silsilah keluarganya sendiri Sunan Pojok memiliki 3 orang anak, yakni : (1) Pangeran Kleco, makamnya sekarang berada di Kudus, di kompleks makam Sunan Kudus, (2) Pangeran Joyodipo, Makamnya ada di Blora, (3) Pangeran Dipoyudo, makamnya berada di Desa Tambaksari, Blora.

Nama kecil Sunan Pojok sendiri Pangeran Surabahu Abdul Rohim, merupakan putra dari Kiai Ashari Sunan Pejagong Tuban.

Cerita bermula saat beliau dewasa dan mendapatkan perintah dari Raja Mataram yakni Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah Kerajaan Mataram dari tahun 1613-1645) menjadi Panglima Perang di Kerajaan. Tugas pokok sebagai panglima perang saat itu, yakni :

1.      Mengamankan wilayah Pati, Tuban, Surabaya, dan Pasuruhan dari pengaruh pemberontak.

2.      Mengajak bersatu dan bersama mengusir VOC

Setelah keberhasilannya dalam perang melawan VOC, diangkat menjadi Adipati di Tuban pada tahun 1619. Sunan Pojok menjadi Adipati Tuban selama 42 tahun mulai tahun 1619 sampai dengan tahun 1661. Sesuai tradisi Majapahit, rangkap jabatan antara menjadi Adipati Tuban dan panglima perang(Senapati).

Sunan Pojok memberikan banyak peninggalan di Blora, menurut cerita tutur misalnya Sunan Pojok banyak memberikan nama-nama dukuhan di Kabupaten Blora. Masjid Agung Baitunnur Blora yang terletak persis di depan alun-alun Blora juga merupakan salah satu peninggalannya.

Haulnya diperingati setiap tanggal 27 Sura karena ini merupakan hari kelahiran beliau.

 

Diambil dari berbagai sumber.

Saturday, January 18, 2020

Sejarah Samin Blora, Perlawanan tanpa Kekerasan




Ajaran Samin atau lebih dikenal dengan Samin dengan tokoh sentralnya yakni Samin Soerosentiko, disebut juga sedulur sikep. Samin Soerosentiko sendiri lahir dengan nama kecil Raden Kohar pada tahun 1859 di desa Ploso-Kediren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Surowijaya yang lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Di tahun itu kekuasaan atas wilayah Indonesia (Hindia Belanda saat itu) adalah di bawah kekuasaan Belanda. Lahir di bawah kekuasaan penjajah, yang sudah menjadi rahasia umum bahwa adanya ketidak adilan dalam kehidupan, menjadi salah satu latar belakang pergerakan ajaran Samin.
Lahir dengan nama Kohar, dank arena ia merupakan kalangan bangsawan maka ia berhak mengenakan nama Raden Kohar. Akan tetapi pada suatu ketika ia mengganti namanya menjadi Samin yang lebih kerakyatan. Ganti nama itu diikuti sifat bijak yang memberi pencerahan bagi orang di sekitarnya. Sejak 1890, sebagai Samin, dia mulai menyiarkan ajarannya di desa Klopodhuwur. Banyak orang dari desa tersebut terpengaruh, kemudian juga desa sebelahnya, Tapelan. Ajaran yang awalnya dianggap biasa oleh pemerintahan kolonial Belanda dibiarkan saja, karena dianggap hanya ajaran kebatinan atau agama baru biasa. Pada Januari 1903 Residen melaporkan bahwa ada sejumlah 772 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 Desa Blora bagian selatan dan sekitarnya yang giat mengembangkan ajaran samin. Barulah di tahun 1905, pemerintah kolonial mulai pusing. Pengikut-pengikut Samin itu tak sudi lagi bayar pajak. Jumlah pengikutnya pun terus bertambah. Tahun 1907, jumlah pengikut Samin diperkirakan lebih dari 5.000 orang.
Maret 1907, muncul isu adanya pemberontakan. Sehingga para pengikut Samin yang hadir dalam acara syukuran di desa Kedhung, Tuban ditangkapi. 8 November 1907 Samin Soerosentiko diangkat oleh para pengikutnya sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Aparat Kolonial pribumi mulai khawatir dan bertindak. Kemudian selang 40 hari Samin Soerosentiko ditangkap oleh Raden Pranolo Asisten Residen wedana Randublatung pada 18 Desember 1907 bertepaan dengan tanggal 12 Selo 1325 Tahun Jawa. Selanjutnya, Samin dikurung di bekas tobong pembaran batu gamping. Kemudian dia dibawa ke Rembang untuk diperiksa. Setelah pemeriksaan Samin Soerosentiko diputuskan bersalah dan beserta delapan pengikutnya diberi hukuman pengasingan. Samin Soerosentiko dan sejumlah pengikutnya dibuang ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Ini dilakukan pemerintahan Kolonial Belanda untuk menjauhkan Samin dengan para pengikutnya. Samin Soerosentiko berada di pembuangan hingga meninggal pada 1914.
Pengkaji sejarah dan budaya kabupaten Blora, Eko Arifiyanto menjuluki Samin Surosentiko sebagai Orang Rantai dari Blora. Hal ini karena Samin Surosentiko menjalani pengasingan dengan kaki yang dibelenggu rantai.
1908, setelah penangkapan Samin Soerosentiko sebagai tokoh sentral dalam ajaran Samin tidak membuat padam nafas pergerakan Samin. Wongsorejo, salah satu pengikur Samin mengajarkan ajaran Samin di Madiun. Dengan salah satu ajarannya yakni penolakan membayar pajak. Karena membahayakan kepentingan pemerintahan Belanda dengan mengajarkan pelawanan tidak membayar pajak Wongsorejo dengan beberapa pengikutnya dibuang keluar Jawa.
1911, Surohidin, menantu Samin Soerosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati. Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan.
Enam tahun setelah penangkapan Wongsorejo, tahun 1914 secara massal masyarakat Madiun menolak membayar pajak kepada pemerintah kolonial. Peristiwa pembangkangan massal ini menginspirasi gerakan serupa di beberapa daerah diantaranya, Kajen dan Larangan (Kabupaten Pati), Tapelan (Kabupaten Bojonegoro) dan tempat-tempat lain. Tahun 1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial Belanda menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati Pamong Desa dan Polisi. Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan Polisi. Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak.
Pemerintah kolonial pun tidak tinggal diam menghadapi pembangkangan ini. Sejumlah pengikut Samin Surosentiko di Madiun, Pati, Grobogan dan Kudus ditangkap. Penangkapan ini tidak membuat pengikut Samin Surosentiko berkecil hati.Para pengikut Samin Surosentiko meyakini bahwa Ratu Adil akan segera tiba. Di tahun yang sama yakni 1914 Samin meninggal di pembuangannya.
Ratu Adil akan segera tiba bila tanah yang digadai pemerintah kolonial Belanda dikembalikan kepada orang Jawa.“ Kalimat tersebut diyakini oleh para pengikut Samin Surosentiko dan menjadi motivasi untuk mengusir penjajah asing dari tanah Jawa.
Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh.
Menurut Paulus, Samin menjadi bahan cemoohan yang bersifat politis oleh pemerintah. Samin dicitrakan sebagai hal buruk. Pengikut-pengikutnya, yang disebut orang Samin, terus hidup dan tak suka dipaksa oleh pihak manapun. Samin dan pengikutnya, juga sebagian orang yang bukan pengikutnya, adalah orang-orang yang berkemauan keras dan tak suka dipaksa. Sejak lama, pengikut ajaran Samin kebanyakan adalah masyarakat petani. Sawah dan ladang mereka tentu akan mereka jaga jika diganggu oleh siapa pun.
Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun '70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar di beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah. Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep, karena kata Samin bagi mereka mengandung makna negatif. Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon.
Perlawanan Samin adalah pemberontakan di masanya, beban pemerintahan. Tetapi menjadi simbol perlawanan di masa sekarang. Bahkan sekarang telah dianggap sebagai ikon Kabupaten Blora di bidang pariwisata dengan adanya gedung Samin di Blora.
Pada September 2019 lalu Kabupaten Blora menerima penghargaan Warisan Budaya Tak Benda(WBTB) Kebudayaan Samin dari Kemendikbud RI.
Sumber referensi     :

Wednesday, January 8, 2020

Mengenal lebih dekat Luluk Hadiyanto, Atlet Bulutangkis Nasional asal Blora



Luluk Hadiyanto, apakah masyarakat Blora sendiri mengenal dengan nama ini? Bagi kalangan pecinta Bulutangkis tentu tidak asing dengan nama ini. Atlet bulutangkis Nasional level Internasional. Asal kecamatan Japah, Blora yang sudah sejak kecil sudah dekat dengan Bulutangkis. Setidaknya saat SMP ia telah tergabung dalam PB Djarum Kudus, salah satu klub Bulutangkis terbesar di Indonesia yang memang banyak menghasilkan atlet-atlet berprestasi.
Atlet kelahiran Blora, 8 Juli 1979 ini adalah pebulutangkis ganda putra. Sempat menduduki posisi teratas dengan partnernya yakni Alvent Yulianto di tahun 2004. Di tahun ini juga sukses menyabet 4 gelar bulutangkis bergengsi dunia.
Saat dirinya masih SMP, ketika sudah tergabung dalam PB Djarum di Kudus ddirinya harus mondar-mandir Solo-Kudus karena juga sekolah di SMP N 7 Solo. Usaha ini membuahkan hasil, prestasinya meningkat ditandai dengan dipanggil masuk Pelatnas Yunior di Jakarta. Tidak meninggalkan sekolah formalnya tetapi juga mengejar prestasinya sebagai atlet, Luluk juga harus mondar-mandir dari Solo-Jakarta. Pada kenyatannya dia berhasil di sekolah dan arena Bulutangkis dan selang 4 tahun kemudian Luluk resmi menjadi anggota Pelatnas Senior.
Luluk Hadiyanto juga memperhatikan pendidikan formalnya dengan berhasil lulus dari Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Indonesia pada tahun 2013.
Sebagai atlet ganda artinya harus berganti-ganti partner yang cocok.
Berikut adalah daftar prestasi Luluk Hadiyanto :
1998
1.      Runner Up Jakarta Internasional dengan Aras Razak
2000
1.      Semifinal Kejuaraan Asia dengan Imam Sodikin
2001
1.      Runner Up Singapore International Series dengan Endra Muljana
2.      Juara Thailan Open dengan Sigit Budiarto
2002
1.      Semifinal Korea Open dengan Alvent Yulianto
2003
1.      Semifinal Chinese Taipei Open dengan Alvent Yulianto
2004 dengan (Alvent Yulianto)
1.      Juara Thailan Open
2.      Runner Up Swiss Open
3.      Juara Korea Open
4.      Medali Perunggu dengan tim putra di Thomas Cup 2004
5.      Runner Up Malaysia Open
6.      16 Besar Olimpiade 2004
7.      Juara Singapore Open
8.      Juara Indonesia Open
2005  dengan ( Alvent Yulianto )
1.      Semifinal All England Open
2.      Semifinal Swiss Open
3.      Semifinal Malaysia Open
4.      Semifinal (Medali Perunggu) IBF World Championships
5.      Semifinal China Open
2006 dengan (Alvent Yulianto)
1.      Semifinal Kejuaraan Asia
2.      Perunggu bersama tim putra Indonesia di Thomas Cup 2006
3.      Runner Up Asian Games 2006
4.      Perunggu dengan tim putra Indonesia di Asian Games 2006
2007 dengan (Alvent Yulianto)
1.      Semifinal China Master Super Series
2.      Runner Up dengan tim Indonesia di Sudirman Cup tim Campuran – Sudirman Cup World Mixed Team Badminton Championships
3.      Perempat final Filipina Open
4.      Runner Up Jepang Open
5.      Perempat Final Perancis Open
6.      Semifinal Hong Kong Open
2008 dengan Alvent Yulianto
1.      Runner Up Korea Open
2.      Perempat final All Englan
3.      Perempat final Swiss Open
4.      Perempat final Kejuaraan Asia
5.      Babak pertama Olimpiade 2008
2009
1.      Perempat final Malaysia Open dengan Candra Wijaya
2.      Perempat final Indonesia Open dengan Joko Riyadi
3.      Perempat final Indonesia International Open Challenge dengan Joko Riyadi
4.      Juara Vietnam Open dengan Joko Riyadi
2010 dengan Candra Wijaya
1.      Perempat final Chinese Taipei Open
2.      Perempat final Jepang Open





Referensi :


Wednesday, December 11, 2019

Mengenal Lebih Dekat Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar Asli Blora



Tentu kita tahu trailer film Bumi Manusia yang dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan yang trailernya per 13 Juli 2019 telah ditonton lebih dari 4,2 juta kali. Bumi Manusia? Terdengar asing sebelumnya atau sudah mulai familiar? Merupakan buku pertama dari rangkaian Tetralogi Buru dan sampai dengan tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Merupakan buku karangan Pramoedya Ananta Toer.
Pramoedya Ananta Mastoer nama asli dari Pramoedya Ananta Toer. Salah satu pengarang paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pram sapaan akrabnya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan lebih dari 42 bahasa asing. Pramoedya dilahirkan di Blora, Jawa tengah 6 Februari 1925. Sebagai anak sulung dari 9 bersaudara, walaupun sebenarnya Pram adalah anak kedua namun karena anak pertama meninggal dalam kandungan makan Pram dianggap sebagai anak sulung. Ayahnya Pak Mastoer adalah seorang guru dan ibunya adalah seorang penjual nasi. Nama keluarganya Mastoer dirasa terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan ‘Mas’ dari nama tersebut dan hanya menggunakan “Toer” sebagai nama keluarga. Pram menempuh pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatlan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Pram menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1948. Pada 1950-an Pram tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan saat kembali ke Indonesia Pram menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisanna berubah pada masa ini, seperti dalam karyanya Korupsi , fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara Pram dengan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan Pram ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan dan akhirnya di pulau Buru kawasan Indonesia Timur. Di semacam penjara konsentrasi terhadap kasus-kasus politik Komunisme pada masa itu.
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan (13 Oktober 1965 – Juli 1969, Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru, November – 21 Desember 1979 di Magelang). Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun masih dapat menyusun serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, 4 seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, bercermin pada pengalaman RM Tirto Adhi Soerjo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Prijaji dan media resmi sebagai sarana advokasi, Medan Prijaji yang diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara lisan kepada rekan-rekan di Unit III Wanayasa, Buru, sebelum dia mendapatkan kesempatan untuk menuliskan kisahnya di mana naskah-naskahnya diselundupkan lewat tamu-tamu yang berkunjung ke Buru.
Pram akhirnya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapat surat pembebasan tidak bersalah secara hokum serta tidak terlobat dalam Gerakan 30 September, akan tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia merampungkan penulisan Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir.
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufiq Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya pada tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama. Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis. Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggung jawaban Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran. Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada, sejak dipindahkan dari Unit III ke Markas Komando atau Mako. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup lebih baik dalam penahanan itu. Pramoedya kerap kali menjadi 'bintang' ketika ada tamu dari luar negeri yang berkunjung, karena reputasinya di Internasional sangat dihargai.
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, berakhir tinggal di sana dan tidak kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menceritakan pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong GedeBogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjaljantung, dan diabetes. Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya. Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00. Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram. Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor SitumorangErry Riyana HardjapamekasNurul Arifin dan suami, Usman HamidPutu WijayaGoenawan MohamadGus SolahRatna SarumpaetBudiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI PerjuanganDewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.
Sumber :

Artikel Terbaru