Monday, June 20, 2022

Kematian Arya Penangsang, Dendam dan Duka

Kerajaan/Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dan diperkirakan berdiri pada tahun 1478. Pendiri kerajaan Demak sekaligus raja pertama adalah Raden Patah memerintah antara tahun 1478-1518M. Selanjutnya dilanjutkan oleh Adipati Unus sebagai anak menantu tertua yang hanya memerintahkan selama kurang lebih 3 tahun antara 1518-1521 karena gugur dalam memimpin penyerbuan kedua Demak ke Malaka untuk mengusir Portugis. Adipati Unus kemudian lebih dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor. Sepeninggal Adipati Unus terjadi perebutan kekuasaan antara para calon penerus Sultan Demak karena Adipati Unus belum memiliki keturunan hingga wafatnya. Persaingan antara para penerus pemimpin Kerajaan Demak terjadi antara Trenggono dan Surowiyoto (Ayah Arya Penangsang). Singkat cerita Sultan Trenggono naik tahta Demak.

Di sisi lain kerajaan Jipang telah ada sejak abad ke-14 M, tepatnya pada masa pemerintahan raja ke-4 Majapahit. Kerajaan Jipang merupakan daerah perdikan sehingga tidak mempunyai kewajiban untuk membayar pajak karena jasanya sebagai daerah penyeberangan.

Penguasa Kerajaan Jipang yang pertama adalah Prabu Arya Jaya Dipa. Setelah wafatnya digantikan oleh anaknya yang bernama Raden Arya Seta, lalu dilanjutkan lagi oleh anaknya yang bernama Raden Usman Haji (Sunan Ngundung), sejak itu Jipang mengalami perubahan besar dalam sistem pemerintahan. Jipang mulai bekerjasama dengan Glagah Wangi (Demak) yang didirikan oleh Raden Patah (Sultan Demak yang pertam). Raden Patah kemudain menikah dengan putri Raden Usman Haji yang bernama Dewi Sekar Tanjung dan dianugerahi dengan dua orang anak bernama Ratu Mas Nyawa dan Surowijoyo. Surowijoyo atau Raden Kikin menikah dengan Dewi Roro Martinjung dan mempunya dua orang anak yakni Arya Penangsang dan Arya Mataram.

Surowiyoto atau Raden Kikin tewas dibunuh oleh Sunan Prawoto sepulang shalat Jumat di sungai, hingga akhirnya lebih dikenal sebagai Pangeran Seda Ing Lapen(Bunga yang gugur di sungai). Setelah kematian Raden Kikin atau Surowiyoto Sultan Trenggono pun naik tahta. Memerintah kurang lebih selama 25 tahun antara 1521 sampai dengan 1546, Sultan Trenggono tewas ketika memimpin serangan dalam rangka perluasan wilayah di Jawa Timur.

Sepeninggal Sultan Trenggono Raden Mukmin menggantikan sebagai raja ke-4 dengan gelar Sunan Prawoto, ibukota Demak dipindahkan ke Prawoto dan lebih dikenal sebagai periode Demak Prawoto (1546-1549). Pada tahun 1549 Arya Penangsang menuntut balas dan meminta tahta Demak karena merasa dialah yang berhak atas tahta Demak, dia tak terima atas kematian ayahnya. Arya Penangsang melakukan balas dendam dengan mengirim utusan bernama Rangkud dan menyerang Sunan Prawoto ketika ia sedang dalam perjalanan, Arya Penangsang juga melakukan pembunuhan terhadap Sunan Hadiri yang merupakan suami dari Ratu Kalinyamat. Setelah kematian Sunan Prawoto, Arya Penangsang menjadi penguasa Demak sebagai Sultan demak V, Ibukota Demak dipindahkan ke Jipang dan periode ini dikenal dengan sebutan Demak Jipang (1549-1554).

Kematian kakak dan suaminya membuat Ratu Kalinyamat dendam kepada Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat kemudian melakukan Tapa Wuda dan tidak akan menghentikan pertapaannya sebelum Arya Penangsang terbunuh.

Dikisahkan dalam Babad tanah jawi rombongan adipati Pajang Jaka Tingkir singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat tapa. Ratu Kalinyamat mendesak Jaka Tingkir untuk membunuh Arya Penangsang, dirinya yang mengaku sebagai pewaris tahka Sunan Prawoto berjanji akan menyerqhkan Demak dan Jepara kepada Jaka Tingkir jika ia menang.

Di sisi lain Jaka Tingkir segan untuk memerangi Arya Penangsang secara langsung karena bagaimanapun juga dia hanya menantu keluarga Demak sementara Arya Penangsang turunan langsung Demak (cucu Raden Patah). Maka dia mengumumkan sayembara, yakni barangsiapa yang dapat membunuh Arya Penangsang akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Alas Mentoak.

Akhirnya Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Sela, dan Ki Pandjawi mengikuti sayembara itu dan meminta izin kepada Jaka Tingkir untuk mengikutsertakan anak angkatnya yakni Sutawojaya untuk bersama mereka. Mereka dibekali pusaka tombah Kyai Plered dari Jaka Tingkir.


Dalam hari yang telah ditentukan pasukan Pajang menyerang Jipang dan saat itu Arya Penangsang sedang akan berbuka puasa setelah keberhasilannya puasa 40 hari. Terdapat surat tantangan atas nama Hadowijaya (Jaka Tingkir) yang memang saat itu sudah bertentangan dengan dirinya membuat Arya Penangsang tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang dipotong telinganya oleh Pamanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan oleh adiknya yakni Arya Mataram, Arya Penangsang tetap berangkat ke medan perang dengan menaiki kuda jantan andalannya bernama Gagak Rimang.

Gambar : Perang di dekat Bengawan Sore

Oleh siasat Ki Ageng Pamanahan Sutawijaya menunggu di seberang sungai Bengawan Sore menggunakan kuda betina yang sudah dipotong ekornya sehingga Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar kuda yang ditunggangi oleh Sutawijaya dengan menyeberangi Bengawan Sore. Dalam posisi yang tidak siap Arya Penangsang berhasil ditusuk menggunakan tombak Kyai Plered, dan terjadilah peperangan antara pasukan Pajang dan Jipang.

Dalam cerita yang beredar luas Arya Penangsang mampu bertahan meskipun terdapat luka robek dalam perutnya, di mana ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang. Dalam peperangan itu Arya Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Dalam keadaan terdesak itu Sutawijaya hendak mencabut keris yang dibawanya. Lalu Arya Penangsang diteriaki gunakan juga pusakamu dan Arya Penangsang lupa akan ususnyayang dililitkan ke gagang keris itu. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong sehingga menyebabkan kematiannya. Dalam peperangan itu Ki Matahun yang merupakan patih Jipang tewas. Arya Mataran dan istrinya serta beberapa kerabat berhasil meloloskan diri ke Palembang.

 

Referensi :

https://daerah.sindonews.com/read/627325/29/sultan-trenggono-raja-demak-yang-berhasil-lumpuhkan-kekuatan-majapahit-1639411950?showpage=all

Jurnal Skripsi “Perbandingan Cerita Arya Penangsang Versi Naskah Babad Pajang dan Cerita Rakyat” (http://eprints.undip.ac.id/64821/1/Ringkasan_Skripsi_(Jurnal).pdf)

https://daerah.sindonews.com/read/699539/29/arya-penangsang-raja-demak-yang-tewas-oleh-keris-setan-kober-miliknya-saat-melawan-sutawijaya-1646082234

 https://www.merdeka.com/jateng/kisah-hidup-jaka-tingkir-raja-pertama-dan-pendiri-kerajaan-pajang.html

Thursday, December 2, 2021

Mengenal Sejarah Sunan Pojok


Makan Sunan Pojok yang berada di pusat kota Blora atau lebih tepatnya selatan alun-alun kota Blora sekarang menjadi tempat wisata religius sekaligus tempat wisata sejarah. Lalu siapa sebenarnya Sunan Pojok dan bagaimana kiprahnya di Blora?


Gambar : Makan Sunan Pojok

Dari berbagai sumber Sunan Pojok memiliki beberapa nama yakni Pangeran Pojok, Wali Pojok Blora, Pangeran Surabaya, Pangeran Surabahu, Pangeran Sedah, Syaikh Amirullah Abdurrochim. Silsilah keluarganya sendiri Sunan Pojok memiliki 3 orang anak, yakni : (1) Pangeran Kleco, makamnya sekarang berada di Kudus, di kompleks makam Sunan Kudus, (2) Pangeran Joyodipo, Makamnya ada di Blora, (3) Pangeran Dipoyudo, makamnya berada di Desa Tambaksari, Blora.

Nama kecil Sunan Pojok sendiri Pangeran Surabahu Abdul Rohim, merupakan putra dari Kiai Ashari Sunan Pejagong Tuban.

Cerita bermula saat beliau dewasa dan mendapatkan perintah dari Raja Mataram yakni Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah Kerajaan Mataram dari tahun 1613-1645) menjadi Panglima Perang di Kerajaan. Tugas pokok sebagai panglima perang saat itu, yakni :

1.      Mengamankan wilayah Pati, Tuban, Surabaya, dan Pasuruhan dari pengaruh pemberontak.

2.      Mengajak bersatu dan bersama mengusir VOC

Setelah keberhasilannya dalam perang melawan VOC, diangkat menjadi Adipati di Tuban pada tahun 1619. Sunan Pojok menjadi Adipati Tuban selama 42 tahun mulai tahun 1619 sampai dengan tahun 1661. Sesuai tradisi Majapahit, rangkap jabatan antara menjadi Adipati Tuban dan panglima perang(Senapati).

Sunan Pojok memberikan banyak peninggalan di Blora, menurut cerita tutur misalnya Sunan Pojok banyak memberikan nama-nama dukuhan di Kabupaten Blora. Masjid Agung Baitunnur Blora yang terletak persis di depan alun-alun Blora juga merupakan salah satu peninggalannya.

Haulnya diperingati setiap tanggal 27 Sura karena ini merupakan hari kelahiran beliau.

 

Diambil dari berbagai sumber.

Wednesday, August 26, 2020

Mengenal lebih dekat dengan Kesenian Tayub Blora

Bangsa Indonesia memiliki beragam budaya, memiliki beragam bahasa,karena perbedaan sukunya. Inilah keragaman Indonesia yang hidup dan bersatu sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia. Salah satunya dapat dilihat dari beragamnya kesenian, mulai dari seni music, seni rupa, seni tari, dan seni lainnya. Berbicara tentang seni tari salah satu kesenian khas daerah Blora adalah Tayub. Tayub merupakan seni pertunjukan tari yang dapat digolongkan sebagai tari rakyat tradisional. Di dalam Tayub sifat kerakyatan sangat menonjol, sebagai gambaran dan jiwa masyarakat pedesaan yakni sifat spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, rancak, dan penuh rasa humor. Yang tidak hanya di Blora, Kesenian Tayub juga sebagai kesenian khas daerah lainnya seperti Bojonegoro, Tuban, Nganjuk, Ngawi, Tulungagung hingga Madiun.

Pada awalnya kesenian Tayub adalah sebagai ritual tarian, yakni ritual untuk kesuburan pertanian. Sebelum berkembang sebagai seni pertunjukan kesenian Tayub diselenggarakan bersamaan dengan Upacara kesuburan pertanian, diaman ini dilangsungkan saat mulai panen dengan harapan pada musim tanam berikutnya kan mendapat hasil yang melimpah lagi. Tidak hanya itu, Tayub juga diadakan hampir di seluruh upacara seperti upacara bedah bumi.

Dalam acara bedah bumi, pengibing atau pejoget yang tampil pertama bersama penari tayub adalah tetua desa. Pasangan antara tetua desa dan penari ini disebuk bedah atau membedah bumi. Tarian berpasangan ini dilangbangkan sebagai hubungan pria dan wanita dengan tanah yang dibedah atau dibelah hendak ditanami padi.

Seiring perkembangan zaman tidak hanya dalam ritual kesuburan pertanian, sebagaimana pentas seni lain seperti Barong, wayang atau Ketoprak, pertunjukan Tayub juga untuk upacara adat lainnya. Ataupun pada saat pesta perkawinan, khitan, orang memiliki nadzar dan lain sebagianya.

Pertunjukan seni Tayub diselenggarakan secara ramai dan bersama-sama. Unsur-unsur utama di dalamnya adalah ledek atau penari tayub dan gamelan. Serta penayub atau pejoget.

Walaupun pada awalnya kesenian Tayub terkesan dengan unsur tidak senonoh, akan tetapi karena tuntutan zaman sudah seharusnya kesenian Tayub menjadi lebih baik. Dengan memperhatikan norma dan kebiasaan yang ada di masyarakat saat ini. Seperti penghilangan unsur minuman keras dalam pertunjukan Tayub.

Sebagai kesenian dan warisan budaya nenek moyang, sebagai generasi muda juga hendaknya mengenal budaya tayub. Juga untuk melestarikan agar tidak punah dimakan zaman.

  






Referensi            :

https://blorakab.go.id

https://etnis.id/mengenal-tarian-tayub-dari-blora/

 

Sumber Gambar :

https://www.netralnews.com/news/singkapsejarah/read/138250/dilema-penari-tayub-dari-kemben-sampai-ngilu-hati-1-

https://radarsemarang.com/2017/08/22/penari-tayub-perempuan-harus-dari-luar-dusun/

http://misteri.detikone.com/berita/detail/balada-penari-tayub-tuban

 

Saturday, February 15, 2020

Arya Penangsang dan Kisah Penuntutan Haknya sebagai pewaris Demak



Arya Penangsang atau Arya Jipang atau Ji Pang Kang adalah Raja Adipati Jipang yang memerintah pada pertengahan abad ke-15. Kisah yang paling terkenal adalah perebutan kekuasaan terhadap tahta Demak hingga cerita tentang tewasnya Arya Penangsang dalam medan pertempuran.
Menurut Serat Kanda, Ayah dari Arya Penangsang adalah Surowiyoto atau Raden Kikin atau sering disebut juga sebagai Pangeran Sekar, ia adalah putra Raden Patah raja Demak pertama. Ibu Raden Kikin adalah putri Raja Jipang. Sehingga Arya Penangsang bisa mewarisi kedudukan kakeknya sebagai Penguasa Jipang.
Dalam Kerajaan Demak sendiri, system suksesi kepemimpinan adalah melalui keturunan seperti system kerajaan monarki lainnya. Sehingga secara hukum ada 3 pihak yang berkemungkinan sebagai penerus tahkta kerajaan Demak. Dalam urutan dari tertua yakni Raden Surya(Putra pertama, yang akan lebih dikenal sebagai Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor) dan yang kedua adalah Raden Kikin dan anak yang lebih muda dari Raden Kikin yakni Raden Trenggono (yang menjadi Raja Demak ketiga-Sultan Trenggono).
Pada masa pemerintahan Raden Patah pada tahun 1512 memerintahkan agar membebaskan Malaka dari Portugis. Adipati Unus memimpin pasukan penyerangan itu yang lebih dikenal sebagai Ekspedisi Jilid 1. Sepeninggal Raden Patah, tampuk kekuasaan dilanjutkan kepada Raden Surya yang lebih dikenal sebagai Adipati Unus dengan wasiat sendiri dari Raden Patah. Dalam sebuah riwayat ada yang mengatakan bahwa Pati Unus adalah menantu dari Raden Patah. Setelah Adipati Unus atau dikenal juga Pangeran Sabrang Lor berkuasa beliau melanjutkan ekspedisi untuk mengusir Portugis dari Malaka yang pernah mengalami kegagalan dan mempersiapkan penyerangan yang lebih matang. Adipati Unus ingin membebaskan Malaka dari Portugis sehingga memimpin sendiri pasukan itu. Dalam Ekspedisi kedua ini Adipati Unus tewas dalam medan pertempuran pada tahun 1521. Nantinya di kemudian hari Portugis dan bangsa Eropa lainnya menjadi penjajah atas bangsa-bangsa di Nusantara selama berabad abad.
Terjadi kekosongan kekuasaan dalam Kerajaan Demak, sehingga terjadilah perebutan kekuasaan antara Raden Kikin dan Raden Trenggono. Karena tidak ada keturunan dari Adipati Unus(dalam cerita lain disebutkan bahwa anaknya yakni Raden Abdullah masih sangat kecil dan berada di Banten, karena alasan keamanan tetap tinggal di Banten tidak ke Demak). Dalam kisah selanjutnya dimana terjadi perebutan kekuasaan atas kedua pihak, Raden Kikin yang mempiliki 2 orang putra yakni Arya Penangsang dan Arya Mataram, sedangkan Raden Trenggana memiliki putra yang bernama Raden Mukmin yang disebut juga Sunan Prawata. Ayah Arya Penangsang tewas dibunuh di tepi Sungai sepulang shalat Jumat. Para pengawalnya sempat membunuh Ki Sunyata. Sejak saat itu dikenal lah dengan sebutan Pangeran Sekar Seda ing Lapen (Bunga yang gugur di sungai). Dan dengan bukti ini lah dapat disimpulkan bahwa pembunuhan atas Raden Kikin adalah tanggung jawab Sunan Prawata. Dengan ini maka Sultan Trenggono naik tahta dan memimpin Kerajaan Demak. Tahun 1521 Sultan Trenggana naik takhta dan pemerintahannya berakhir pada 1546 saat ia gugur dalam upaya penakhlukan Panarukan dan Situbondo (Sekarang masuk wilayah Jawa Timur).
Sementara itu sepeninggal Raden kikin Arya Penangsang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Jipang. Saat itu usianya masih anak-anak, sehingga pemerintahannya diwakili Patih Matahun. Ia dibantu oleh salah satu senapati Kadipaten Jipang yang terkenal bernama Tohpati. Wilayah Jipang sendiri saat ini terletak di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Arya Penangsang yang ayahnya dibunuh menjadi dendam dengan Sultan Trenggono. Dendam itu terus terpelihara hingga pengikut Arya Penangsang melakukan pembunuhan terhadap Sunan Prawoto pada tahun 1549 sebagai balas dendam karena Sunan Prawoto telah membunuh P. Surowiyoto (Sekar), Bapak dari P. Arya Penangsang demi menaikkan Trenggana (Bapak Sunan Prawoto) menjadi Raja Demak ke 3.  Setelah membunuh Sunan Prawoto Arya Penangsang lalu menjadi raja Demak ke 5 atau Penguasa terakhir Kerajaan Demak dan memindahkan pusat Pemerintahan nya ke Jipang, sehingga pada masa itu dikenal dengan sebutan Demak Jipang. Namun pada tahun 1554 Arya penangsang tewas dibunuh Pasukan pemberontak kiriman Hadiwijaya, penguasa Pajang. Riwayat mengenai Arya Penangsang tercantum dalam beberapa serat dan babad yang ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19), seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Arya Penangsang juga terkenal sakti mandraguna serta memiliki kepribadian yang tegas dan kukuh, baginya tidak ada kata kompromi dalam membela dan mempertahankan kebenaran. Sifat yang demikian ternyata telah membuat gerah banyak pihak, alhasil entah siapa yang mengomandoi para generasi penulis sejarah ini sehingga secara keroyokan telah menghakimi sejarah P. Arya Penangsang. Disebutkan dalam tulisan sejarahnya bahwa Arya Penangsang adalah orang yang punya kepribadian kurang baik, pemberontak dan pembunuh, tempramental serta kurang sabar dalam melakukan sesuatu.
Ratu Kalinyamat, adik Sunan Prawoto, menemukan bukti kalau Sunan Kudus terlibat pembunuhan kakaknya. Ia datang ke Kudus meminta pertanggungjawaban. Namun jawaban Sunan Kudus bahwa Sunan Prawoto mati karena karma,pernyataan sunan ini membuat Ratu Kalinyamat kecewa. Ratu Kalinyamat bersama suaminya pulang ke Jepara. Di tengah jalan mereka diserbu anak buah Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos, sedangkan suaminya, yang bernama Pangeran Hadari, terbunuh. Arya Penangsang kemudian mengirim empat orang utusan untuk membunuh Hadiwijaya , menantu Raden Trenggana yang menjadi Adipati Pajang, namun ke empat utusan itu dapat dikalahkan Hadiwijaya dan dipulangkan secara hormat bahkan di beri hadiah pakaian Prajurit oleh Hadiwijaya.
Kemudian Hadiwijaya ganti mendatangi Arya Penangsang untuk mengembalikan keris Kyai Setan Kober. Keduanya lalu terlibat pertengkaran dan didamaikan Sunan Kudus. pada kesempatan itu sunan kudus memberikan tuah rajah yang sedianya disiapkan untuk tempat duduk Hadiwijaya, akan tetapi atas nasihat dari salah satu punggawanya adipati Pajang Hadiwijaya tidak menempati nya yang lalu diduduki oleh Arya Penangsang, padahal sebelumnya telah di wanti-wanti oleh sunan kudus agar tidak menempati tempat yang telah di beri Tuah rajah Kalacakra itu.
Setelah Hadiwijaya pulang Sunan Kudus menyuruh Arya Penangsang melakukan puasa 40 hari untuk menghilangkan Tuah Rajah Kalacakra. Dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Adipati Pajang Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat bertapa. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya agar segera membunuh Arya Penangsang, dirinya yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Hadiwijaya menang.
Hadiwijaya segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena merasa dirinya hanya sebagai mantu keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Mataram. Kedua kakak angkat Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftar sayembara itu.demikian juga putra kandung ki ageng pemanahan yang bernama Sutawijaya ikut pula mendaftar dalam sayembara. Oleh karenanya Hadiwijaya mengerahkan pasukan Pajang dan memberikan Tombak Kyai Plered, untuk membantu Ki Ageng Pemanahan dan putra kandung nya, yaitu Sutawijaya untuk mengalahkan Sultan Demak 5 Arya penangsang .
Ketika pasukan Pajang datang menyerang Kotaraja Jipang, saat itu P. Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan adik Arya Penangsang ( Arya Mataram), Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.
Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Sore. dalam perang itu perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian kesaktian yang dimiliki oleh Arya Penangsang membuatnya tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang.
Arya Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong sehingga menyebabkan kematiannya. Dalam pertempuran itu Ki Matahun, patih Jipang tewas pula, sedangkan Arya Mataram berhasil meloloskan diri.
Dampak budaya
Ada yang berpendapat bahwa untaian bunga melati dalam keris pengantin pria jawa diibaratkan sebagai laki-laki harus sabar dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Akan tetapi bagi masyarakat di Kabupaten Blora maupun Kabupaten Bojonegoro berpendapat lain. Untaian bunga melati pada keris pengantin pria Jawa diibaratkan sebagai lambang kegagahan Arya Penangsang. Meskipun telah terburai isi perutnya, namun Arya Penangsang tetap masih mampu tegap berdiri hingga titik darah penghabisan. Dari perlambang itu, diharapkan sang pengantin laki-laki kelak bisa menjaga kemakmuran, kebahagiaan, keutuhan dan kehormatan rumah tangga meski dalam keadaan kritis seperti apa pun. Seperti halnya Arya Penangsang yang tetap memegang prinsip hingga ajal tiba.

Referensi       :

Saturday, January 18, 2020

Sejarah Samin Blora, Perlawanan tanpa Kekerasan




Ajaran Samin atau lebih dikenal dengan Samin dengan tokoh sentralnya yakni Samin Soerosentiko, disebut juga sedulur sikep. Samin Soerosentiko sendiri lahir dengan nama kecil Raden Kohar pada tahun 1859 di desa Ploso-Kediren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Surowijaya yang lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Di tahun itu kekuasaan atas wilayah Indonesia (Hindia Belanda saat itu) adalah di bawah kekuasaan Belanda. Lahir di bawah kekuasaan penjajah, yang sudah menjadi rahasia umum bahwa adanya ketidak adilan dalam kehidupan, menjadi salah satu latar belakang pergerakan ajaran Samin.
Lahir dengan nama Kohar, dank arena ia merupakan kalangan bangsawan maka ia berhak mengenakan nama Raden Kohar. Akan tetapi pada suatu ketika ia mengganti namanya menjadi Samin yang lebih kerakyatan. Ganti nama itu diikuti sifat bijak yang memberi pencerahan bagi orang di sekitarnya. Sejak 1890, sebagai Samin, dia mulai menyiarkan ajarannya di desa Klopodhuwur. Banyak orang dari desa tersebut terpengaruh, kemudian juga desa sebelahnya, Tapelan. Ajaran yang awalnya dianggap biasa oleh pemerintahan kolonial Belanda dibiarkan saja, karena dianggap hanya ajaran kebatinan atau agama baru biasa. Pada Januari 1903 Residen melaporkan bahwa ada sejumlah 772 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 Desa Blora bagian selatan dan sekitarnya yang giat mengembangkan ajaran samin. Barulah di tahun 1905, pemerintah kolonial mulai pusing. Pengikut-pengikut Samin itu tak sudi lagi bayar pajak. Jumlah pengikutnya pun terus bertambah. Tahun 1907, jumlah pengikut Samin diperkirakan lebih dari 5.000 orang.
Maret 1907, muncul isu adanya pemberontakan. Sehingga para pengikut Samin yang hadir dalam acara syukuran di desa Kedhung, Tuban ditangkapi. 8 November 1907 Samin Soerosentiko diangkat oleh para pengikutnya sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Aparat Kolonial pribumi mulai khawatir dan bertindak. Kemudian selang 40 hari Samin Soerosentiko ditangkap oleh Raden Pranolo Asisten Residen wedana Randublatung pada 18 Desember 1907 bertepaan dengan tanggal 12 Selo 1325 Tahun Jawa. Selanjutnya, Samin dikurung di bekas tobong pembaran batu gamping. Kemudian dia dibawa ke Rembang untuk diperiksa. Setelah pemeriksaan Samin Soerosentiko diputuskan bersalah dan beserta delapan pengikutnya diberi hukuman pengasingan. Samin Soerosentiko dan sejumlah pengikutnya dibuang ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Ini dilakukan pemerintahan Kolonial Belanda untuk menjauhkan Samin dengan para pengikutnya. Samin Soerosentiko berada di pembuangan hingga meninggal pada 1914.
Pengkaji sejarah dan budaya kabupaten Blora, Eko Arifiyanto menjuluki Samin Surosentiko sebagai Orang Rantai dari Blora. Hal ini karena Samin Surosentiko menjalani pengasingan dengan kaki yang dibelenggu rantai.
1908, setelah penangkapan Samin Soerosentiko sebagai tokoh sentral dalam ajaran Samin tidak membuat padam nafas pergerakan Samin. Wongsorejo, salah satu pengikur Samin mengajarkan ajaran Samin di Madiun. Dengan salah satu ajarannya yakni penolakan membayar pajak. Karena membahayakan kepentingan pemerintahan Belanda dengan mengajarkan pelawanan tidak membayar pajak Wongsorejo dengan beberapa pengikutnya dibuang keluar Jawa.
1911, Surohidin, menantu Samin Soerosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati. Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan.
Enam tahun setelah penangkapan Wongsorejo, tahun 1914 secara massal masyarakat Madiun menolak membayar pajak kepada pemerintah kolonial. Peristiwa pembangkangan massal ini menginspirasi gerakan serupa di beberapa daerah diantaranya, Kajen dan Larangan (Kabupaten Pati), Tapelan (Kabupaten Bojonegoro) dan tempat-tempat lain. Tahun 1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial Belanda menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati Pamong Desa dan Polisi. Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan Polisi. Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak.
Pemerintah kolonial pun tidak tinggal diam menghadapi pembangkangan ini. Sejumlah pengikut Samin Surosentiko di Madiun, Pati, Grobogan dan Kudus ditangkap. Penangkapan ini tidak membuat pengikut Samin Surosentiko berkecil hati.Para pengikut Samin Surosentiko meyakini bahwa Ratu Adil akan segera tiba. Di tahun yang sama yakni 1914 Samin meninggal di pembuangannya.
Ratu Adil akan segera tiba bila tanah yang digadai pemerintah kolonial Belanda dikembalikan kepada orang Jawa.“ Kalimat tersebut diyakini oleh para pengikut Samin Surosentiko dan menjadi motivasi untuk mengusir penjajah asing dari tanah Jawa.
Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh.
Menurut Paulus, Samin menjadi bahan cemoohan yang bersifat politis oleh pemerintah. Samin dicitrakan sebagai hal buruk. Pengikut-pengikutnya, yang disebut orang Samin, terus hidup dan tak suka dipaksa oleh pihak manapun. Samin dan pengikutnya, juga sebagian orang yang bukan pengikutnya, adalah orang-orang yang berkemauan keras dan tak suka dipaksa. Sejak lama, pengikut ajaran Samin kebanyakan adalah masyarakat petani. Sawah dan ladang mereka tentu akan mereka jaga jika diganggu oleh siapa pun.
Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun '70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar di beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah. Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep, karena kata Samin bagi mereka mengandung makna negatif. Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon.
Perlawanan Samin adalah pemberontakan di masanya, beban pemerintahan. Tetapi menjadi simbol perlawanan di masa sekarang. Bahkan sekarang telah dianggap sebagai ikon Kabupaten Blora di bidang pariwisata dengan adanya gedung Samin di Blora.
Pada September 2019 lalu Kabupaten Blora menerima penghargaan Warisan Budaya Tak Benda(WBTB) Kebudayaan Samin dari Kemendikbud RI.
Sumber referensi     :

Wednesday, January 1, 2020

Barong Blora, Kesenian sarat Sejarah Perjuangan




Kesenian barong atau lebih dikenal dengan kesenian barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah Kabupaten Blora dan berkembang luas di kabupaten Blora dan sekitarnya. Seni barong merupakan salah satu kesenian rakyat yang popular dikalangan masyarakat Blora, terutamaa masyarakat pedesaan. Seni barong tercemin dari sifat-sifat kerakyatan masyarakat Blora, seperti sifat : spontanitas, kekeluagaan, kesederhanaan, keras, dan kebenaran yang dilandasi kebenaran.
Barongan dalam kesenian barongan adalah suatu pelengkapan yang dibuat menyerupai Singo Barong atau Singa besar sebagai penguasa hutan angker dan sangat buas. Adapun tokoh Singo barong dalam cerita barongan disebut juga GEMBONG AMIJOYO yang berarti harimau besar yang berkuasa. Kesenian Barongan berbentuk tarian kelompok, yang menirukan keperkasaan gerak seekor Singa Raksasa. Peranan Singo Barong secara totalitas didalam penyajian merupakan tokoh yang sangat dominan, disamping ada beberapa tokoh yang tidak dapat dipisahkan yaitu : Bujangganong / Pujonggo Anom Joko Lodro / Gendruwo Pasukan berkuda / reog Noyontoko Untub.
Selain tokoh tersebut diatas pementasan kesenian barongan juga dilengkapi beberapa perlengkapan yang berfungsi sebagai instrumen musik antara lain : Kendang,Gedhuk, Bonang, Saron, Demung dan Kempul. Seiring dengan perkembangan jaman ada beberapa penambahan instrumen modern yaitu berupa Drum, Terompet, Kendang besar dan Keyboards. Adakalanya dalam beberapa pementasan sering dipadukan dengan kesenian campur sari.
Kesenian barongan bersumber dari hikayat Panji, yaitu suatu cerita yang diawali dari iring-iringan prajurit berkuda mengawal Raden Panji Asmarabangun / Pujonggo Anom dan Singo Barong.
Adapun secara singkat dapat diceritakan sebagai berikut : Prabu Klana Sawandana dari Kabupaten Bantarangin jatuh cinta kepada Dewi Sekartaji putri dari Raja Kediri, maka diperintahlah Patih Bujangganong / Pujonggo Anom untuk meminangnya. Keberangkatannya disertai 144 prajurit berkuda yang dipimpin oleh empat orang perwira diantaranya : Kuda Larean, Kuda Panagar, Kuda Panyisih dan Kuda sangsangan. Sampai di hutan Wengkar rombongan Prajurit Bantarangin dihadang oleh Singo Barong sebagai penjelmaan dari Adipati Gembong Amijoyo yang ditugasi menjaga keamanan di perbatasan. Terjadilah perselisihan yang memuncak menjadi peperangan yang sengit. Semua Prajurit dari Bantarangin dapat ditaklukkan oleh Singo Barong, akan tetapi keempat perwiranya dapat lolos dan melapor kepada Sang Adipati Klana Sawandana.
Pada saat itu juga ada dua orang Puno Kawan Raden Panji Asmara Bangun dari Jenggala bernama Lurah Noyontoko dan Untub juga mempunyai tujuan yang sama yaitu diutus R. Panji untuk melamar Dewi Sekar Taji. Namun setelah sampai dihutan Wengker, Noyontoko dan Untub mendapatkan rintangan dari Singo Barong yang melarang keduanya utuk melanjutkan perjalanan, namun keduanya saling ngotot sehingga terjadilah peperangan. Namun Noyontoko dan Untub merasa kewalahan sehingga mendatangkan saudara sepeguruannya yaitu Joko Lodro dari Kedung Srengenge. Akhirnya Singo Barong dapat ditaklukkan dan dibunuh. Akan tetapi Singo Barong memiliki kesaktian. Meskipun sudah mati asal disumbari ia dapat hidup kembali. Peristiwa ini kemudian dilaporkan ke R. Panji, kemudian berangkatlah R. Panji dengan rasa marah ingin menghadapi Singo Barong. Pada saat yang hampir bersamaan Adipati Klana Sawendono juga menerima laporan dari Bujangganong (Pujang Anom) yang dikalahkan oleh Singo Barong. Dengan rasa amarah Adipati Klana Sawendada mencabut pusaka andalannya, yaitu berupa Pecut Samandiman dan berangkat menuju hutan Wengker untuk membunuh Singo Barong. Setelah sampai di Hutan Wengker dan ketemu dengan Singo Barong, maka tak terhindarkan pertempuran yang sengit antara Adipati Klana Sawendana melawan Singo Barong.
Dengan senjata andalannya Adipati Klana Sawendana dapat menaklukkan Singo Barong dengan senjata andalannya yang berupa Pecut Samandiman. Singo Barong kena Pecut Samandiman menjadi lumpuh tak berdaya. Akan tetapi berkat kesaktian Adipati Klana Sawendana kekuatan Singo Barong dapat dipulihkan kembali, dengan syarat Singo Barong mau mengantarkan ke Kediri untuk melamar Dewi Sekartaji. Setelah sampai di alun-alun Kediri pasukan tersebut bertemu dengan rombongan Raden Panji yang juga bermaksud untuk meminang Dewi Sekartaji. Perselisihanpun tak terhindarkan, akhirnya terjadilah perang tanding antara Raden Panji dengan Adipati Klana Sawendano, yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Panji.
Adipati Klana Sawendana berhasil dibunuh sedangkan Singo Barong yang bermaksud membela Adipati Klana Sawendana dikutuk oleh Raden Panji dan tidak dapat berubah wujud lagi menjadi manusia ( Gembong Amijoyo ) lagi. Akhrnya Singo Barong Takhluk dan mengabdikan diri kepada Raden Panji, termasuk prajurit berkuda dan Bujangganong dari Kerajaan Bantarangin. Kemudian rombongan yang dipimpin Raden Panji melanjutkan perjalanan guna melamar Dewi Sekartaji. Suasana arak-arakan yang dipimpin oleh Singo Barong dan Bujangganong inilah yang menjadi latar belakang keberadaan kesenian Barongan.
Menurut beberapa sumber, tokoh Singo Barong (singa raksasa) yang merupakan tokoh utama dalam kesenian barongan, merupakan visualisasi dari semangat para pejuang itu. Boleh jadi para pejuang terinspirasi oleh keberanian dan ideologi Gembong Amijoyo yang merupakan figur asli dari jelmaan Singo Barong. Lirik selanjutnya dari pantun kilat tersebut, barongan moto beling merupakan gambaran sepasang mata Singo Barong yang dibuat dari kelereng berukuran besar dan berbahan dasar kaca.
Parikan ini ingin menyatakan bahwa semangat perjuangan anak bangsa tak mengenal kompromi dalam melawan penjajah Belanda. Hal ini semakin jelas apabila kita mendengar lirik selanjutnya ndhas pethak ditempiling. Menggambarkan semangat para seniman yang waktu itu ingin sekali menempeleng kepala para pejabat Belanda yang kebanyakan berkepala botak.
Barongan Blora sendiri dibawa dan dikembangkan oleh Samin Surosentiko setelah tinggal di Sumoroto, Ponorogo , tempat leluhurnya dimana nama Reyog di sumoroto saat itu lebih populer dikenal Barongan. dari segi bentuk saat itu juga kepala Reyog dengan mulut terbuka dengan mahkota merak yang besar, namun saat di Blora sangat sulit untuk mendapatkan bulu merak, sehingga di ganti dengan bahan ijuk yang di bentuk seperti dadak merak dan di selipkan beberapa bulu merak saja di ijuk sebagai rambut barongan blora.
Samin Surosentiko ke Sumoroto atas perintah ayahnya untuk menemui saudaranya disaat namanya masih Raden Kohar. selama di Sumoroto, Surosentiko berganti nama yang sebelumnya raden kohar atas saran saudaranya, serta mendapatkan berbagai pengetahuan seperti bertani, kebathinan, bela diri, barongan serta pemahaman masyarakat Sumoroto yang anti Belanda, terutama kalangan warok. Barongan dari Sumoroto dibawa ke Blora sebagai media menarik simpati rakyat Blora untuk hidup lebih mandiri dan menolak kesewenangan yang merugikan rakyat, kini pola pikir tersebut dikenal dengan ajaran Samin.
Dalam perkembangannya, propreti Barongan Blora selalu mengikuti propreti Barongan Ponorogo, dari busana, gerakan, dan sebagaian musik. seperti barongan yang di perankan oleh dua orang, kini hanya di lakukan satu orang saja serta kepala barongan yang botak di tengah. Pemerintah Blora mendeklarasikan Barongan Blora sabagai kesenian Khas Blora, meskipun di kota Jawa Tengah lainnya sendiri masih banyak terdapat group Barongan yang diperankan oleh dua orang, alias Reyog Tradisonal.
Pertunjukan atau pargelaran kesenian barong biasanya digunakan di acara dalam memperingati hari kemerdekaan bukan hanya itu saja tetapi bisa untuk mengisi acara seperti khitan, pernikahan, dan acara-acara lainnya.
Adapun pagelaran atau pementasan  kesenian barong yaitu yang pertama pembukaan ditampilkan sebuah tarian tradisional yang biasanya itu tarian gambyong.
Tari gambyong merupakan salah satu tari adat yang berasal dari daerah sekitar Surakarta, Jawa Tengah. Tari ini awal mulanya hanyalah sebuah tarian jalanan atau tarian rakyat dan merupakan tari kreasi baru dari perkembangan Tari Tayub. Tarian ini tidak ada kaitannya dengan kesenian barong tetapi dalam pembukaan ini merupakaan sebuah hiburan untuk mencintai kesenian-kesenian yang berada di Indonesia salah satunya tari-tarian tradisional yang punah atau yang telah digantikan oleh tarian dari barat yang sekarang lebih popular dikalangan remaja maupun anak-anak.
Pertunjukan selanjutnya yaitu aksi-aksi dari warok, warok merupakan pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam kesenian. Warok tua adalah tokoh pengayom, sedangkan warok muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu, bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok.
Pakaian warok yaitu dengan memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, muka dengan warna hitam maupun merah melambangkan keberanian dan kekuatan gaib. Warok memiliki kesaktian dan gemblakan menurut sesepuh warok. Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunandan perlindungan tanpa pamrih.”Warok itu berasal dari kata wawarah” artinya, orang yang mampu memberi petunjuk.
Kemudian dilanjutkan oleh barong itu sendiri sekarang bukan hanya satu barong kadang 5 sampai 6 barong tampil  secara bersamaan  sehingga menimbulkan seseuatu meriah. Suatu gerakan barong biasanya membentuk formasi sehingga tidak hanya begitu tampil saja.
Dan sebagai puncak atau penutupan yaitu sebuah sulap yang dimainkan oleh salah satu pemain dengan berbagai atraksi biasanya hal tersebut bertujuan sebagai penutupan yang berkesan.
Jika dilihat dari cerita sejarah, Barong Blora memiliki kedekatan sejarah dengan saudaranya di Ponorogo. Juga terkhusus di Blora sarat sejarah karena sebagai salah satu media dalam melawan penjajah. Seperti yang kita tahu masyarakat samin di Blora juga dilatarbelakangi oleh perlawanan terhadap kolonial.
gambar-gambar lainnya-

 Barong Blora
 Barong Blora
 bujangganong
 tari gambyong
warok
sumber gambar:

Wednesday, December 25, 2019

Waduk greneng, waduk sejak zaman kolonial yang mempesona





Waduk greneng adalah waduk yang terletak di dukuh greneng, desa Tunjungan, Tunjungan, Blora. Kurang lebih 12 km dari pusat kota Blora kea rah barat laut, jalur paling umum yang dilalui adalah lewat Jalan Gatot Subroto Blora, dan dari perempatan Maguan berbelok ke utara menuju desa Tunjungan. Waduk greneng mempunyai pesona pemandangan yang indah dengan hamparan kurang lebih 45 Ha berlatar belakang hutan jati KPH Mantingan. Waduk Greneng merupakan waduk terbesar kedua di Blora.
Waduk yang katanya dibangun pada tahun 1919 pada masa kolonial Belanda ini memiliki fungsi utama sebagai irigasi pertanian. Dengan manfaat irigasi luas lahan mencapai 251 Ha, waduk greneng menjadi sangat penting untuk pertanian bagi area persawahan daerah waduk.
Selain sebagai waduk irigasi, pemandangannya yang indah juga dapat dijadikan tempat wisata. Apalagi sekarang dengan pengembangan daerah wisata Cemoro pitu dan kebun buah Greneng. Juga dengan adanya jukung dan speedboat yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk menyebrang ke cemoro pitu ataupun berkeliling waduk. Selain wisata menikmati indahnya alam, pengunjung juga dapat menyalurkan hobi memancingnya di sini.
Memang sayangnya waduk ini belum terkoneksi dengan kendaraan umum. Jadi untuk mencapai kawasan waduk Greneng harus dengan kendaraan pribadi, baik kendaraan roda dua ataupun roda empat. Walaupun begitu perjalanan akan menyenangkan karena di sekitar waduk ada hamparan sawah yang luas dan asri sehingga dapat menghilangkan kejenuhan-kejenuhan dalam diri. Untuk mencapai waduk Greneng juga tidak susah, sekarang dengan adanya google maps anda dapat mencapai waduk greneng dengan lebih mudah. Selain itu jika ingin bertanya kepada warga Blora yang ramah juga pasti akan diberi tahu dengan senyuman. Ayo dolan Blora.
Referensi :
1.        Blorakab.go.id
2.        Bloranews.com


Wednesday, December 11, 2019

Mengenal Lebih Dekat Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Besar Asli Blora



Tentu kita tahu trailer film Bumi Manusia yang dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan yang trailernya per 13 Juli 2019 telah ditonton lebih dari 4,2 juta kali. Bumi Manusia? Terdengar asing sebelumnya atau sudah mulai familiar? Merupakan buku pertama dari rangkaian Tetralogi Buru dan sampai dengan tahun 2005, buku ini telah diterbitkan dalam 33 bahasa. Merupakan buku karangan Pramoedya Ananta Toer.
Pramoedya Ananta Mastoer nama asli dari Pramoedya Ananta Toer. Salah satu pengarang paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pram sapaan akrabnya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan lebih dari 42 bahasa asing. Pramoedya dilahirkan di Blora, Jawa tengah 6 Februari 1925. Sebagai anak sulung dari 9 bersaudara, walaupun sebenarnya Pram adalah anak kedua namun karena anak pertama meninggal dalam kandungan makan Pram dianggap sebagai anak sulung. Ayahnya Pak Mastoer adalah seorang guru dan ibunya adalah seorang penjual nasi. Nama keluarganya Mastoer dirasa terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan ‘Mas’ dari nama tersebut dan hanya menggunakan “Toer” sebagai nama keluarga. Pram menempuh pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatlan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Pram menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1948. Pada 1950-an Pram tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan saat kembali ke Indonesia Pram menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisanna berubah pada masa ini, seperti dalam karyanya Korupsi , fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara Pram dengan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan Pram ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan dan akhirnya di pulau Buru kawasan Indonesia Timur. Di semacam penjara konsentrasi terhadap kasus-kasus politik Komunisme pada masa itu.
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan (13 Oktober 1965 – Juli 1969, Juli 1969 – 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 – 12 November 1979 di Pulau Buru, November – 21 Desember 1979 di Magelang). Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun masih dapat menyusun serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, 4 seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, bercermin pada pengalaman RM Tirto Adhi Soerjo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Prijaji dan media resmi sebagai sarana advokasi, Medan Prijaji yang diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara lisan kepada rekan-rekan di Unit III Wanayasa, Buru, sebelum dia mendapatkan kesempatan untuk menuliskan kisahnya di mana naskah-naskahnya diselundupkan lewat tamu-tamu yang berkunjung ke Buru.
Pram akhirnya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapat surat pembebasan tidak bersalah secara hokum serta tidak terlobat dalam Gerakan 30 September, akan tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia merampungkan penulisan Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995). Edisi lengkap Nyanyi Sunyi Seorang Bisu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, diterbitkan di Indonesia oleh Hasta Mitra bekerja sama dengan Yayasan Lontar pada 1999 dengan judul The Mute's Soliloquy: A Memoir.
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufiq Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya pada tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama. Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis. Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggung jawaban Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran. Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada, sejak dipindahkan dari Unit III ke Markas Komando atau Mako. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup lebih baik dalam penahanan itu. Pramoedya kerap kali menjadi 'bintang' ketika ada tamu dari luar negeri yang berkunjung, karena reputasinya di Internasional sangat dihargai.
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, berakhir tinggal di sana dan tidak kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menceritakan pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong GedeBogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjaljantung, dan diabetes. Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya. Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00. Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram. Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor SitumorangErry Riyana HardjapamekasNurul Arifin dan suami, Usman HamidPutu WijayaGoenawan MohamadGus SolahRatna SarumpaetBudiman Sudjatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI PerjuanganDewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.
Sumber :

Artikel Terbaru