Saturday, September 10, 2022

Watak Tembang Macapat dan Tahapan Kehidupan Manusia

 


Macapat adalah salah satu bentuk karya sastra  yang berbentuk puisi yang dapat ditembangkan atau dinyanyikan sebagai sebuah ciri khas kesusastraan Timur. Macapat juga dapat dikategorikan masuk dalam kelompok seni membaca atau resitasi. Istilah macapat atau dapat disamakan dengan macapot dan macapet sudah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak sekitar 1500 tahun SM atau masa pra sejarah. Tembang macapat memiliki ciri khas dalam setiap jenisnya yakni adanya aturan guru lagu, guru gatra, dam guru wilangan. 11 jenis tembang macapat itu yakni Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom. Asmarandhana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung.

Setiap tembang macapat memiliki watak sendiri-sendiri dan merupakan gambaran dari tahapan kehidupan manusia. Tembang macapat memiliki makna filosofi yang sangat dalam, maka dari itu sekarang kami akan mengulas sedikit tentang watak-watak tembang macapat dan tahapan dalam kehidupan manusia.

Maskumambang

Tahapan pertama diawali dengan tembang Maskumambang dengan 12i, 6a, 8i, 8a. Tembang Maskumambang mengandung filosofi hidup manusia dari awal penciptaannya, jadi Tembang Maskumambang menggambarkan tahap awal penciptaan manusia sebagai embrio yang sedang bertumbuh dalam Rahim ibu dan masih belum diketahui jati dirinya, belum juga dapat dikatakan dan diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan.

Tembang Maskumambang menggambarkan watak kesedihan atau duka, serta suasana hati yang nelangsa, laram prihatin, mengiba, gundah, resah atau bisa juga digambarkan mengambang.

Mijil

Tembang Mijil dengan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u memiliki filosofi penggambaran bentuk dari biji atau benih yang telah lahir di dunia. Jadi mijil merupakan perlambangan awal mula perjalanan manusia di dunia, sebagai awal permulaan perjalanan manusia yang masih suci dan begitu lemah sehingga membutuhkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya. Mijil juga dapat diartikan sebagai keluar, masih ada hubungannya dengan kata Wijil yang merupakan persamaan kata dari lawing atau pintu.

Watak tembang Mijil ini sesuai untuk menyampaikan nasehat, cerita-cerita, dan tentang asmara, berwatak terbuka. Mijil cocok untuk menghantarkan nasehat, melahirkan rasa sedih atau rasa sendu.

Kinanthi

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Kinanthi yakni 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i berasal dari kata ‘kanthi’ yang berarti menggandeng atau menuntun. Tembang Kinanthi menggambarkan kehidupan manusia ketika masih anak-anak, anak kecil yang masih perlu dituntun hingga nantinya dapat berjalan sendiri dengan baik di dunia.

Watak tembang Kinanthi yakni memberikan nuansa kasih sayang, kebahagiaan, serta keteladanan hidup. Lirik tembang Kinanthi cocok untuk menyampaikan wejangan, nasehat hidup, serta seputar ungkapan cinta atau kasih sayang.

Sinom

Tembang Sinom dengan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a mempunyai arti pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Tembang Sinom mengandung filosofi penggambaran sebagai manusia yang mulai beranjak dewasa, telah menjadi seorang pemuda / remaja yang bersemi. Sebagai seorang pemuda juga menjadi tanggung jawab dan tugasnya untuk menuntut ilmu sebaik dan setinggi mungkin.

Tembang Sinom memiliki watak  tresna asih, canthas, trengginas, luwes, grapyak, dan senang mencari pengelambana atau berpetualang.

Asmarandhana

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Asmaradana yakni 8i, 8a, 8e/o, 8a, 7a, 8u, 8a, berasal dari kata ‘asmara’ yang dapat diartikan sebagai cinta kasih dan dana berarti api, dapat dikatakan berarti api asmara. Filosofi tembang Asmarandana mengenai perjalanan hidup seseorang yang telah tiba waktunya untuk cinta kasih bersama pasangan hidup. Pada hakikatnya kehidupan cinta merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai kaidah penciptaan yang berpasang-pasangan. Asmarandana cocok untuk mengungkapkan rasa rindu, rayuan disertai juga dengan rasa pilu atau sedih.

Gambuh

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Gambuh yakni 7u, 10u, 12i, 8u, 8o dan Tembang Gambuh mengandung arti menyambungkan, ada juga yang mengatakan sama dengan kata ‘Jambuh’ atau cocok. Tembang Gambuh dapat digambarkan tentang perjalanan hidup manusia yang telah menemukan pasangan yang cocok untuk dirinya. Tembang Gambuh mengandung rasa akrab dan bagus untuk menyampaikan nasehat yang bersungguh-sungguh, atau santai dan akrab.

Tembang Gambuh memiliki watak kerukunan, kekeluargaan, dan kebersamaan makhluk sosial.

Dhandhanggula

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Dhandhanggula yakni 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a berasal dari dua kata ‘dhandhang’ dan ‘gula’. Dhandhanggula dapat diartikan sebagai tempat sesuatu tempat yang manis. Tembang Dhandhanggula mengisahkan tentang kehidupan dengan pasangan baru yang tengah berbahagia karena telah mendapatkan yang dicita-citakan. Tembang Dhandhanggula tembang yang bermakna serba manis, menyampaikan suasana serba manis, menyenangkan dan mengasikkan. Dhandhanggula melahirkan suasana perasaan yang menyenangkan, menghantarkan ajaran yang baik, mengasikkan dan mengungkapkan rasa kasih, melukiskan rasa keindahan dan keselarasan.

Watak Tembang Dhandhanggula bersifat universal dan luwes serta merasuk ke dalam hati.

Durma

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Durma yakni 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i dari kata Durma memiliki arti pemberian. Tembang Gambuh memiliki filosofi yang mengisahkan kehidupan yang suatu ketika dapat mengalami duka, selisih, serta kekurangan akan suatu hal. Sementara menurut Hardjowirogo kata Durma berarti sima atau harimau yang mempunyai watak kasar, bengis dan bernuansa keras karena merupakan hewan pemakan daging.

Watak tembang Durma ini melukiskan suasana keras, tegang, ungkapan kemarahan, gambaran pertikaian yang serba tegang atau nasehat yang keras.

Pangkur

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pangkur yakni 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i. Tembang Pangkur berasal dari kata ‘mangkur’ berarti pergi atau meninggalkan. Filosofi tembang Pangkur merupakan penggambaran kehidupan yang seharusnya dapat menghindari berbagai hawa nafsu dan angkara murka serta sifat buruk.

Watak Tembang Pangkur bernuansa pitutur(nasehat), pertemanan, dan cinta. Dalam tembang ini mengisahkan manusia yang telah menginjak usia senja, orang itu mulai mangkur atau mengundurkan diri dari hal-hal keduniawian. Tembang Pangkur juga ada menurut Hardjowirogo berarti buntut atau ekor. Ini bermakna ujung yang dapat mengacu pada puncak.

Megatruh

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Megatruh yakni 12u, 8i, 8u, 8i, 8o. Tembang Megatruh berasal dari dua kata ‘megat’ dan ‘roh’ diartikan sebagai putus rohnya atau terlepasnya roh. Filosofi tembang ini adalah tentang perjalanan hidup manusia yang telah selesai di dunia atau telah berpulang pada yang pencipta. Ini merupakan sebuah keniscayaan bahwa roh manusia pasti akan dan harus putus dari raganya dan pada saatnya itulah harus kembali menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Singkatnya dapat dikatakan tembang ini bermakna mati atau meninggal dunia. Tembang ini mengisyaratkan suasana sedih, sendu, duka, sesal, pedih, dan merana.

Watak tembang Megatruh yakni kesedihan dan kedukaan.

Pocung

Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Wilangan Pucung yakni 12u, 6a, 8i, 12a. Tembang Pocung berasal dari kata ‘pocong’ yang merupakan kondisi seseorang yang telah meninggal yang dibungkus kain kafan dan dipocong sebelum dikebumikan. Filosofi Tembang Pocung menggambarkan adanya ritual dalam melepaskan kepergian seseorang, yakni upacara pemakaman. Sementara dalam pendapat lain kata pocung berarti buah keluak. Menurut tradisi tutur, buah keluak ini dapat digunakan sebagai obat mencegah penyakit darah tinggi serta mengurangi ketegangan. Maka dari itu tembang Pocung cocok untuk menciptakan suasana santai, tidak tegang, jenaka dan riang, serta nasehat yang akrab.

Watak tembang ini lebih santai dan disampaikan dengan cara menghibur.

 

 

Previous Post
Next Post

0 komentar:

Artikel Terbaru